Sword Art Online Jilid 12 Bab 8 - Katedral Pusat [Bahasa Indonesia]

Always be sure to click Like Joker Kahn Facebook Fan Page to find out latest update about Live Action Movies, Tokusatsu, Anime and Light Novel fans of genre Action that we found
Bab 8
Katedral Pusat
Bulan ke-5 Kalender Dunia Manusia 380
Part 1
Sungguh perjalanan yang sangat jauh―
Langit-langit yang tinggi, pilar marmer berjejer, dan lantai, menggunakan batu mosaik yang indah.
Bahkan saat napasnya tertahan setelah mengamati kemegahan interior Katedral Pusat Gereja Axiom untuk pertama kalinya, Eugeo hanya bisa berpikir seperti itu.
Sampai dua tahun yang lalu, ia percaya kalau hidupnya hanya akan terus menebang pohon secara sia-sia. Melewati hari-harinya dengan mengenang teman masa kecilnya yang berambut pirang yang telah lama menghlang, tanpa menikah atau memiliki anak, sebelum memberikan tugas suci kepada penebang kayu berikutnya, tinggal jauh di dalam hutan seperti itu, dan menunggu nyawanya berakhir tanpa satu pun orang yang menyadarinya suatu hari nanti.
Namun, pemuda berambut hitam yang tiba-tiba muncul dengan paksa menerobos dunia kecil yang membatasi Eugeo. Ia berhasil menebang penghalang mutlak yang menyegel jalan menuju ibukota, Gigas Cedar, dengan metode yang bahkan generasi penebang kayu tidak bisa bayangkan, sebagai titik penting yang mendekati Eugeo. Untuk terus hidup di desa kecil sambil mengenang Alice. Atau untuk memulai perjalanan mengembalikan Alice―
Bohong kalua dia bilang dia tidak bingung. Eugeo pertama kali memikirkan keluarganya saat Gasupht, sang kepala desa, mengatakan bahwa ia bisa memilih tugas suci berikutnya di festival malam desa.
Sampai saat itu, Eugeo selalu menyerahkan semua upah yang telah ia peroleh dari memotong Gigas Cedar kepada keluarganya. Pekerjaan mereka adalah menanam gandum, tapi ladang mereka dibatasi, terutama dalam beberapa tahun terakhir di mana pendapatan langka karena panen yang buruk. Orang tua dan kakaknya mungkin tidak mengatakannya langsung, tapi mereka mungkin mengandalkan sebagian pendapatan stabil yang Eugeo peroleh setiap bulan.
Pendapatan sebagai penebang kayu akan hilang ketika Gigas Cedar ditebang. Namun, ia mungkin bisa menerima perlakuan istimewa dalam memperoleh area di lahan yang baru dibersihkan, membudidayakan lahan di selatan jika ia memilih untuk menanam gandum sebagai tugas suci seperti ayah dan kakaknya. Sadar akan kondisi keluarganya, perasaannya tercampur antara antisipasi dan kecemasan, di sudut keceriaan para pendduduk desa, Eugeo kebingungan.
Tapi itu hanya sesaat. Eugeo terpaksa harus memilih antara reuni dengan gadis dari masa kanak-kanaknya atau hidup dengan keluarganya, dan ia membuat keputusan. Bahwa ia akan meninggalkan desa dan menjadi pendekar pedang.
Walau dia memilih menjadi pendekar pedang sebagai tugas suci, ia masih bisa menerima gaji dari desa jika ia tinggal di Rulid dan menjadi salah satu penjaga. Namun, meninggalkan desa, berarti berdiri sendiri di atas dua kakinya, jauh dari sisi keluarganya. Uang yang Eugeo berikan pada keluarganya dan ladang baru yang bisa mereka terima semua terhapus. Alasan mengapa ia pergi terburu-buru, pada hari setelah festival, karena dia tidak tahan melihat wajah orang tua dan kakaknya, yang menahan kekecewaan dan ketidakpuasan mereka.
Ada kemungkinan di mana dia bisa memilih untuk memulai hidup baru dengan keluarganya bahkan setelah berangkat dengan Kirito. Setelah berpartisipasi dalam turnamen pedang di kota Zakkaria, Eugeo menang bersama Kirito, yang membuatnya mendapatkan hak untuk masuk ke korps penjaga, dan ia melakukannya. Menahan pelatihan keras selama setengah tahun, mereka menerima surat rekomendasi untuk mengikuti ujian Master Sword Academy Kerajaan Centoria Utara dari komandan korps penjaga, tapi ada undangan dari komandan bersama dengan itu. Jabatan mereka akan naik tahun depan jika mereka tetap bertahan di korps penjaga, dengan tingkat skill yang mereka berdua miliki, menjadi komandan di masa depan bukanlah mimpi. Bagaimana nyamannya gaya hidup yang keluarganya akan dapatkan jika dia mendapatkan pendapatan stabil di Zakkaria dan mengirimkan sebagian kembali ke rumah dengan mengirimkannya melalui jasa kurir?
Tapi tetap saja, Eugeo dengan sopan menolak undangan Komandan dan memintanya untuk menulis surat rekomendasi seperti yang direncanakan.
Selagi berjalan ke ibukota, tujuannya, atau setelah mendaftar di Master Sword Academy juga, Eugeo terus membuat alasan di sudut pikirannya sepanjang waktu. Misalnya, jika dia terpilih sebagai pendekar pedang perwakilan akademi, meraih kemenangan di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan, dan dilantik sebagai seorang integrity knight, ia bisa membuat orang tua dan kakaknya hidup dalam kemewahan yang tak terbayangkan. Atau jika ia kembali ke desa, mengenakan baju besi perak dan menunggangi naga terbang bersama Alice, orang tuanya pasti memiliki kebanggaan lebih pada dirinya daripada orang lain.
Namun, dengan menghunuskan pedang kepada pendekar pedang elit-dalam-pelatihan, Raios Antinous dan Humbert Zizek, dua malam yang lalu, Eugeo mengkhianati keluarganya untuk ketiga kalinya. Pada akhirnya, ia membuang masa depan untuk mendapatkan posisi sebagai seorang bangsawan kelas pertama jika keadaan memungkinkan ... tidak, itu jauh dari fakta; ia bahkan membuang statusnya sebagai rakyat biasa dan memilih jalan menjadi seorang kriminal besar yang melanggar tabu.
Saat itu, Eugeo sadar akan keadaan itu di suatu tempat dalam pikirannya, bahkan ketika ia merasakan kemarahan yang luar biasa. Jika dia membunuh Raios dan Humbert, dia akan kehilangan semuanya. Eugeo menghunus pedangnya meski menyadari hal itu. Dia melakukannya untuk membantu Tieze dan Ronye yang akan diperkosa di depan matanya; ia melakukannya untuk mempertahankan keadilan yang ia percayai; tapi itu belum semuanya. Dia ingin melepaskan kemarahan di dalam hatinya; ia ingin membunuh Raios dan Humbert; ia juga pasti memiliki keinginan-keinginan jahat itu.
Sungguh, benar-benar perjalanan yang sangat jauh―
Dia benar-benar telah berubah dari salah satu dua belas pendekar pedang elit-dalam-pelatihan di akademi, menjadi musuh dari Gereja Axiom.
Melarikan diri dari pengejaran integrity knight yang menggunakan panah, Eugeo diberitahu tentang keberadaan buku yang mencatat seluruh sejarah Dunia Manusia dari seorang gadis muda yang sebelumnya adalah pendeta tertinggi Gereja Axiom di Ruang Perpustakaan Besar misterius yang ia masuki, dan membacanya seolah ia melahapnya. Karena ia ingin tahu, tidak peduli apa. Apakah ada manusia yang menghunuskan pedang pada gereja, bertarung dengan integrity knight, dan melarikan diri jauh ke suatu tempat setelah keinginan mereka tercapai, dalam sejarah panjang Dunia Manusia.
Sayangnya, ia tidak bisa menemukan satu pun. Pengaruh gereja menyebar jauh dan luas, menutupi dunia, semua penduduk akan sujud di hadapan otoritas integrity knight, dan tidak peduli seberapa serius pertengkaran―itu akan mudah ditundukkan, walau itu adalah sengketa perbatasan antar sesama kerajaan. Tidak ada satu catatan pun dari seseorang yang menghunuskan pedang pada gereja dan bertarung melawan integrity knight dalam semua buku sejarah, tidak peduli seberapa keras ia memeriksanya.
... Dengan kata lain, Akulah orang yang paling berdosa dalam tiga ratus delapan puluh tahun lebih sejak Dunia Manusia diciptakan oleh dewi penciptaan, Stacia.
Saat Eugeo berpikir begitu saat menutup sampul belakang buku, hawa dingin yang menyerupai es menyerbunya. Jika Kirito tidak kembali pada waktu yang tepat dan memanggilnya, dia mungkin akan terus meringkuk di sana.
Eugeo harus meyakinkan dirinya berkali-kali, bahkan saat ia mendengarkan kisah misterius pendeta tertinggi sebelumnya bersama partnernya. Dia tidak bisa lagi kembali ke cara hidup sebelumnya setelah ia memilih untuk meninggalkan keluarganya, membunuh pria lain, dan melawan gereja. Dia tidak punya jalan selain bergerak maju, tidak peduli seberapa banyak noda darah di tangannya, tidak peduli seberapa banyak dosa mencemarkan jiwanya. Demi satu tujuan yang telah ia tanamkan.
Untuk memulihkan «fragmen hati» yang dicuri oleh pendeta tertinggi saat ini, mengembalikan Integrity Knight Alice Synthesis Thirty menjadi Alice Schuberg, dan memulangkannya ke Desa Rulid tercinta.
Namun, keinginannya untuk hidup bersama dengan gadis itu tak bisa lagi tercapai. Satu-satunya tempat yang dia pikir bisa dia tuju sekarang, dengan banyak kejahatan yang telah dilakukannya, berada di luar pegunungan ujung, tanah kegelapan yang mengerikan. Tapi itu tidak apa-apa. Tak ada lagi yang dapat ia harapkan, jika Alice bisa hidup bahagia seperti sebelumnya.
Saat Eugeo mencamkan tekad bisu itu, ia menatap punggung Kirito, yang berjalan di depannya.
... Kalau aku bilang aku akan pergi ke tanah kegelapan, apa dia akan pergi bersamaku ...?
Setelah menanyakan itu tanpa bersuara, Eugeo memaksa dirinya untuk berhenti membayangkan jawaban partnernya. Berpikir tentang bagaimana masa depan yang mungkin menuggunya, bersama teman berambut hitamnya itu, yang merupakan satu-satunya orang di dunia ini yang berada di posisi yang sama dengannya, sungguh luar biasa menakutkan.

Seperti yang dikatakan Kardinal, koridor panjang di depan pintu tadi tiba-tiba memendek.
Dia segera berjalan, selagi tenggelam dalam pikirannya; tidak butuh waktu lama sebelum mencapai ruang persegi panjang yang luas.
Bagian tengah dinding kanan memiliki tangga, yang sungguh luas, yang terus naik dan turun. Langit-langit setinggi delapan mel, karena itu, tampaknya ada lebih dari dua puluh langkah sampai ke tengah tangga.
Dan dinding kirinya ada pintu ganda besar, yang dikelilingi oleh patung binatang bersayap.
Kirito yang berjalan di depan dengan cepat membalikkan telapak tangan kanannya dan memegang dinding, jadi Eugeo mengikuti dan menekan punggungnya pada pilar batu yang dapat ia jangkau. Sambil menahan napas, ia memeriksa ruangan luas dan suram ini.
Jika kata-kata pendeta tertinggi sebelumnya benar, pintu besar di sebelah kiri seharusnya adalah ruang peralatan yang mereka cari. Meski tempat ini penting, ruangan yang luas ini sepi seperti kuburan, tanpa satupun orang. Bahkan cahaya Solus yang bersinar dari tangga besar di sebelah kanan tampak tenggelam dalam warna abu-abu dingin.
"... Tidak ada seorang pun, huh ..."
Setelah berbisik pelan ke arah punggung Kirito, partnernya mengangguk, dengan sedikit kekecewaan juga.
"Ini tempat peralatan, jadi kupikir akan ada satu atau dua penjaga, tapi ... kukira itu mungkin karena Gereja Axiom tidak memiliki siapapun yang berniat masuk dan mencuri di tempat ini ..."
"Tapi mereka tahu tentang niat kita, kan? Meski begitu mereka agak tenang."
"Mereka pasti memiliki alasan untuk itu. Mereka tidak perlu menghabiskan waktu untuk mencari-cari orang seperti kita. Dengan kata lain, waktu berikutnya kita bertemu integrity knight, mungkin akan ada jumlah yang cukup besar dari mereka atau yang cukup kuat. Ayo, mari kita manfaatkan kesempatan ini sebanyak yang kita bisa."
Mengakhiri kata-katanya dengan hmph, mendengus, Kirito dengan gesit berlari keluar dari penutup dinding. Eugeo mengikuti setelahnya, melintasi ruangan luas dan sepi.
Pintu ke ruang peralatan memiliki ukiran timbul dari dua dewi, Solus dan Terarria, dan tidak ada lubang kunci, tapi mereka memiliki intensitas yang sedemikian rupa hingga membuat orang-orang kafir berpikir mereka tidak akan mungkin bisa membukanya, tidak peduli seberapa banyak mereka menarik atau mendorongnya. Namun, ketika Kirito menempelkan telinganya sesaat pada pintu dan menaruh tangannya di atas pegangan, menempatkan beberapa tenaga, pintu terbuka begitu mudahnya. Engsel pintu sama sekali tidak mengeluarkan suara deritan.
Udara dingin nan padat yang bernilai beberapa ratus tahun keheningan, bocor dari celah hitam sekitar lima cen yang terbuka dan membuat Eugeo menggigil, tapi partnernya menyelinap tanpa ragu-ragu, jadi ia buru-buru mengikutinya di belakang. Ketika pintu di belakang tertutup, sekeliling ditelan oleh kegelapan total.
"Sistem panggil ..."
Ritual sihir yang secara alami meninggalkan mulutnya tumpang tindih secara sempurna dengan suara Kirito, sehingga dia tersenyum meski situasinya seperti ini. Sambil melanjutkan dengan 'hasilkan unsur cahaya', Eugeo mengingat saat ia pergi dengan Kirito ke gua utara untuk mencari Selka. Sudah cukup sulit untuk menggunakan sihir suci dasar pada saat itu dan dia tidak bisa membuat lebih selain tongkat yang menyala lemah pada ujungnya―
Elemen bercahaya putih murni muncul di atas telapak tangan kanannya dan menyingkirkan kegelapan, meniup suasana hati Eugeo yang bernostalgia.
"Uo ..."
Saat Kirito mengeluarkan suara heran di sisinya, suara gulp secara bersamaan datang dari tenggorokan Eugeo.
Ruang yang sangat besar. Ini dikatakan lemari besi, jadi dia membayangkan tempat seperti gudang peralatan Master Sword Academy, tapi ini konyol. Ini praktis lebih luas dibandingkan arena latihan besar di mana Kirito dan Uolo Levanteinn saling bertarung.
Memancar ke setiap rona ruangan, yang dikelilingi oleh dinding batu halus di keempat sisinya, pencahayaan dari elemen cahaya yang keluar dari telapak tangan Eugeo terpantul.
Secara sistematis berbaris di permukaan lantai adalah rak besi yang seukuran manusia. Ada yang berwarna hitam pekat, putih bersih, dan ada juga yang berwarna menyilaukan seperti tembaga kemerahan-merahan, perak kebiruan, dan emas kekuningan, mereka juga memiliki setiap jenis armor, mulai dari armor ringan yang terbuat dari rantai tipis dan kulit hingga armor berat, lembaran logam besar itu saling bergabung tanpa celah. Jumlah mereka tidak kurang dari lima ratus.
Dan di dindingnya tergantung, lagi-lagi, hampir setiap jenis senjata dan saling berdempetan.
Bahkan di antara pedang saja, ada yang panjang ada yang pendek, ada yang berbadan tebal, tipis, lurus, dan juga melengkung. Selain itu, ada juga berbagai macam peralatan tempur, dari kapak bermata satu dan bermata dua, tombak panjang, kapak perang, cambuk, dan tongkat, hingga busur yang membentang dari lantai sampai ke langit-langit, jumlah mereka hampir tak terhitung, dan Eugeo hanya bisa ternganga.
"... Sortiliena-senpai mungkin akan kewalahan dan pingsan jika dia datang ke sini, huh."
Kirito akhirnya memecah keheningan dengan bisikan beberapa detik kemudian.
"Ya ... yang sama juga berlaku untuk Gorgolosso-senpai, dia akan melemparkan dirinya sendiri ke pedang besar itu, dan tidak akan pernah melepaskannya jika dia melihatnya."
Bergumam kembali sambil menghela napas, Eugeo dengan keras menghembuskan napas yang menolak untuk pergi. Memeriksa lemari peralatan besar sekali lagi, ia menggelengkan kepalanya dua atau tiga kali.
"Bagaimana aku mengatakan ini ... apa gereja berpikir tentang membuat tentaranya sendiri atau sesuatu? Meski integrity knight saja seharusnya sudah cukup ..."
"Hmm ... untuk bertarung dengan tentara kegelapan ...? Tidak, bukan itu ..."
Ekspresi Kirito tiba-tiba menegang dan melanjutkan sambil melirik Eugeo.
"Ini sebaliknya. Ini bukan untuk membuat tentara ... tapi untuk melarang pembentukkannya; itulah mengapa gereja mengumpulkan peralatan di sini. Peralatan di sini mungkin semuanya kuat, di kelas instrumen suci atau semacamnya. Pendeta tertinggi, Administrator, mencegah beberapa organisasi lain selain Gereja Axiom dari mendapatkan peralatan yang kuat dan memperoleh potensi pertempuran yang tidak perlu ... "
"Eh ...? Apa itu maksudnya? Tidak mungkin ada sebuah organisasi yang akan menghancurkan Gereja Axiom, tidak peduli sekuat apa peralatan yang mereka gunakan, kan?"
"Dengan kata lain, orang yang memiliki sedikit kepercayaan pada otoritas gereja mungkin saja pendeta tertinggi sendiri."
Eugeo tidak bisa segera memahami makna kata-kata sarkastik Kirito. Namun, punggungnya ditepuk oleh rekannya sebelum dia bisa merenungkannya.
"Ayo, waktunya hampir habis. Mari bergegas dan ambil pedang kita kembali."
"Ah ... y-ya. Tapi akan jadi tugas yang menakutkan untuk mencari mereka dari semua tumpukan senjata ini ..."
Pedang Blue Rose dan pedang hitam ditutupi oleh sarung pedang yang masing-masing berwarna putih dan hitam, tapi beberapa pedang yang sama bisa terlihat di dinding.
"... Walau kita mencoba menggunakan sihir pencari elemen umbra lagi, kekuatan suci di ruangan ini telah digunakan oleh elemen cahaya sebelumnya ..."
Saat itu, ketika Eugeo mendesah sambil berpikir 'jika itu yang terjadi, kita hanya tinggal menggunakan cahaya ini saja', Kirito tanpa ragu berbicara.
"Oh, ketemu."
Mengangkat tangan kanannya, ia menunjuk sebelah kiri pintu yang mereka baru saja masuki.
"Woah ... berpikir bahwa mereka berada di tempat seperti ini."
Pedang putih dan hitam yang Kirito tunjuk tentu saja adalah pedang kesayangan mereka, tanpa ragu sedikitpun. Eugeo menatap sosok rekannya dengan takjub.
"Kirito, bagaimana kamu melakukannya bahkan tanpa menggunakan sihir suci ...?"
"Aku baru saja menyadari bahwa pedang yang baru dibawa mungkin ditempatkan di posisi yang paling dekat dengan pintu."
Meski Kirito, yang mengungkapkan teorinya, biasanya akan menunjukkan senyum bangga kekanak-kanakan pada saat seperti ini, dia sekarang menatap sungguh-sungguh pedang hitamnya sendiri untuk beberapa alasan. Tapi dia segera mengembuskan napas, mendekati dinding, dan mencengkeram sarung kulit hitam setelah mengambilnya dengan tangan kanannya.
Gerakkannya membeku sesaat, seolah ia ragu-ragu, tapi tak lama ia mengangkatnya dari logam penyangga. Setelah itu, ia mengambil Pedang Blue Rose di sisinya dengan tangan kiri dan melemparkannya. Eugeo menangkapnya dalam keadaan panik dan berat familiar terasa di pergelangan tangannya.
Meskipun dia hanya menghabiskan waktu kurang dari dua hari tanpa pedang kesayangannya, rasa kuat nostalgia dan lega yang bahkan mengejutkan Eugeo sendiri menyelimutinya dan dia dengan erat menggenggam sarungnya dengan kedua tangan.
Pedang Blue Rose selalu dekat dengannya dan membantunya berkali-kali sejak Gigas Cedar jatuh. Itu di sana ketika ia memasuki turnamen pedang di kota Zakkaria: itu ada di sana ketika ia menantang ujian untuk masuk Master Sword Academy; itu bahkan ada di sana ketika ia melanggar Indeks Taboo dan memotong lengan Humbert.
Jika Gereja Axiom telah mengumpulkan semua jenis peralatan yang kuat selama bertahun-tahun, baginya menemukan Pedang Blue Rose ini, yang terletak di gua utara, adalah keberuntungan besar―atau mungkin takdir. Sadar bahwa jalan mengambil kembali Alice bukanlah kesalahan ...
"Berhentilah bengong, cepat dan pakailah."
Tiba-tiba tersadar mendengar suara Kirito, yang dibarengi tawa, ia melihat partnernya itu sudah memasang sarung pedang kesayangannya ke gesper sabuk pedangnya. Eugeo mengikutinya sambil tersenyum malu, menepukan ujung pedangnya dan melihat sekeliling sambil merenungkan langkah berikutnya. Armor tampak elit yang berbaris di tanah memiliki papan nama yang terukir di atasnya, dengan nama-nama seperti [Senrai Armor] atau [Shinzan Kacchu], cukup utnuk membuat minatnya bangkit.
"... Apa yang harus kita lakukan, Kirito? Kita mungkin akan menemukan satu yang sesuai dengan kita di antara semua ini, ingin meminjam beberapa baju besi juga?"
"Naah, kita tidak memakai baju besi sebelumnya, kan? Sebaiknya jangan melakukan apa yang tidak biasa kau lakukan. Mari kita ambil baju-baju di sana."
Melihat di mana rekannya menunjuk dan benar, ia melihat pakaian dalam berbagai warna terletak di bagian dalam deretan baju besi. Menatap tubuhnya sendiri, ia menemukan robekkan dan compang-camping pada seragam akademi yang ia kenakan sejak dua hari yang lalu karena pertarungan melawan Knight Eldrie.
"Benar, mereka mungkin tidak akan dapat dibedakan lagi dari kain cepat atau lambat jika kita terus berjalan."
Dua unsur cahaya yang melayang di atas kepala mereka secara bertahap mulai meredup. Membuang penyesalannya karena tak bisa memakai armor, ia berlari ke tempat pakaian dan secara sembarangan mengambil kain yang tampaknya berkualitas tinggi, mencari mantel dan celana panjang yang cocok dengan tubuhnya. Berpaling satu sama lain, mereka dengan cepat berganti pakaian.
Meletakkan tangannya ke dalam lengan baju biru laut yang sangat mirip dengan seragam akademi, Eugeo terkejut dengan kehalusan teksturnya. Ketika ia kembali setelah berganti pakaian, ia melihat Kirito memiliki pikiran yang sama, dan mengusap kain hitam dengan kedua tangan.
"... Pakaian ini memiliki sedikit cerita mereka sendiri. Akan lebih baik jika mereka bisa menghentikan serangan integrity knight entah bagaimana caranya, semoga."
"Kau berharap terlalu banyak."
Tertawa sedikit pada kata-kata sembrono partnernya, ekspresi Eugeo menegang.
"Nah ... bisakah kita pergi?"


"Ya ... kukira begitu."
Memberi komentar singkat, mereka kembali ke pintu masuk.
Situasi berjalan begitu lancar hingga bisa dianggap mengecewakan, tapi itu tidak akan tetap seperti itu. Mari kita lanjutkan sambil meningkatkan kewaspadaan―mereka saling mengangguk diam-diam sambil menyadari fakta tersebut. Eugeo memegang gagang kanan pintu dan Kirito yang kiri.
Menariknya secara perlahan bersama-sama, kesenjangan dengan hati-hati melebar―
Do-ka-ka-ka! Suara datang hampir bersamaan dengan panah baja yang tak terhitung jumlahnya yang menembus permukaan pintu tebal.
"Uwah!"
"Owah!?"
Pintu terlempar karena dampak yang keras; Eugeo dan Kirito jatuh ke tanah, punggung duluan.
Seorang knight familiar dalam baju merah berdiri di dasar tangga, jauh di seberang ruangan persegi panjang yang membentang dari lubang, mulai menaruh panah baru ke busur panjang yang hampir sama dengan tingginya. Selanjutnya, keempat panah itu meluncur bersamaan. Tidak salah lagi bahwa ini adalah integrity knight yang naik naga terbang di kebun mawar.
Jarak di antara kami kira-kira tiga puluh mel, huh? Pedang pasti tak akan sampai, tapi itu mungkin jarak yang sempurna untuk seorang ahli pemanah. Dan kami mungkin tidak akan punya waktu untuk menarik pedang di pinggang kami dalam postur ini, apalagi bangun dan berlindung di balik dinding.
Itu sebabnya aku mengatakan kita harus mengenakan baju besi! Akan lebih baik jika kita memiliki perisai!
Eugeo berteriak demikian dalam hatinya dan knight mulai menarik tali busur hampir bersamaan.
Dengan situasi seperti ini, aku hanya bisa menyerah untuk menghindar tanpa terluka dan menggunakan semua yang kupunya untuk menghindari luka fatal―tidak, luka parah yang akan membuatku tidak dapat bergerak setidaknya.
Eugeo membuka matanya lebar dan menatap empat anak panah. Panah berwarna silver kusam itu tidak diarahkan pada jantung mereka, tapi kaki mereka. Seperti yang Kardinal sebutkan, perintah yang diberikan pada para knight ini cenderung bukan untuk membunuh, tapi untuk menangkap. Tapi dengan keadaan saat ini, ditangkap pada dasarnya sama dengan dibunuh.
Integrity knight menarik tali busur sampai batas.
Keheningan sesaat muncul, di mana segala sesuatu tampak berhenti bergerak―
Suara tegang Kirito keluar menembus lubang di depan.
"Elemen Burst!"
Eugeo tidak bisa langsung menangkap apa yang partnernya katakan karena terlalu cepat. Dia mengerti maknanya hanya setelah fenomena itu terjadi.
Cahaya putih brilian tiba-tiba muncul di pandangannya.
Sebuah cahaya yang kuat, seolah Solus telah turun. Itu adalah sihir sederhana yang hanya membebaskan elemen cahaya, salah satu «elemen» yang berfungsi sebagai dasar dari sihir suci elemental, tapi Kirito tidak membaca ritual sihir untuk menghasilkan elemen. Di mana dia―...
Tidak, di sana ada elemen. Ada elemen cahaya, yang melayang di udara, yang dikeluarkan oleh mereka berdua untuk menerangi lemari peralatan puluhan menit yang lalu, kan? Elemen yang diabaikan akan berada dalam kondisi siaga untuk setiap ritual sihir percontohan. Kirito memberi perintah pada elemen ynag mengambang di atas kepalanya untuk melepaskan dan memproduksi cahaya besar tersebut.
―Ada juga saat ketika dia melemparkan fragmen kaca yang ia ambil selama pertarungan dengan Eldrie; aku benar-benar bukan lawan yang sebanding dengannya karena ia memanfaatkan barang-barang yang tergeletak di sekitarnya seperti biasa ...
Selagi memikirkan hal-hal seperti itu, Eugeo mengumpulkan kekuatan ke kakinya dan melompat ke arah kanan dengan sekuat tenaga.
Dia segera mendengar suara melengking anak panah baja yang menancap ke lantai batu di mana dia berada setengah detik yang lalu. Akan lebih baik jika berlindung di belakang dinding dulu, setelah menghindari serangan langsung―atau begitu yang dia pikir, ketika teriakkan rendah Kirito terdengar di telinganya.
"Maju!"
Memahami tujuan partnernya dalam sekejap, Eugeo menendang tanah sekali lagi. Tidak miring ke arah kanan, tapi lurus ke depan.
Ledakan elemen cahaya itu berada di atas, di belakang keduanya, yang berarti Kirito dan Eugeo tidak menghadap sumber cahaya secara langsung, tapi mata integrity knight pasti melihatnya secara langsung. Tidak ada keraguan lagi kalau penglihatannya akan menghilang selama beberapa detik lagi.
Kemampuan ofensif langsung elemen cahaya rendah bila dibandingkan dengan elemen termal dan kriogenik, dan sebagian besar digunakan dalam sihir penyembuhan, tapi jika orang membuat senjata yang memancarkan cahaya kuat, itu memiliki kemampuan luar biasa untuk menyilaukan mata dan rasa kekaguman. Oleh karena itu, sangat bijaksana untuk mempersiapkan sebuah elemen dari tipe yang berlawanan, elemen umbra, untuk menetralisir ritual sihir saat lawan menghasilkan elemen cahaya selama pertempuran, ini bahkan diajarkan dalam pelajaran akademi.
Tidak mungkin seorang integrity knight, yang berdiri di puncak semua pendekar pedang dan pengguna sihir, tidak mendengar pengetahuan umum seperti itu, yang berarti memanggil elemen cahaya baru dan membuatnya buta tidak akan bekerja untuk kedua kalinya. Ini adalah kesempatan pertama dan terakhir untuk mempersempit jarak dari musuh yang menggunakan panah.
Kecepatan analisis situasi dan pemilihan tindakan juga merupakan titik penting dari Aincrad-style, atau seperti itulah yang Kirito katakan pada Eugeo berkali-kali. Cara berpikir yang sama sekali berbeda dari High Norkia-style yang menekankan kehalusan dan keberanian dalam gerakannya. Dan kata menarik untuk menenangkan pikiran seseorang, bahkan di tengah-tengah pertempuran, adalah «stay cool».
Sebuah langkah di belakang partnernya menyusul penggunaan elemen cahaya, Eugeo dengan panik mengejar jejak di depan. Dia menarik Pedang Blue Rose keluar dari pinggang kirinya sambil berlari.
Setelah menyelesaikan tugasnya, elemen cahaya segera menghilang setelah itu, dan dunia kembali ke warna dan bentuk aslinya. Keduanya telah berlari ke aula yang luas dari lemari peralatan. Menegaskan dengan kedua matanya yang terbuka lebar, bahwa integrity knight masih berdiri di sekitar dua puluh langkah tangga ke depan.
Seperti yang diperkirakan, sepertinya penglihatan knight masih terganggu. Tubuhnya terhuyung-huyung dengan tangan kanannya memegang pelindung wajah berwarna perunggu itu.
Sungguh serangan yang beruntung karena integrity knight di depan mata mereka tidak memakai pedang di pinggangnya seperti Eldrie. Dia sungguh percaya diri, membawa tidak lebih dari sebuah busur ketika bertarung dalam ruangan. Dia pasti yakin kalau dia bisa menembak kaki kami sebelum kami bisa mendekat.
Pikiran Eugeo tenang, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan api kecil kemarahan, yang dengan pelan bergoyang di sudut kesadarannya.
―Integrity knight, kau sama seperti Raios dan Humbert. Kamu angkuh, sombong, dan kamu percaya kalau dirimulah yang selalu benar. Kamu yakin bahwa kamu, inkarnasi keadilan, sama sekali tidak akan kalah.
―Tapi itu hanya kesombonganmu sendiri. Tunggu saja, aku akan ... membuktikan padamu sekarang juga!!
Didorong oleh emosi yang agak asing, Eugeo menyerang ke arah tangga. Itu setelah ia melakukan dua langkah pertama, saat kaki kanannya mau melakukan langkah ketiga.
Knight yang berdiri lebih dari sepuluh langkah ke depan, menjauhkan tangan kanannya dari pelindung wajah, memutarnya ke arah belakang, dan menarik keluar anak panah baja. Semuanya, dikeluarkan pada waktu yang sama.
Sekelompok panah yang ada di tangan kanannya setidaknya berjumlah tiga puluh tidak peduli bagaimana orang melihatnya.
Tanpa memberi cukup waktu untuk menebak rencananya, knight menarik seluruh panah pada tali busur secara horizontal dengan tangan kirinya.
"Ap ..."
Menghentikan kakinya di langkah ketiga, Eugeo menelan ludah. Mustahil satu tali busur yang ramping mampu menembakkan tiga puluh anak panah sekaligus.
Sebuah suara logam berderit terdengar di telinganya. Sesuatu yang dingin mengalir di punggungnya saat menyadari itu adalah panah baja yang mengarah pada mereka.
Tampaknya Kirito, yang berhenti di sebelah kanan, telah menduga niat knight juga. Itu bisa menjadi gertakan yang dibuat dalam keadaan putus asa, atau bisa saja―
Suara berderit semakin keras terdengar; busur itu dengan berat ditarik ke belakang.
"―Lompat ke kiri!"
Kirito menjerit.
Binn! Udara terdengar, dan segera diikuti dengan suara derik saat tali busur pecah di bawah tekanan.
Tapi semua panah baja yang ditembakkan mengarah dalam pola radial, menuju mereka sebagai badai perak yang mematikan.
Eugeo menendang tangga dengan sekuat tenaga hingga ia berpikir kaki kanannya patah, melempar tubuhnya ke arah kiri. Dia meletakkan Pedang Blue Rose di tengah tubuhnya, melindunginya.
Mereka berdua pasti akan penuh dengan lubang jika knight tidak memiliki masalah dengan penglihatannya.
Satu panah mengenai Pedang Blue Rose dan memantul dengan suara melengking. Satu yang berkelok-kelok melewati manset kanan celana Eugeo, satu membuat goresan di sisi kirinya, dan satu menyerempet pipi kirinya, memutuskan beberapa helai rambut.
Dengan keras terjatuh ke tanah, bahu duluan, ketakutan membuat Eugeo menggertakan giginya saat ia menatap tubuhnya sendiri. Setelah mengkonfirmasi tak adanya luka parah, dia memalingkan wajahnya ke arah Kirito yang melompat ke arah kanan.
"Kirito! Kau baik-baik saja?"
Partner berambut hitamnya itu mengangguk ringan dengan ekspresi kaku karena teriakannya serak.
"En ... entahlah. Sepertinya itu melewati celah di antara jari-jari kakiku."
Ia melihat panah terjebak dalam ujung sepatu kiri Kirito, menembus tapak sepatunya, ketika ia melihatnya. Selagi berterima kasih pada kecepatan reaksi partnernya dan keberuntungan, Eugeo mengambil napas dalam-dalam.
"... Itu berbahaya ..."
Gumamnya sambil mendesak tubuh mati rasanya untuk berdiri.
Ketika ia memandang ke depan, integrity knight benar-benar berhenti bergerak kali ini. Sarung panah di punggungnya kosong dan tali busurnya, juga rusak dan dengan longgar menggantung. Inilah arti dari kehabisan pilihan, dengan busur patah dan anak panah yang habis. Tapi lawan adalah integrity knight, jadi kami tak boleh menurunkan penjagaan kami, belum lagi tidak ada situasi kasihan.
"... Mari kita pergi."
Partnernya berkata tenang dan Eugeo menginjakkan kaki kanannya ke tangga sekali lagi.
Tapi Kirito menginstruksikan Eugeo, dengan tangan kirinya masih mencengkeram panah yang menembus sepatunya.
"Tunggu ... knight itu membacakan sebuah ..."
"Eh."
Eugeo menajamkan telinganya dalam bingung. Selama mereka tidak pada jarak dimana mereka bisa menyerang musuh dengan satu serangan, penting untuk menghasilkan elemen penangkal ketika ia mulai membacakan sebuah sihir suci. Ia memusatkan perhatian pada suara, yang terdengar metalik, yang diucapkan dari bawah helm integrity knight. Dia membacanya agak cepat, tapi entah bagaimana ia bisa menangkapnya, mungkin karena belajar di ruang perpustakaan itu.
Namun, setiap kalimat dalam ritual itu baru bagi telinganya. Dia tidak bisa mengadopsi penangkal tanpa frase «hasilkan», yang menentukan jenis elemen.
"Sial, itu ..."
Pada saat itu, suara Kirito terdengar terengah-engah.
"Ini bukan serangan elemental. Ini «sihir kontrol penuh persenjataan»."
Sebelum kata-kata tegang itu berakhir, integrity knight meneriakkan frase akhir dengan keras.
"―Tingkatkan persenjataan!"
Dengan suara 'po', api oranye lahir di kedua ujung tali busur yang robek dan menggantung di sana. Api melahap tali busur dalam sekejap mata dan kemudian sesuatu terjadi saat mereka mencapai dua ujung busur panjang tersebut.
Sebuah kobaran api merah padam berputar-putar naik dari seluruh busur tembaga.
Sebuah semangat yang tampaknya cukup untuk menghanguskan kulit seseorang menyebar ke bawah tangga dan Eugeo secara naluriah menutup wajahnya. Integrity knight yang berdiri di bawah menaruh api yang menyembur dari busur ke sekujur tubuhnya, tampak seolah dia terbakar.
Eugeo bingung akan tindakan apa yang harus diambil, dengan perkembangan yang benar-benar tak terduga ini. Haruskah ia menyimpulkan bahwa knight tidak memiliki kemampuan ofensif bahkan setelah menggunakan sihir kontrol penuh, karena panahnya sudah habis, dan bergegas mendekatinya? Atau mungkin knight itu menghabiskan semua panahnya beberapa saat yang lalu karena mereka tidak lagi diperlukan dalam bentuk kontrol penuh?
Bertanya-tanya bagaimana partnernya melihat hal ini, ia melirik sekilas ke samping dan melihat Kirito menatap heran, bahkan dengan senyum tipis di bibirnya seperti anak kecil, tidak mundur ataupun maju menyerang.
"Ini menakjubkan ... Aku ingin tahu apa bentuk asli busur itu."
"Ini bukan waktu untuk mengaguminya."
Dia merasa seperti menepuk bahu Kirito keluar dari kebiasaan, tapi ia menahannya dan menatap knight sekali lagi. Mereka bisa menggunakan sihir kontrol penuh yang baru mereka pelajari juga, untuk melawan ritual sihir lawan, tapi lawan pasti tidak akan mengizinkan hal itu. Mereka pasti akan diserang sebelum mereka selesai membacakan ritual sihir yang panjang. Jika mereka musti menggunakannya, mereka tidak mungkin bisa menyelesaikannya tepat waktu kecuali mereka mulai membacanya bersamaan dengan lawan.
Dengan hal-hal yang berkembangkan sejauh ini, tak ada pilihan lain selain beradaptasi dengan gerakan lawan; Eugeo menyiapkan dirinya untuk skenario terburuk, tapi tampaknya integrity knight berniat untuk memberikan jeda sementara waktu, mengangkat penutup helmnya dengan tangan kanan sementara busur terbakar tetap ada di tangan kirinya.
Wajahnya tidak terlihat, cekung dalam bayangan api, tapi Eugeo melihat sebuah kilatan intens di matanya yang mengingatkannya pada panah baja. Suara yang kelar juga memiliki dengung mekanik yang membuatnya tampak tidak seperti manusia.
"Sudah dua tahun lamanya sejak aku terbungkus dalam api «Conflagrant Flame Bow» seperti ini. Jadi begitu, sepertinya kalian memang punya cukup kemampuan untuk bertarung dengan Knight Eldrie Thirty-one, kriminal. Namun, itulah yang membuat kalian semakin tak termaafkan. Tidak terlibat dalam pertarungan yang adil dan tepat antar knight, tapi menipu Thirty-one dengan sihir kegelapan menjijikkan seperti itu!"
"Si ... Sihir kegelapan, kata anda?"
Kirito berbicara dari samping, seolah dia terkejut. Eugeo juga tak bisa bernafas sesaat, lalu dengan keras menggeleng sambil berteriak.
"Bu ... bukan, kami belum pernah menggunakan sihir kegelapan atau sesuatu seperti itu! Kami hanya berbicara tentang Eldrie-san sebelum dia menjadi seorang integrity knight dan ..."
"Apa, sebelum dia menjadi seorang integrity knight!? Kami integrity knight tidak memiliki masa lalu! Kami selalu menjadi integrity knight yang mulia sejak kami dipanggil dari Dunia Surgawi!"
Kata-kata marah seperti baja itu membuat tangga bergetar keras dan menyambar napas Eugeo.
Menurut gadis itu, Kardinal, semua ingatan masa lalu integrity knight telah disegel. Dengan kata lain, knight merah di depan matanya ini, juga, hanya percaya bahwa «ia dipanggil dari Dunia Surgawi».
Sepertinya memang mungkin untuk mengalahkan integrity knight jika kenangan asli mereka, yang terhalang oleh benda yang disebut «piety module», dibangkitkan, tapi itu tidak mungkin ketika ia bahkan tidak mengetahui nama lawannya. Singkatnya, ia tidak bisa dikalahkan dengan metode yang sama seperti yang digunakan pada Eldrie.
Knight itu mengeluarkan suara gemuruh dengan nada tinggi di tengah-tengah bunga api tak berujung yang disebarkan oleh busur tersebut.
"Saya tidak akan membuat kalian berdua menjadi abu karena saya diperintahkan untuk menangkap kalian hidup-hidup, tapi persiapkan diri kalian karena lengan kalian akan dibakar oleh Conflagrant Flame Bow yang saya keluarkan! Coba semua yang kalian inginkan, untuk melihat apakah kedua pedang jelek itu mampu menahan api keyakinan ini dan mendekati saya!"
Knight menempatkan tangan kanannya di sekitar tempat panah ditembakkan. Bahkan sebelum memberikan waktu untuk membayangkan jika jari tangannnya bergerak, seperti mencengkeram sesuatu, itu berarti―
Api besar keluar di depan busur dan berubah menjadi panah dalam sekejap. Punggung Eugeo menjadi kaku karena merasakan kekuatan yang tak masuk akal yang terkandung dalam panah api yang berkilau dengan cemerlang.
"Sepertinya baik merusak tali busur atau kehabisan panah bukan masalah baginya."
Kirito mengeluarkan erangan bosan di sisinya, jadi ia mengumpulkan kekuatan ke rahangnya yang tampak seperti akan bergetar dan dengan cepat menjawab.
"Ada rencana?"
"Dia tidak bisa menembak berturut-turut, itu dugaanku. Aku akan menghentikan serangan pertamanya entah bagaimana, jadi kamu pergi untuk mendekatinya."
"Dugaan, hei ..."
―Dengan kata lain, itu berarti semuanya akan berakhir jika panah api bisa ditembak berturut-turut. Namun, walau itu hanya satu tembakan, itu sudah cukup untuk membunuh kita dalam satu serangan, kan? Keraguan akan bagaimana Kirito bertahan terhadap serangan seperti itu bermunculan, namun Eugeo mengangkat bahunya dan mengangguk.
"―Aku mengerti."
Kirito mungkin akan menghentikannya jika dia bilang dia bisa. Ini jauh lebih realistis jika dibandingkan dengan kegilaannya menebang Gigas Cedar ketika ia mengatakan ia akan menebangnya.
Mungkin menyadari keduanya, kembali ke posisi berdiri dengan menyiapkan pedang masing-masing, seperti menyiapkan diri mereka untuk yang terburuk, integrity knight mulai membuat senar tak terlihat dengan udara.
Panas yang membelai pipi Eugeo terasa semakin kuat. Api yang memancar dari busur, yang bernama Conflagrant Flame Bow, sudah mencapai langit-langit dan membakar marmer hitam.
Kirito bergerak tanpa peringatan.
Tanpa teriakan perang, atau tendangan yang kuat dari tanah, ia maju seperti daun dari pohon yang hanyut oleh arus yang cepat. Terlambat sepersekian detik, Eugeo mengikuti di belakang dalam pergolakan.
Cahaya biru samar bersinar di partnernya yang dengan longgar mencengkeram tangan sambil berlari menaiki tangga, tapi Eugeo masih bisa melihatnya. Dia mungkin membuat mereka secara rahasia selagi knight berbicara, tidak salah lagi kalau itu adalah cahaya yang dipancarkan oleh elemen kriogenik.
Knight akhirnya menarik busur sampai batas ketika mereka mendekati titik tengah dari dua puluh langkah tangga.
Sebuah ritual sihir dengan cepat menyembur keluar dari mulut Kirito pada saat yang sama.
"Elemen Bentuk, bentuk perisai! Keluarkan!"
Jumlah elemen yang berbaris dan menembak dari tangan kirinya, yang dengan tajam terdorong keluar, adalah jumlah maksimum dalam satu tangan, lima. Titik cahaya biru berturut-turut berubah menjadi besar, membentuk perisai bulat, mulai dari bagian depan, dan menciptakan penghalang tebal antara Kirito dan integrity knight.
Suara ganas keluar dari mulut knight untuk ketiga kalinya ketika ia melihat itu.
"Jangan membuat saya tertawa! ―Hancurkan mereka!"
Api yang terkumpul di panah itu―tidak, akan lebih akurat untuk disebut tombak sekarang, meluncur dengan dampak, membuatnya telihat sepert napas api naga.
Tombak api beradu dengan perisai es yang Kirito buat setelah terbang sesaat.
Perisai pertama hancur dalam sekejap, fragmennya juga segera berubah menjadi uap.
Yang kedua dan ketiga juga dihancurkan sebelum suara pecah mencapai telinganya.
Perisai keempat memiliki inti, di mana panah tertahan cukup lama, tapi seperti yang diduga, itu tidak cukup dan hancur. Melihat melalui perisai terakhir yang tersisa, tombak api yang mendekati mata dan hidungnya membuat pandangannya memerah.
Tapi tetap saja, Eugeo tidak mengendurkan langkahnya dan terus berlari menaiki tangga. Dia tidak bisa meninggalkan partner, yang tepat di depan matanya, maju dengan kejam sendirian.
Eugeo menggertakkan giginya dan menangkap pemandangan tombak api yang bertabrakan dengan perisai kelima di depan, yang akhirnya kehilangan daya dorongannya, terlepas dari betapa sedikit pengurangannya. Percikan cahaya dengan keras terlempar ke udara ketika itu tidak mampu menembus penghalang yang berasal dari elemen atribut.
"―!?"
Mata Eugeo terbuka lebar pada saat itu. Sepertinya tombak di belakang dinding es semi-transparan berubah bentuk untuk sesaat. Bentuk, dengan paruh terbuka lebar dan sayap yang menyebar, praktis sama dengan burung pemangsa ...
Tapi bahkan tanpa memberikan Eugeo kesempatan untuk berkedip, retakan tak terhitung muncul di perisai akhir dan perisai hancur berkeping-keping.
Gelombang panas yang membuatnya sulit bernapas datang. Tombak api, tidak, burung api yang menembus setiap halangan membuat serangan biadab saat itu membungkus Kirito dalam apinya juga.
"Uooooh!"
Saat itulah teriakan semangat akhirnya keluar dari mulut Kirito. Dia dengan tajam mendorong pedang hitam di tangan kanannya ke depan.
Dia tidak akan mencoba menebas burung raksasa itu, kan, Eugeo bertanya-tanya. Namun.
Pedang Kirito yang terulur lurus ke depan menelusuri busur yang tak terbayangkan. Itu berputar seperti kincir angin, bergerak secepat kilat dengan kelima jari-jari yang bersinar berfungsi sebagai poros.
Tapi kecepatannya luar biasa. Entah bagaimana tepatnya jari-jari itu bergerak, pedang berputar dengan momentum yang tak bisa diikuti mata, seakan perisai hitam semi-transparan telah muncul di sana.
Kepala burung api menyambar perisai keenam.


Dowaa! Suara menggelegar itu mungkin lolongan marah burung raksasa―
Kobaran api mematikan yang menghancurkan lima dinding es hancur menjadi lebih dari seribu bagian oleh pedang berputar, berhamburan secara radial. Tapi beberapa di antara mereka yang menyerang tubuh Kirito, membuat ledakan kecil satu demi satu.
Melihat tubuh partnernya terlempar ke udara seolah ditolak, Eugeo berteriak.
"Kirito―!"
Bahkan saat ia ditelan oleh bunga api tak berujung, Kirito berteriak kembali dari udara.
"Jangan berhenti, Eugeo!"
Mengibaskan keraguan sesaatnya, Eugeo melotot ke depan. Kirito tidak akan pernah berhenti dan membiarkan kesempatan melarikan-diri-sekali-dalam-seumur-hidup dalam situasi ini. Dia telah mencapai apa yang dia katakan. Jadi dia harus memenuhi bagiannya juga.
Melewati partnernya, yang jatuh di sisi kanan, Eugeo meloncat menaiki tangga yang tersisa.
Memotong sisa-sisa api yang melayang di udara dalam satu tebasan, tempat di mana ksatria berdiri hampir tepat berada di depannya.
Itu pasti melampaui perkiraan integrity knight juga, karena serangan itu, yang mengambil semua kekuatannya selama sihir kontrol penuh persenjataan, dihancurkan tanpa menimbulkan cedera. Wajahnya masih belum bisa dilihat dari jarak ini, tapi ia merasakan sedikit rasa terkejut dari dalam helm. Tidak ada lagi waktu untuk menarik busur dan menembak lagi. Selama dia tidak bersenjata pedang, dengan kemungkinan jarak tertutup,
―Ini kekalahanmu!
Eugeo mengacungkan Pedang Blue Rose tinggi-tinggi sambil meneriakkan itu dalam diam.
"Jangan remehkan saya, bajingan!"
Knight itu berteriak seolah dia mendengar pikiran Eugeo.
Rasa terkejut lenyap dalam sekejap dan semangat pertempuran besar menyelimuti armor berat berwarna tembaga itu. Lengan kiri yang memegang busur terbakar diangkat tinggi, ke atas kepala, dan api yang mengerikan berkumpul di tinjunya sekali lagi.
"Doaah!"
Bersama teriakan yang menggetarkan udara, tinju kiri knight menerjang keluar dalam garis lurus.
―Apa!?
Ia sudah masuk ke postur tebasan, tapi pikiran itu melintas kedalam pikirannya dalam sekejap.
Biasanya berpikir tentang hal itu, baik jangkauan dan kekuatan akan lebih tinggi dari sisinya, ketika membandingkan pedang dengan tinju. Tapi lawan berdiri di posisi yang menguntungkan. Apa Pedang Blue Rose yang relatif ramping dapat menahan tinju yang dikeluarkan oleh integrity knight yang tidak hanya tinggi, tapi juga memiliki keuntungan tiga langkah di depan? Haruskah ia menghindar di sini dan menyerang lagi setelah mendaki ke puncak?
Tidak―
Kirito, seorang knight dari Aincrad-style yang juga guru Eugeo dan teman dekatnya, pernah menyebutkan hal ini.
―Di dunia ini, apa yang penting adalah untuk memasukkan sesuatu ke pedangmu.
―Kamu harus menjadi orang yang menemukan apa yang harus kamu masukkan ke dalam pedang.
Hal itu sama bagi orang yang membimbing Eugeo, Gorgolosso-senpai, orang yang membimbing Kirito, Sortiliena-senpai, dan bahkan bagi bangsawan yang angkuh dan tidak terhormat, Raios dan Humbert; mereka memiliki sesuatu yang memberkahi pedang mereka dengan kekuatan. Tapi Eugeo secara pribadi merasa dia masih mencari hal itu. Latihan sehari-harinya lebih banyak dari orang lain dan ia mengerti berbagai secret move, tapi ia belum menemukan sesuatu untuk dimasukkan ke dalam pedangnya sendiri. Itu mungkin sesuatu yang mustahil ia temukan untuk selama-lamanya, karena ia orang yang tidak dilahirkan sebagai pendekar pedang.
Tapi tetap saja. Setidaknya, ia tidak bisa menyerah pada kekuatan integrity knight ini dan menghunus pedangnya kembali saat ini. Bagaimanapun, waktu baginya untuk hanya berlatih pedang sudah berakhir. Eugeo memiliki tujuan yang tak tergoyahkan sekarang. Untuk mendapatkan kembali Alice, yang berubah menjadi seorang integrity knight setelah ingatannya dicuri.
――Alice.
Ya, hanya itu yang penting. Dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya melihat teman masa kecilnya dibawa pergi oleh knight pada hari musim panas delapan tahun yang lalu; kali ini, ia pasti akan menyelamatkannya. Kemahiran dalam ilmu pedang, pengetahuannya dalam sihir suci, dilatih hanya untuk itu.
―Tolong, pinjamkan kekuatanmu. Aku masih belum berpengalaman dan mungkin tidak cocok untuk menjadi master pedang terkenal seperti dirimu ... Tapi aku hanya bisa maju sekarang!
Selagi berkata di dalam hatinya, Eugeo dengan tegas membungkukkan seluruh tubuhnya setelah mengambil sudut dengan Pedang Blue Rose berada di atas.
Sebuah cahaya biru terang menyelimuti pedang yang agak transparan. Secret move Aincrad-style, «Vertical».
"O ... oohh!"
Dipandu oleh niat yang tajam, pedang menerjang maju. Suara sengit angin, yang unik untuk secret move, bergema dari pedang saat itu melintas di udara dan beradu dengan tinju kiri api integrity knight.
Gelombang kejut cahaya biru dan merah berpadu menjadi satu dalam lingkaran, merobek karpet merah yang terletak di atas tangga dan kain yang tergantung di dinding. Tinju dan pedang tetap tak bergerak di udara, tetap bergabung bersama.
Creak, creak; gauntlet lapis baja dan pedang beradu satu sama lain. Eugeo mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyelesaikan secret move, tapi lengan knight tidak bergerak sedikitpun, seolah itu adalah batu. Namun, lawan tampaknya tidak memiliki banyak keuntungan juga. Suara rintihan rendah keluar dari bagian dalam helm saat ia memindahkan seluruh berat badannya ke dalam tinjunya.
Ini buntu, tapi ini hanya berlangsung selama beberapa detik belaka. Api yang dilepaskan dari Conflagrant Flame Bow masih berada di tinju knight dan mulai menyelimuti Pedang Blue Rose juga. Cahaya secret move yang menutupi pedang berkedip-kedip seolah tak tahan panas. Jika «Vertikal» terputus di sini, bisa dipastikan bahwa pedang akan hancur dalam sekejap dan dia akan terkena serangan telak.
"Gu ... uh, oo ....!"
Eugeo mengerahkan semua kekuatan fisik dan mentalnya untuk mengayunkan pedang ke bawah. Namun, api terus membesar dan pedang mulai berubah menjadi merah-panas.
Dia tidak memperhatikan itu sampai sekarang, tetapi Pedang Blue Rose memiliki atribut elemen es menurut «memori pedang» yang ia lihat di Ruang Perpustakaan Besar. Karena itu, pedang ini akan lemah terhadap api, elemen lawannya, dan meneruskan situasi ini terlalu lama akan membuat Nyawanya berada dalam bahaya.
Tapi pada saat yang sama, seharusnya mungkin untuk meniadakan api musuh dengan elemen pedang.
―Kau marah pada badai salju paling dingin di pegunungan ujung sejak penciptaan dunia ini.
―Jangan berani kau kalah pada api kecil seperti ini!
Mungkin karena menanggapi teriakan Eugeo―
Sebuah rasa dingin tiba-tiba datang, tidak hanya menyerang tangan kanannya, yang memegang pegangan, tapi tangan kiri yang mendukung pegangan juga. Ini pasti bukan halusinasi. Buktinya, miniatur mawar yang terukir pada pendang tertutup es putih murni. Embun beku berubah menjadi sulur tipis, dengan cepat merangkak naik, dan menghapus api.
Fenomena tidak berakhir di sana. Sulur es putih murni membentang keluar bahkan ke tinju knight, hujan es turun untuk menghilangkan api yang melilit armor berwarna tembaga ...
"Nuhh ..."
Mungkin karena rasa dingin yang tiba-tiba, erangan keluar dari knight. Tidak membuang kesempatan postur lawannya yang mulai goyah, terlepas dari seberapa kecil itu, Eugeo melepaskan kekuatan yang ia simpan.
Gyaan! Suara yang memekakkan telinga keluar, pedang berayun dan memukul mundur tinju kiri knight.
Namun, ujung pedang tidak menyentuh tubuh musuh, sayangnya. Knight menyerang Eugeo, yang tanpa hasil menebas pedangnya lurus ke bawah, dan memajukan tangan kanannya tanpa jeda. Itu tidak terbakar, tapi terkena pukulan tinju kuat seperti batu itu akan melempar Eugeo ke bagian bawah tangga tanpa kesulitan sedikitpun.
Tapi.
"Aku ... eeaaah!"
Bersama teriakan menggelora itu, pedang Eugeo muncul dari sudut tajam.
Menyerang kembali dengan Pedang Blue Rose, yang lebih berat daripada setumpuk baja berukuran setara melalui kekuatan fisik semata, mustahil untuk dilakukan terlepas dari seberapa kuat dia. Hanya ada satu alasan mengapa hal itu dimungkinkan: itu adalah secret move dari gaya pedang. Skill dua serangan Aincrad-style, «Vertical Arc».
Pedang yang dengan cepat membuat jejak yang menyerupai huruf suci, 'V', mengiris dada integritas knight secara diagonal. Beberapa tetes cairan merah keluar dari luka irisan di baju besi berwarna tembaga. Ujung pedang mengenai tubuh knight―tapi itu tidak dalam.
Bahkan saat tubuh bagian atas terserang, knight menguatkan kakinya dan melompat mundur. Dia akan memiliki ruang untuk menembakkan serangan api sekali lagi jika jarak melebar di sini. Namun, ada waktu jeda setelah memakai setiap secret move.
Kirito telah mengatakan padanya untuk terus berpikir tentang bagaimana menghilangkan jeda itu ketika menggunakan secret move. Tentu saja, itu tidak masalah jika tebasan mengena, tapi akan ada bahaya fatal serangan balik jika tebasan ditangkis, dihindari, atau gagal menghentikan gerakan lawan seperti saat ini.
Jeda yang disebabkan oleh secret move tidak dapat dicegah dan tidak akan ada yang bisa dilakukan walau kita mengetahuinya. Dia bisa membuat metode untuk menghilangkan penundaan itu, seperti bergantian dengan sekutu atau melepaskan elemen angin yang telah diperisapkan untuk membuat jarak menjauh melalui tekanan angin. Tapi Kirito terlempar ke aula dan tidak ada cukup waktu untuk membaca sebuah ritual sihir juga. Tinggal satu metode lagi yang tersisa.
Eugeo mengerahkan semua kekuatan fisik dan mentalnya untuk mengontrol pergerakan Pedang Blue Rose selagi itu berada pada lintasan serangan kedua Vertikal Arc. Ia memegang pedang, yang awalnya menebas ke arah kiri, seolah itu didukung oleh bahu kirinya. Cahaya biru yang menutupi pedang tiba-tiba menghilang karena kekuatan berlebih yang menahannya, tapi itu tidak masalah karena serangan itu sendiri sudah berakhir.
Pedang Blue Rose berhenti di atas bahunya saat knight dengan kasar menendang tanah. Pijakan tangga lebar, dan ia mungkin memiliki rencana untuk menembakkan lagi tombak api saat Eugeo membatu jika ia berhasil mundur ke tepi tembok. Mustahil bagi Eugeo untuk bertahan jika dia berada dalam posisi itu.
Metode terakhir untuk menghilangkan jeda paksa.
Yaitu menghubungkan secret move baru ke secret move sebelumnya. Dengan melakukan postur aktivasi skill berikutnya di atas postur akhir dari skill yang digunakan sebelumnya, periode jeda bisa dihapus. Ini adalah secret move di antara secret move yang bahkan gurunya, Kirito, bisa lakukan hanya dalam waktu setengah detik, «menghubungkan skill»―
"......!"
Menghembuskan napas, Eugeo berharap skill dapat beraktivasi dengan segenap hatinya. Segera setelah itu, pedang bersinar terang sekali lagi. Tubuhnya melompat maju seolah ia terlempar ke sana. Pedang mengayun turun dari kiri atas saat itu mendekati integrity knight. Secret Move satu serangan, «Slant».
Akhirnya, kedua mata knight terbuka lebar di dalam helm.
Baik rasa sakit maupun ayat-ayat suci merah cerah yang berputar di mata kanannya tidak muncul kali ini, tidak seperti ketika ia mencoba untuk menebas Raios dan Humbert. Bahkan ia tidak bimbang ataupun ragu. Keinginan untuk menebas musuh membuat seluruh tubuh Eugeo bergerak.
Pedang Blue Rose dengan keras menebas lurus bahu kanan knight. Setelah suara logam dari armor yang hancur keluar, dampak kusam dan berat muncul di tangan kanan Eugeo. Hambatan yang ia rasakan pasti berasal dari otot manusia yang terpotong dan tulang manusia yang hancur.
Dengan luka dalam dari bahu ke dada, integrity knight terjatuh ke punggungnya, di tanah.
"Goahh!"
Suara tertahan keluar dari bawah helm dan segera setelah itu, sejumlah besar darah muncrat keluar dari dasar helm, tampak lebih merah daripada daripada baju besi berwarna tembaga.
Ini merupakan kedua kalinya ia memotong manusia, tapi Eugeo masih merasa napasnya berhenti sejenak. Semacam sensasi meremas mengepung perutnya saat menyadari perasaan tertahan yang tersisa di tangan kanannya, tapi ia dengan paksa menghapusnya.
Seolah setuju dengan perasaan Eugeo, Pedang Blue Rose memancarkan lagi gelombang udara dingin besar, mengubah semua darah yang menempel pada pedang menjadi embun beku dan terjatuh, dan kembali ke kondisi awal. Bahu kanan knight itu membeku putih murni ketika ia melihat, darah yang menetes dibuat menjadi es kecil.
"Guh ..."
Integrity knight mengeluarkan erangan rendah saat ia mengangkat tangan kirinya yang masih memegang busur, mencoba untuk bergerak ke arah luka. Eugeo mengumpulkan kekuatan kembali ke tangan kanannya yang memegang pedangnya setelah melihat itu. Dia harus menebas knight sekali lagi jika lawan mulai membaca sihir suci. Karena pengguna berperingkat tinggi dapat menggunakan semua energi suci di udara sekitarnya untuk memulihkan Nyawa, ia harus menimbulkan cedera parah pada mulutnya, memutus lengannya, atau mungkin, tidak ada metode lain untuk membuatnya tidak berdaya selain mengambil nyawanya.
Namun, tampaknya knight menyerah untuk melakukan penyembuhan setelah memperhatikan tinju kirinya benar-benar beku dan tidak mampu melepaskan busur yang sudah kehilangan apinya. Gerakan halus dengan ujung jari diperlukan untuk ritual sihir elemental. Menghela napas panjang sambil tersenyum licik, lengannya jatuh ke tanah suara crack.
Eugeo bingung apa yang harus dilakukan sekarang. Dingin yang dibuat oleh Pedang Blue Rose memadamkan api musuh, tapi memberikan efek menghentikan aliran darahnya juga, dengan membekukan luka. Knight itu tidak akan mampu melawan lagi, tapi ia tidak akan mati.
Tangan kiri beku itu akan mencair cepat atau lambat jika dibiarkan saja, dan ia mungkin akan mengejar jika telah pulih sepenuhnya.
Orang yang berbicara pertama kali adalah integrity knight, saat Eugeo tetap berdiri diam sambil mengatupkan giginya.
"... Anak muda ..."
Eugeo meluruskan postur tubuhnya pada suara itu, serak namun masih memiliki martabat, tapi suara selanjutnya sedikit tak terduga.
"Apa nama secret move yang pertama kali kamu gunakan ...?"
"......"
Dia bingung sesaat, tapi Eugeo menggerakkan bibirnya yang kering dan menjawab.
"... Itu ilmu pedang dari Aincrad-style, skill dua serangan, «Vertical Arc»."
"Skill ... dua serangan."
Mengulangi kata-katanya, knight terdiam sejenak, tapi segera melanjutkan pertanyaannya.
"Kamu yang di sana ... apa skill yang kamu gunakan tadi ...?"
Helm knight membuat sedikit gerakan, sehingga Eugeo segera menggeser pandangannya ke arah belakang. Ketika ia melakukannya, ia melihat Kirito, yang terbakar di berbagai tempat, perlahan menaiki tangga sambil menekan lengan kirinya dan menyeret kaki kanannya bersama.
"Kirito ... bagaimana lukamu!?"
Ketika ia menjawab dengan panik, partnernya tertawa lemah.
"Tidak apa-apa, aku lolos dari luka bakar yang parah .... Tuan Knight, apa yang saya gunakan adalah skill defensif Aincrad-style, «Spinning Shield»."
"......"
Setelah mendengar itu, knight menatap langit-langit lewat retakan dari helmnya, lalu tenggelam kembali dalam keheningan.
Suara yang keluar beberapa detik kemudian terdengar tenang, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri, daripada Eugeo dan Kirito.
"... Aku selalu berencana untuk mencari melalui Dunia Manusia dari ujung ke ujung ... dan apa pun yang berada di belakangnya ... tapi tampaknya pedang dan skill yang tidak kuketahui masih ada di dalam dunia ini ... ―Skill kalian dipenuhi dengan kekuatan dari akumulasi pelatihan sungguh-sungguh. Itu adalah kesalahanku ... untuk menuduh kalian berdua membuat Knight Eldrie menjadi sesat melalui sihir terlarang ... "
Integrity knight menggerakkan kepalanya sekali lagi, menggeser pandangannya menuju Eugeo.
"... Bisakah kamu ... menyebutkan namamu?"
Setelah bertukar pandangan dengan Kirito, Eugeo dengan singkat menyatakan namanya.
"... Pendekar Pedang Eugeo. Tidak ada nama keluarga."
"Saya Pendekar Pedang Kirito."
Setelah mengangguk seolah mencerminkan nama mereka, integrity knight mengeluarkan kata-kata yang bahkan lebih tak terduga.
"... Beberapa integrity knight sedang menunggu kalian di lantai lima puluh katedral, di « Grand Corridor of Spiritual Light». Tidak untuk menangkap kalian hidup-hidup, tapi untuk menghabisi semua Nyawa kalian dan untuk mengambil kehidupan fana kalian ... Napas berikutnya yang kalian ambil mungkin akan menjadi yang terakhir, jika kalian memilih untuk menyerang secara langsung seperti yang kalian lakukan sebelumnya."
"Hei ... hei, tuan, anda yakin tidak apa-apa bagi anda untuk mengatakan hal seperti itu?"
Kirito menyela dengan sedikit bingung. Tapi knight samar-samar menampilkan senyum lagi dan bergumam.
"Selama aku gagal memenuhi perintah Administrator-sama ... Buktiku sebagai knight, baju besi ini dan instrumen suci, harus disita dan aku akan dibekukan untuk jangka waktu tak terbatas ... ―Tolong ambil Nyawaku sebelum aku menderita aib seperti itu ... dengan tangan kalian sendiri."
"......"
Knight menambahkan, melihat Eugeo dan Kirito yang terdiam.
"Tidak perlu ragu-ragu ... bagaimanapun ... skill pedang luar biasa kalian telah melahirkan kekalahan ..."
Mendengar namanya selanjutnya cukup untuk menghentikan napas Eugeo.
"Bagiku ... Bagi integrity knight ini, Deusolbert Synthesis Seven."
Itu bukan ingatan samar-samar yang datang dari suatu tempat.
Nama itu adalah nama yang terukir dalam jiwa Eugeo, tidak memudar bahkan untuk sekejap, selama delapan tahun ini. Itu meliputi rasa penyesalan dan putus asa yang mendalam, bersama dengan kemarahan yang menyertai mereka.
"Deusol ... bert? Waktu itu ... kau ...?"
Eugeo mendengar suara itu keluar dari tenggorokannya, suara serak yang tampaknya milik orang lain.
Warna armornya berbeda dan suara integrity knight yang bergema metalik memang mirip ketika helmnya terpasang, jadi ia tidak benar-benar menyadarinya sampai sekarang, tapi tetap saja, kalau begitu, knight yang terbarung di depan matanya sekarang adalah orang yang pernah berdiri di depan mata Eugeo dan―
Beberapa jenis dampak mendorong punggung Eugeo dan ia mengambil beberapa langkah gontai ke depan.
"Eugeo ...?"
Suara bertanya Kirito nyaris tidak berhasil sampai ke telinganya. Bagian atas tubuhnya membungkuk di atas, ia menatap wajah di dalam helm dari jarak dekat.
Mungkin karena semacam ritual sihir telah dimasukkan ke dalam helm, wajah asli knight itu diselimuti oleh kegelapan bahkan setelah jarak hanya beberapa puluh cen. Namun, ia bisa dengan jelas melihat kedua mata yang mempertahankan kekuatan mereka bahkan setelah sebagian besar nyawanya, ia habisi. Mereka tampak muda dan lapuk namun dengan sudut tajam.
Menggerakkan bibir keringnya, Eugeo berbisik dengan terbata-bata.
"Kau bilang untuk menghabisi ... Nyawamu ...? Itu duel yang luar biasa, katamu ...?"
Tangan kanannya mengejang tak terkendali selagi Pedang Blue Rose yang masih ada di tangannya mulai memancarkan rasa dingin intens sekali lagi. Embun beku putih segera menyelimuti armor integrity knight, tepat di depan titik pedang.
Eugeo melepaskan kumpulan rasa panas yang tiba-tiba keluar dari dalam perutnya, yang bahkan hampir merobek tenggorokannya, dalam sekali napas.
"Mengikat! Mengikat seorang gadis yang baru berumur sebelas tahun dengan rantai ... dan menggantungnya ke naga terbang saat kau membawanya pergi ... orang seperti kau sama sekali tidak berhak untuk menggunakan kata-kata seperti ituuu――!"
Eugeo mengangkat Pedang Blue Rose tinggi-tinggi dengan pegangan terbalik.
Dia ingin menusuk mulut knight yang memuntahkan kata-kata yang benar-benar tak bisa dimaafkan sampai hancur, menghabiskan apa yang tersisa dari Nyawanya pada waktu yang sama.
Namun, rasa sakit kuat dan berdenyut menghambat tangan kanannya bergerak. Rasa sakit itu tidak ada di mata kanannya, tapi di suatu tempat jauh di dalam dadanya. Itu semacam rasa sakit yang terasa seperti seseorang dengan panik mencoba untuk menarik Eugeo kembali.
Dengan pedang masih terangkat tinggi, Eugeo, yang tubuhnya bergetar kuat, merasakan lengan kanannya―
Dengan lembut ditahan oleh tangan kiri Kirito, yang terulur dari samping kanannya.
"...... Kenapa, kau menghentikanku, Kirito ..."
Berayun di pusaran emosinya, di ambang kehilangan semua alasannya, Eugeo menanyai partnernya, orang yang paling ia percayai dalam hal apapun dan di atas semua orang di dunia ini.
Kirito menatap tajam Eugeo dengan mata yang diwarnai dengan rasa sakit yang secara pribadi ia alami, dengan perlahan-lahan menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.
"Tuan ini telah kehilangan semangat untuk bertarung. Kamu tidak boleh mengayunkan pedangmu ke lawan seperti itu ..."
"Tapi ... tapi orang ini ... orang ini adalah orang yang mengambil Alice pergi ... orang ini ..."
Bahkan saat menyanggah seperti anak manja, bagian dari pikiran Eugeo telah mengerti apa yang Kirito coba katakan.
Para integrity knight, juga, hanyalah eksistensi yang digerakkan oleh perintah dari Gereja Axiom―perintah dari pendeta tertinggi. Orang yang menculik Alice adalah gereja itu sendiri, hasil dari hukum dan ketertiban yang menyimpang di dunia ini.
Tapi di sisi lain, dorongan untuk mengabaikan sudut pandang yang benar dan membunuh knight tidak menghilang. Perasaan marah, ketidakberdayaan, dan rasa bersalah yang terus menumpuk sejak hari musim panas itu bukan dalam tingkat yang bakal menghilang hanya dengan mencari tahu tentang penciptaan di balik dunia ini setelah sekian lama.
Keranjang rotan yang berguling di kakinya. Roti dan keju yang dikotori oleh pasir. Es yang mencair oleh sinar matahari.
Rantai dengan cahaya kusam mengikat gaun biru one-piece Alice. Dan kedua kakinya, tak bergerak seolah akar tumbuh dari mereka.
... Kirito-Kirito.
Kamu mungkin akan mencoba untuk menyerang integrity knight itu dan membantu Alice saat itu. Kamu akan melakukannya walau kamu tahu kamu akan ditangkap dan dikirim untuk persidangan.
Tapi aku tidak bisa. Meski Alice satu-satunya temanku, seorang gadis yang lebih penting dari siapa pun, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali melihat. Melihat knight ini, yang terbaring di depan mataku sekarang, mengikat Alice dan membawanya pergi.
Badai emosi, memenuhi pikirannya yang terpecah-pecah, menyapu seluruh pikirannya. Lengan kanan yang ditahan oleh Kirito bergetar, mengacungkan pedang lebih tinggi.
Namun, kata-kata yang Kirito ucapkan sambil menempatkan kekuatan ke tangan kirinya mengejutkan Eugeo hingga tubuhnya membeku sejenak.
"... Aku yakin tuan ini tidak mengingatnya. Tentang waktu dia mengambil Alice dari Desa Rulid ... Bukan karena ia lupa, tapi karena ingatannya dihapus."
"Eh ...?"
Eugeo memandang helm knight yang terbaring itu dengan heran.
Integrity knight yang tidak bergeming sedikit pun, bahkan dengan Pedang Blue Rose yang mengacung ke arahnya, bergerak untuk pertama kalinya setelah menerima tatapan dari keduanya. Dengan paksa membuka kepalan kirinya, di mana es akhirnya telah mencair, ia membuang busur sambil menghamburkan fragmen es, dan melepaskan kaitan helm dengan ujung jarinya.
Helm, yang dibuat agar terlihat mengerikan, terbuka seolah terbelah, dari depan dan belakang, memperlihatkan kepala knight, dan jatuh dengan suara berdebam. Apa yang muncul adalah wajah seorang laki-laki yang sangat tekun, di sekitar usia empat puluhan.
Rambutnya, dipotong pendek, dan alis tebalnya berwarna merah pucat mirip dengan besi berkarat. Hidungnya mancung dan kerutan bibirnya lurus seperti dipotong oleh pisau sementara ketajaman matanya seperti panah baja.
Namun, mata abu-abu gelapnya mengungkapkan kegelisahan di dalam hatinya, dan bergetar sedikit. Bibir tipisnya bergerak dan suara yang mengalir keluar benar-benar berbeda dari sebelumnya, nada yang rendah dan dalam.
"... Ini ... seperti yang anak muda berambut hitam itu telah katakan. Kamu bilang aku menangkap seorang gadis muda dan membawanya pergi dengan naga terbang? Aku tidak ingat aku pernah melakukan perbuatan seperti itu."
"Ti ... tidak ingat ...? Itu terjadi hanya delapan tahun yang lalu ..."
Bergumam dalam keadaan linglung, kekuatan menghilang dari lengan kanan Eugeo tanpa ia sadari. Menyentuh dagunya seolah tenggelam dalam pikiran dengan tangan kiri, Kirito berbicara sekali lagi.
"Seperti yang kukatakan, itu dihapus ... seluruhnya, dari awal sampai akhir. Tuan ... tidak, Knight Deusolbert, anda adalah integrity knight yang melindungi wilayah utara terpencil, di Norlangarth Utara, apa saya benar?"
"... Ya. Norlangarth Utara Wilayah Terpencil Ketujuh adalah ... wilayah yang kuawasi. Ya ... itu, sampai delapan tahun yang lalu ..."
Alis knight mendekat satu sama lain, seolah mencoba untuk mengeruk sesuatu dari kedalaman ingatan terdalamnya.
"Dan aku ... dianugerahkan armor ini bersama dengan tugas menjaga Katedral Pusat ... karena prestasi besar ..."
"Apa anda ingat apa prestasi itu?"
Knight tidak bisa memberikan jawaban segera atas pertanyaan Kirito. Bibirnya terkatup erat, penglihatannya mengembara. Apa yang memecah keheningan sesaat adalah kata-kata dari Kirito sekali lagi.
"Saya akan menjawabnya untuk anda. Prestasi anda adalah membawa Integrity Knight Alice Synthesis Thirty. Pada sebuah desa kecil di ujung utara, tempat yang tak seorang pun tahu tentang ibukota pusat. Bahkan saat pendeta tertinggi, Administrator, menghargai prestasi anda mengambil Alice ke menara ini, dia menghapus semua memori tentang kejadian ini dari anda ... Alasan untuk itu telah disebutkan oleh anda sebelumnya juga."
Tanpa ada yang memerhatikan, Kirito terus berbicara, dengan nada yang lebih cepat dari Eugeo dan integrity knight, seolah-olah dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Integrity Knight tidak memiliki sejarah, mereka dipanggil dari Dunia Surgawi, bagaimanapun juga; itulah apa yang anda katakan. Itu pasti apa yang pendeta tertinggi telah ajarkan pada anda segera setelah anda bangun sebagai knight. Itulah mengapa anda tidak memiliki ingatan sebelum anda menjadi seorang integrity knight; itulah bagaimana dia membujuk anda. Tapi untuk menahan cerita itu, akan menjadi masalah tidak hanya jika integrity knight memiliki ingatan dari kehidupan manusia mereka yang tersisa, tapi juga jika mereka memiliki ingatan tentang kelahiran mereka sendiri. Akan kacau jika seorang penjahat besar yang anda bawa sendiri muncul sebagai sesama knight pada hari berikutnya, bagaimanapu juga ... Tanpa diduga, pendeta tertinggi itu memiliki kelemahan juga ... "
Memikirkan berbagai hal pada kecepatan mengerikan, Kirito mulai berjalan ke kiri dan kanan sambil melihat ke bawah.
Dengan semua keinginannya keluar ketika ia melihat kondisi partnernya, Eugeo menarik napas panjang sambil melihat laki-laki lain yang terbaring di kakinya. Ketika ia melakukannya, Integrity Knight Deusolbert juga, tampaknya tenggelam dalam pikirannya dengan ekspresi kosong.
Itu tidak seperti kemarahan dan kebencian lenyap, tetapi jika ingatannya tentang Alice benar-benar terhapus tanpa jejak, ia tidak punya pilihan selain menerimanya―mungkin.
Bahwa semua knight tidak lebih dari bidak yang dimanipulasi oleh seseorang yang menjabat sebagai pendeta tertinggi Gereja Axiom, Administrator. Bahwa musuh yang mencuri Alice darinya, mengambil ingatannya, dan membuatnya menjadi integrity knight adalah pekerjaan satu orang, Administrator.
Mungkin menyadari tatapan Eugeo yang melihat ke arah dirinya, mata Deusolbert berhenti berkeliaran. Emosi yang ada di dalam dadanya jelas tak bisa dibaca, tapi suara yang mengalir keluar dari bibirnya tergagap total, suara yang membuat orang ingin mempertanyakan apakah ia benar-benar orang yang sama dengan lawan yang tangguh yang berdiri di depan keduanya, beberapa menit yang lalu.
"Itu seharusnya tidak ... mungkin ... Bagaimana mungkin kami integrity knight menjadi penghuni Dunia Manusia seperti kalian sebelum kami ditunjuk sebagai knight ......?"
"......"
Menggantikan Eugeo yang kehilangan kata-kata, Kirito menjawab lagi.
"Darah yang mengalir dari luka anda itu adalah merah, sama seperti kami, kan? Dan waktu Knight Eldrie menjadi aneh bukan karena beberapa sihir licik yang dikenakan padanya juga. Itu karena kami mencoba untuk memanggil kembali ingatan yang dicuri darinya .... Anda seharusnya juga sama seperti Eldrie. Saya tidak tahu apakah anda memperoleh kemenangan di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan atau ditahan karena melawan Indeks Taboo, tapi ingatan terpenting anda telah diganti oleh Administrator dengan kesetiaan terhadap gereja dan dibuat menjadi seorang integrity knight. Anda mengatakan bahwa anda akan dihukum dengan dibekukan, tapi Administrator-sama mungkin akan mengutak-atik ingatan anda selama itu dan menghapus ingatan akan percakapan ini juga. Saya bahkan berani bertaruh."
Kirito menyatakan itu dengan kasar, tapi suaranya tampak terdengar sedih.
Mungkin knight merasakan itu juga, sambil menutup kelopak matanya dan diam untuk sementara waktu, tapi dia perlahan-lahan menggelengkan kepalanya sekali lagi.
"Aku tidak bisa mempercayainya. Bagaimana mungkin yang mulia, pendeta tertinggi ... melakukan sihir seperti itu pada ......"
"Tapi itulah kenyataannya. Pasti ada sesuatu yang tersisa dalam diri anda juga. Sebuah memori penting dari sebelum anda menjadi seorang knight, salah satu yang tidak dapat dibersihkan oleh ritual sihir ..."
Ketika Kirito mendekatinya dari sudut itu, Deusolbert tiba-tiba mengangkat tangan kirinya dan menatap jari kekarnya sambil bergumam pelan dalam desahan.
"Sejak aku turun ke Dunia Manusia ... Aku selalu melihat mimpi yang sama, dari waktu ke waktu ... Sebuah tangan mungil yang membangunkanku ... dan cincin perak yang dipakai pada salah satu jari mereka ... Namun ketika aku bangun ... tidak ada siapa pun ... "
Alis Deusolbert diperas bersama-sama dan dia menekan keras tangan kirinya ke dahinya. Kirito menatap tajam pada adegan itu, tapi segera bergumam pelan.
"Anda mungkin tidak bisa mengingat lebih dari itu. Ingatan anda akan orang yang memiliki tangan dan cincin itu telah dicuri oleh Administrator ..."
Terdiam sejenak, ia mengembalikan pedang hitam di tangan kanannya ke sarungnya di sebelah kiri pinggangnya dengan suara denting.
"... Anda putuskan apa yang harus anda lakukan dari sekarang. Apakah itu kembali ke sisi Administrator untuk menerima hukuman, atau menyembuhkan luka anda dan mengejar kami ... atau mungkin ..."
Memotong di sana, Kirito mengambil beberapa langkah menuju tangga yang membentang ke atas dari sisi kanan. Tetap berdiri di sana, ia memutar bahunya dan melihat mata Eugeo.
―Bukankah itu cukup?
Matanya yang hitam berkata demikian. Eugeo memalingkan matanya ke arah integrity knight, yang terbaring di tanah dengan mata terpejam, sekali lagi. Dia perlahan-lahan mengangkat Pedang Blue Rose di tangan kanannya dan memasukkan ujungnya ke sarung di sebelah kiri pinggangnya, perlahan menjatuhkannya masuk.
"... Mari kita pergi."
Mengambil tempat di samping Kirito, dia dengan ketus berbicara dan mereka mulai berjalan menuju tangga bersama.
Tidak diketahui pilihan apa yang akan diambil Integrity Knight Deusolbert Synthesis Seven, tapi setidaknya, tampaknya itu bukan pilihan untuk mengejar mereka berdua.
Part 2
Suara sepatu keduanya yang menaiki tangga marmer bergema dalam jangka waktu yang singkat.
Tanpa itu, ruangan akan ditelan keheningan, yang cukup menyakiti telinga seseorang. Pasti ada sejumlah besar pendeta dan murid mereka yang tinggal di menara raksasa Gereja Axiom, sejauh pengetahuan Eugeo, tapi dia tidak bisa merasakan kehadiran satu manusia pun, tidak peduli seberapa keras ia menajamkan telinganya atau memfokuskan matanya.
Selain itu, pemandangan yang menyambutnya di setiap lantai yang ia naiki―aula persegi dengan koridor yang membentang ke arah kiri dan kanan, pintu yang berbaris dalam interval yang identik―praktis tak ada bedanya, memberinya kesan kalau sihir ilusi telah dikenakan pada mereka tanpa mereka sadari, membuat mereka menaiki dan menuruni tangga yang sama berulang-ulang.
Dia ingin mencoba memasuki salah satu koridor dan membuka pintu terdekat untuk memastikan itu tidak terjadi, tapi Kirito terus melangkah dengan konstan di depan, jadi dia mengatakan pada dirinya untuk tidak mengganggu. Jika kata-kata Deusolbert terbukti benar, musuh yang bahkan lebih kuat akan menunggu mereka di lantai lima puluh katedral, suatu tempat yang sedikit lebih tinggi di tangga ini.
Dengan lembut menyentuh pegangan pedang kesayangannya yang bergoyang di kiri pinggangnya, saat Eugeo mencoba mengusir pikiran-pikiran asalnya, kaki Kirito tiba-tiba berhenti sebelum menginjak lantai selanjutnya.
Berbalik dengan ekspresi serius, ia berbicara dengan nada tegang,
"Hei, Eugeo ....... Lantai berapa kita sekarang ...?"
"Hei ... hei."
Setelah tersandung sedikit, Eugeo mendesah, menggeleng, dan menurunkan bahunya, semua pada waktu yang sama.
"Berikutnya lantai dua puluh sembilan. Aku pikir kalau kamu mungkin akan lupa, tapi berpikir kalau kau benar-benar tidak menghitung."
"Setiap lantai seharusnya memiliki nomor lantai, kan?"
"Itu mungkin benar, tapi kamu seharusnya mengetahuinya setelah berjalan sejauh ini!"
Berpaling dari Eugeo seolah itu bukan urusannya, Kirito menyandarkan punggungnya ke dinding dengan bunyi thump.
"Meski begitu, kita masih jauh, huh ... Kupikir kita sudah naik cukup tinggi juga ... Aku mulai lapar ..."
"... Yah, kamu tidak sendirian untuk yang satu itu."
Hampir lima jam telah berlalu sejak mereka diberikan sarapan mewah di Ruang Perpustakaan Besar Kardinal. Solus mendekati pusat langit jika dilihat melalui jendela yang panjang dan tipis, dan karena mereka telah naik dua puluh lima lantai, yang mungkin sekitar seribu langkah, apalagi mereka juga melakukan pertarungan yang intens, maka tak akan bisa dihindari kalau tubuh mereka menuntut isi ulang.
Mengangguk pada kata-kata Kirito, Eugeo memegang tangan kanannya tanpa ragu-ragu.
"Jadi, serahkan salah satu yang ada di saku celana itu."
"Eh ... tidak, ini, yah, untuk penggunaan darurat, jadi ... ―Matamu ternyata tajam, huh."
"Tidak mungkin aku tidak menyadari hal itu, kan?"
Kirito memasukkan tangannya ke dalam saku kanannya dengan tampang pasrah di wajahnya, sebelum mengambil dua manjuu keluar dan melemparkan salah satunya. Setelah menangkapnya, aroma gurih memprovokasi perutnya meski waktu telah cukup lama berlalu sejak mereka meninggalkan ruang perpustakaan.
"Ini terbakar sedikit karena serangan api pria tua itu."
"Ha-Hah ... jadi itu sebabnya. Terima kasih untuk makanannya."
Manjuu diciptakan oleh Kardinal melalui sihir suci peringkat tinggi, jadi itu awalnya adalah halaman dari buku tua, tapi Eugeo memejamkan matanya akan fakta itu dan menggigitnya. Dia sejenak menikmati rasa renyah pada kulitnya yang terbakar dan isi daging di dalamnya.
Makan siang sederhana itu selesai hanya dalam beberapa detik; Eugeo menjilat jarinya dan menarik napas pendek. Masih ada gumpalan yang mencurigakan di saku kiri Kirito, tapi ia memutuskan untuk mengabaikannya sambil berbicara kepada partnernya yang telah selesai makan.
"Itu enak. ―Jadi, apa rencana dari sekarang? Kita akan mencapai lantai lima puluh tak lama lagi jika kita berjalan selama tiga puluh menit, tapi ... apa kita akan menyerang dari depan?"
"Nn ..."
Kirito mengacak-acak rambutnya sambil meringis.
"Itu benar ... ―Kita mengetahui betapa menakutkannya seorang integrity knight, tapi menilai dari apa yang kulihat dalam pertarungan antara kamu dan orang tua itu, daripada orang itu tidak menggunakan skill berturut-turut, ia benar-benar tidak memiliki pengalaman dalam menggunakannya, kukira. Aku ingin percaya bahwa kita memiliki kesempatan untuk menang jika kita membuat pertarungan satu-satu dalam jarak dekat. Tapi beberapa dari mereka ada, belum lagi bagaimana mereka sepenuhnya telah siap dan menunggu kita, yang akan sulit untuk dilawan."
"Lalu ... mari menyerah untuk menyerang dari depan dan mencari rute lain?"
"Aku ingin tahu tentang itu. Bahkan Kardinal mengatakan bahwa tangga ini adalah satu-satunya rute dan walau kita menemukan jalan rahasia, masih ada bahaya untuk tertangkap ... Aku berharap untuk mengalahkan knight di lantai lima puluh tanpa menuju lantai lain, entah bagaimana. Jadi kita dapat menggunakan kartu truf kita, kita memiliki waktu untuk mempersiapkan ritual sihir itu, berkat peringatan yang diberikan orang tua itu pada kita."
"Jadi begitu ... «sihir kontrol penuh persenjataan» ..."
Ketika Eugeo menggumamkan itu, Kirito mengangguk dengan ekspresi yang kompleks.
"Aku khawatir tentang menggunakannya dalam pertarungan yang sebenarnya tanpa latihan, tapi membuang-buang Nyawa pedang untuk percobaan menembak di tempat seperti ini hanya akan menjadi ... Kita akan menggunakan sihir kontrol penuh bersama-sama, sebelum kita bergegas ke lantai lima puluh dan mencoba untuk mengalahkan sebanyak mungkin knight ... "
"Aah, ada sesuatu yang harus kukatakan tentang itu, Kirito."
Dengan sedikit canggung, Eugeo memotong kata-kata Kirito.
"Itu ... aku merasa sihir kontrol penuhku tidak memiliki dampak serangan langsung yang tinggi seperti skill integrity knight sebelumnya."
"Eh ... b-benarkah?"
"Kau tahu, orang yang menulis ritual sihir untukku adalah Kardinal ... yang mengatakan, orang yang memikirkan jenis skillnya adalah aku, tapi tetap saja ..."
Kirito memiringkan kepalanya saat ia berbicara kepada Eugeo, yang bergumam penuh alasan.
"Yah, coba bacalah ritual sihir untuk saat ini. Tanpa kalimat pembuka."
"Y-Ya."
Dia dengan cepat membacakan ritual sihir sebagaimana diminta, tanpa «sistem panggil». Kirito, yang mendengarkan dengan mata terpejam, menyeringai setelah Eugeo mencapai baris akhir, "Tingkatkan persenjataan".
"Jadi itu. Benar, itu tidak bisa dibilang ofensif, tapi itu cukup berguna, tergantung pada bagaimana itu digunakan. Dan tampaknya itu tidak terlalu buruk dengan sihir kontrol penuhku."
"Oh? Apa skillmu, Kirito?"
"Itu sesuatu yang harus kamu lihat."
Eugeo dengan ringan merengut pada Kirito, yang membaca baris dengan fasih. Namun, rekannya menyisir ubun-ubunnya ke atas dengan wajah tenang, menyandarkan punggungnya ke dinding sekali lagi.
"Yah, aku tidak bisa menyebutnya strategi, tapi mari kita coba. Pertama, kita bacakan sihir kontrol penuh persenjataan sebelum kita mencapai lantai lima puluh, membiarkannya siaga sebelum mengaktivasikannya. Setelah bergegas masuk dan mengkonfirmasi posisi mereka, kamu serang mereka dengan skillmu, lalu aku akan melanjutkannya. Jika semuanya berjalan dengan baik dan musuh berkumpul di tempat yang sama, kita mungkin dapat membuat mereka semua tidak berdaya."
"Mungkin, itu bisa."
Dia ragu-ragu setuju, tapi jujur, Eugeo tidak memiliki rencana sendiri. Dia hanya bisa mengakui partnernya memiliki bakat yang lebih baik untuk membuat rencana dengan semua faktor dihitung di dalamnya dan ia terus terang bersyukur karena mampu membaca ritual sihir sebelum bertarung, karena ia ragu ia bisa membacanya dengan cepat.
"... Kalau begitu, mari kita coba. Pertama, aku akan ..."
Saat ia berbicara, Eugeo dengan santai mengalihkan pandangannya ke arah kiri, menuju lantai dua puluh sembilan katedral.
Dan ia membuka matanya lebar-lebar dengan takjub.
Dua kepala mungil menyembul keluar dari bayang-bayang pagar, mata mereka menatap intens ke arah keduanya.
Begitu mata mereka bertemu dengan Eugeo, kepala keduanya bersembunyi seperti kilat. Tapi saat ia menatap mereka, dalam diam, kepala mereka muncul sekali lagi, mata mereka yang masih lugu terus berkedip.
Menyadari sesuatu telah terjadi, Kirito mengikuti pandangan Eugeo dan setelah mulutnya ternganga seperti Eugoe, dia ragu-ragu bertanya.
"Siapa ... kalian berdua?"
Dengan itu, kepala keduanya saling bertemu, mengangguk bersamaan, dan dengan gugup menampakkan seluruh tubuh mereka.
"A ... anak-anak ...?"
Eugeo bergumam, tanpa berpikir.
Orang yang berdiri di lantai atas adalah dua gadis berpakaian hitam yang sama persis.
Umur mereka mungkin sekitar sepuluh tahun. Dia merasakan perasaan nostalgia, karena pakaian hitam polos itu sangat mirip dengan pakaian agama milik Selka, adik Alice, yang belajar di gereja Rulid.
Namun, tidak seperti Selka, kedua gadis itu mengenakan pedang pendek dengan panjang keseluruhan sekitar tiga puluh cen pada sabuk hijau mereka. Sesaat kewaspadaan muncul, tapi ia segera menyadari bukan hanya mata pisau, tapi genggamannya juga, terbuat dari kayu kemerahan. Warnanya tidak biasa, tapi itu mungkin mirip dengan pedang kayu yang diberikan kepada anak-anak yang ingin menjadi pendekar pedang.
Gadis di sebelah kanan mengepang dua rambut cokelat mudanya. Alisnya tampak murung dan sudut matanya memberikan kesan lemah lembut. Kontras dari itu, gadis di sebelah kiri memiliki rambut berwarna seperti jerami yang dipotong pendek, dan kedua matanya beraksen keras.



Saat Eugeo dan Kirito menatap dalam diam, orang yang mengambil langkah maju adalah gadis yang berpikiran kuat dan semangat di sebelah kiri seperti yang diduga. Mengambil napas dalam-dalam, ia tiba-tiba mulai memperkenalkan diri.
"Erm ... aku-aku Fizel, suster pemula di Gereja Axiom. Dan gadis ini juga suster pemula ..."
"Li ... Linel."
Suara kekanak-kanakan keduanya berakhir dengan nada gemetar, mungkin karena ketidaknyamanan mereka. Eugeo menunjukkan senyum untuk menenangkan hati mereka dan segera menyadari bahwa ia dilihat sebagai musuh, mengingat mereka adalah suster dari gereja, walau mereka masih pemula.
Namun, kata-kata yang diucapkan oleh gadis yang menyebut dirinya Fizel lebih langsung daripada yang bisa Eugeo duga.
"Jadi ... penyusup dari Dataran Kegelapan itu kalian berdua?"
"Hah ...?"
Wajah Kirito dan wajahnya secara naluriah bertemu. Partnernya, juga tidak mampu membuat keputusan untuk menangani situasi ini. Bibirnya terkatup dan alisnya saling bertemu, dan kemudian dengan cepat bergerak dan bersembunyi di belakang Eugeo.
"Aku buruk dengan anak-anak. Aku akan meninggalkan ini untukmu."
Diberitahu itu dari belakang, ia berpikir untuk berbisik "Itu tidak adil!" kembali, tapi bersembunyi di belakang Kirito tidak mungkin sekarang. Melihat dua gadis di lantai atas, ia memberikan jawaban yang tertahan.
"Er ... erm, yah ... kami adalah manusia dari Dunia Manusia, tapi ... bagian tentang penyusup, yah, tidak benar-benar salah, kukira ..."
Kali ini, kedua anak itu menyentuhkan dahi mereka bersama-sama dan mulai bertukar kata dengan suara berbisik. Suara mereka pelan, tapi masih bisa terdengar karena sekeliling yang terlalu hening.
"Apa-apaan itu, mereka benar-benar terlihat seperti manusia di luar, Nel. Mereka tidak memiliki tanduk ataupun ekor."
Orang yang mengatakan itu dengan tidak puas, adalah Fizel, gadis yang tampak berpikiran kuat. Gadis bernama Linel berpendapat kembali dengan terbata-bata.
"A-Aku hanya mengatakan apa yang tertulis di dalam buku. Kaulah yang salah untuk berpikir mereka akan benar-benar memiliki hal itu, Zel."
"Hmm, tapi, mereka mungkin saja menyembunyikannya. Mungkin kita dapat mengetahuinya jika kita mendekat?"
"Eeh, tapi mereka hanya terlihat seperti manusia normal. Tapi ... ada kemungkinan bahwa mereka mungkin memiliki taring ..."
Percakapan menawan mereka mengingatkan Eugeo akan putri kembar dari pertanian Wolde di mana ia pernah tinggal, dan bibirnya benar-benar ternganga kali ini.
Jika Kirito dan dirinya adalah anak-anak di usia itu dan menemukan penyusup dari tanah kegelapan di dekatnya, ada kemungkinan tinggi mereka akan pergi dan mengintip seperti ini. Tapi akibatnya, mereka mungkin akan menerima omelan keras dari ayah mereka dan kepala desa.
Eugeo langsung khawatir, setelah memikirkan hal itu. Bukankah kedua gadis itu akan dihukum jika melakukan kontak dengan pemberontak terhadap gereja? Dia pikir dia tidak dalam situasi untuk mengkhawatiran itu, tapi ia tetap merasa bahwa ia harus berbicara.
"Hei ... bukankah mereka akan marah pada kalian berdua karena berbicara dengan kami?"
Setelah mendengar itu, Fizel dan Linel segera menutup mulut mereka dan tersenyum puas. Fizel menjawab, tampak sedikit gembira. Kesopanan dalam perkataannya hilang tanpa diketahui.
"Semua bapa dan suster dan murid mereka diperintahkan untuk mengunci pintu kamar mereka dan dilarang untuk pergi keluar sejak pagi ini. Jadi itu berarti walau kami pergi untuk melihat penyusup, kami tidak perlu khawatir akan ada orang yang melihat kami."
"Ha-Hah ..."
Entah bagaimana, itu tampak persis seperti alasan yang biasanya akan Kirito berikan. Dia bahkan bisa membayangkan dalam pikirannya, bagaimana mereka akan ditemukan dan dimarahi.
Kedua gadis itu berdiskusi kembali, tapi Linellah yang berbicara kali ini.
"Ermm ... kalian berdua benar-benar bukan monster dari Dataran Kegelapan?"
"Y-Ya."
"Lalu, aku minta maaf, tapi bisakah kalian mengijinkan kami untuk melihat kalian berdua lebih dekat ...? Pada, erm, dahi dan gigi kalian."
"Eeh?"
Kehilangan ketenangannya atas permintaan yang tak terduga, Eugeo melirik ke belakang, tapi bukan hanya Kirito tidak memberikannya bantuan, ia bahkan pura-pura tidak tahu dengan kepalanya melihat ke tempat lain. Eugeo dengan enggan mengangguk pada kedua gadis itu.
"... Yah, kalau cuma itu, aku tidak apa-apa ..."
Tidak bisa menolak situasi ini adalah sebagian dari sifatnya, tapi ia memiliki keinginan untuk membuktikan bahwa ia adalah manusia biasa meski seorang pemberontak yang melawan gereja dan tergantung pada keadaan, ia mungkin akan mendapatkan informasi mengenai interior katedral dari mereka berdua.
Wajah Fizel dan Linel berbinar-binar dan mereka berlari menuruni tangga, langkah mereka bercampur antara rasa ingin tahu dan hati-hati. Kaki mereka berhenti setelah mencapai Eugeo, mata biru dan abu-abu mereka menatap lekat-lekat dirinya.
Eugeo membungkuk, menyisir rambut di dahinya dengan tangan kirinya sambil memamerkan giginya agar mereka bisa melihat. Anak-anak menatap Eugeo selama hampir sepuluh detik tanpa berkedip sekalipun, sebelum mereka akhirnya mengangguk, tampak puas.
"Dia manusia."
"Iya, kan?"
Kekecewaan yang muncul di wajah mereka hanya bisa membuat Eugeo tersenyum kecut. Melihat Eugeo melakukan hal itu, Linel memiringkan kepalanya ke samping.
"Tapi jika kalian berdua bukan monster dari Dataran Kegelapan, mengapa Katedral Pusat percaya bahwa kalian berdua adalah penyusup?"
"E-Erm ..."
Bahkan saat berpikir kalau itu akan berubah menjadi skenario yang terburuk, ia pikir ia tak perlu menyembunyikannya lagi setelah semua yang telah terjadi dan menjawab dengan jujur.
"... Dahulu sekali, seorang teman perempuanku dibawa pergi oleh seorang integrity knight. Jadi, aku datang ke sini untuk mengambilnya kembali."
Ini, khususnya, pasti sulit untuk suster pemula, yang biasanya akan sangat percaya pada keadilan Gereja Axiom, untuk menerimanya. Ia menduga ekspresi jijik dan cemas akan muncul di wajah keduanya, tapi bertentangan dengan itu, kedua gadis itu hanya mengangguk singkat. Gadis dengan rambut berwarna seperti jerami, Fizel, berbicara dengan wajah yang sedikit tidak puas.
"Jadi itu. Itu alasan yang cukup normal."
"N-Normal?"
"Ada beberapa kasus orang yang melakukan protes terhadap gereja ketika keluarga atau kekasih mereka dibawa pergi, tercatat di masa lalu. Meski kalian berdua mungkin yang pertama kali yang benar-benar masuk ke sini seperti ini."
Meneruskan, Linel melanjutkan dari samping.
"Belum lagi mereka bilang kalau kalian memotong rantai roh-besi dan melarikan diri ketika kalian berdua dipenjara, dan bagian tentang berhasil mengalahkan dua integrity knight juga, itulah yang membuat kami menunggu di sini, berpikir kalau kalian pasti monster kegelapan ... bahkan mungkin knight kegelapan sejati yang meluncurkan serangan. Tapi untuk berpikir bahwa kalian beruda hanyalah manusia normal ... "
Kedua anak itu saling bertatapan dan berbicara, "Apa ini cukup?" dan "Ya, kan?", saat mereka dengan ringan saling mengangguk.
Linel, yang melihat Eugeo sekali lagi, memiringkan kepala kecilnya dan kepangnya bergoyang.
"Kalau begitu, yang terakhir, bisakah kalian menyebutkan nama kalian?"
Meski ada lagi yang ingin aku tanyakan, Eugeo berpikir saat dia menjawab.
"Aku Eugeo. Yang di belakang adalah Kirito."
"Hmph ... kalian tidak memiliki nama keluarga?"
"Ah, ya. Aku anak perintis, kau tahu .... Apa kalian berdua juga sama?"
"Tidak, kami memiliki satu."
Memotong di sana, Linel tersenyum lebar. Senyum cerah nan lebar muncul seolah pipinya terisi dengan permen lezat.
"Namaku Linel Synthesis Twenty-eight."
Eugeo tidak bisa segera mengetahui arti dari nama itu.
Seketika, rasa dingin bisa dirasakan di perutnya dan Eugeo mengalihkan pandangannya ke bawah.
Eugeo tidak yakin kapan benda itu ditarik keluar dari sabuknya, tapi pedang pendek yang digenggam di tangan kanan Linel masuk sekitar lima cen ke dalam tubuhnya.
Itu seperti pedang kayu ketika dimasukkan ke dalam sabuknya, tapi sepertinya apa yang dia pikir pedang, ternyata adalah sarung pedang kayu. Pedang asli yang ditarik keluar dari sana bukanlah kayu. Itu adalah logam asing berwarna hijau keruh. Permukaannya menangkap sinar matahari yang bersinar dari jendela dan berkilau seolah basah.
"Eu ...!"
Apa suara singkat itu suara Kirito? Memutar leher kakunya ke belakang, ia melihat partnernya membeku, dengan kaki kanannya melangkah maju. Fizel, yang berada di samping Linel sesaat sebelumnya, sekarang berdiri diagonal di belakang Kirito, dengan tusukan pedang hijau yang sama ke dalam mantel hitam. Bentuk mulutnya yang membentuk senyum memiliki semangat yang sama seperti sebelumnya, seperti gembira.
"―Dan, aku Fizel Synthesis Twenty-nine."
Pedang pendek ditarik keluar dari tubuh Eugeo dan Kirito pada saat yang sama. Fizel dan Linel mengibaskan pedang dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata dan menghapus bersih darah merah yang menempel, kemudian menyimpannya dengan rapi dalam sarung pedang masing-masing.
Rasa dingin merayap dari cedera di perutnya dan menyebar ke seluruh tubuhnya dalam sekejap. Tempat yang terkena rasa dingin membeku itu mati rasa satu demi satu.
"Kalian ... berdua ... integri ... ty ..."
Tepat setelah ia memaksa mengeluarkan kata-katanya entah bagaimana, lidahnya mati rasa dan dia benar-benar membeku.
Lututnya menyerah tanpa peringatan dan Eugeo jatuh ke lantai seperti tongkat. Dada dan pipi kirinya dengan keras terjatuh ke marmer, tapi rasa sakit, serta seluruh indra perasanya, tidak ada.
Segera setelah itu, Kirito terguling dengan suara berdebam.
Racun―
Eugeo menyadari, meski itu sudah terlambat, dan mencoba untuk memikirkan suatu tindakan pencegahan.
Dia umumnya telah mempelajari tentang bentuk-bentuk racun di alam dan penangkalnya dari pelajaran Master Sword Academy. Namun, semua itu hanyalah langkah untuk kasus ketika mereka terkena racun dari tanaman, ular, atau serangga, bukan racun di tengah-tengah pertarungan seperti ini.
Itu wajar saja. Pertarungan adalah kompetisi keberanian dan keanggunan di mana akademi, tidak, Dunia Manusia miliki, jadi tindakan seperti menambahkan racun untuk senjata sangat dilarang. Dia mendengar bahwa bangsawan muda, yang mengirimkan serangga berbisa dan mencoba untuk menghalangi Eugeo dan Kirito mengambil bagian dalam Turnamen Pedang Zakkaria, tidak sampai melapisi pedangnya dengan racun dalam pertandingan melawan Kirito.
Karena itu, pengetahuan yang dimiliki Eugeo hanyalah membuat jenis ramuan untuk menangkal sengatan beberapa serangga berbisa tertentu. Walau ia menemukan jenis racun yang gadis itu gunakan, tidak ada tanaman apapun di sekitar, apalagi tanaman obat. Metode terakhir adalah mencoba menyembuhkan dirinya menggunakan sihir suci, tapi ritual sihi tidak mungkin dilakukan kalau tangan dan mulut lumpuh.
Dengan kata lain, jika racun ini tidak hanya melumpuhkan tubuhnya, tapi juga racun yang terus mengurangi Nyawanya, Nyawa mereka akan habis bahkan sebelum mereka sampai ke tengah bangunan Katedral.
"Kamu tidak perlu takut, Eugeo-san."
Suara Integrity Knight Linel Synthesis Twenty-eight tiba-tiba keluar di atas kepalanya. Mungkin karena pengaruh racun, ia mendengar suara manis itu agak terdistorsi, seolah dia berada di bawah air.
"Ini hanya racuh pelumpuh. Di tempat pertama, satu-satunya perbedaan adalah apakah kamu mati di sini atau di lantai lima puluh."
Suara langkah kakinya terdengar dan sepatu coklat muda kecil muncul dalam pandangan Eugeo saat ia tak bisa bergerak dengan pipi kirinya menempel ke tanah. Linel mengangkat kaki kanannya, dan kemudian menempatkan ujungnya di atas kepala Eugeo tanpa ragu-ragu, menggerakkannya ke sana-sini seolah dia sedang mencari sesuatu.
"... Hmm, jadi benar-benar tidak ada tanduk."
Memindahkan kakinya ke punggungnya, dia tak henti-hentinya menginjak-injak punggunnya.
"Tidak ada sayap juga, huh. Zel, bagaimana denganmu?"
"Yang ini juga hanya manusia!"
Mungkin setelah memeriksa Kirito dengan cara yang sama, Fizel menjawab sedih.
"Ah-ah, dan aku berharap untuk akhirnya melihat sebuah monster dari Dataran Kegelapan juga."
"Yah, tidak apa-apa. Jika kita menyeret keduanya ke lantai lima puluh dan memotong kepala mereka di depan orang-orang lemah yang menunggu di sana, kita pasti bisa mendapatkan instrumen suci dan naga terbang juga. Lalu kita bisa terbang ke Dataran Kegelapan dan melihat yang asli semau kita."
"Yep. Benar, Nel, mari kita lihat siapa yang pertama kali mendapatkan kepala knight kegelapan!"
Bahkan setelah semua itu, suara Fizel dan Linel terdengar sangat polos dan Eugeo berpikir bahwa bagian itulah yang paling mengerikan dari semuanya. Bagaimana bisa anak-anak seperti kedua gadis kecil ini menjadi integrity knight―tidak, sebelum itu, mengapa anak-anak ini ada di katedral?
Eugeo tidak bisa melihat ketika Linel, yang berada di depannya, menarik pedangnya. Kelincahan Fizel, yang dengan mudah mengalahkan Kirito dengan jarak yang jauh, bahkan lebih mengerikan.
Namun, skill pertarungan bukanlah sesuatu yang akan meningkat tanpa bertahun-tahun latihan dan pengalaman dari pertarungan hidup dan mati yang sebenarnya. Alasan mengapa Eugeo bisa dengan bebas mamakai Pedang Blue Rose, instrumen suci, bisa saja karena pengalamannya dalam mengayunkan kapak pada Gigas Cedar, tapi Kirito mengatakan mengusir kelompok goblin di gua utara adalah penyebab utamanya.
Tapi Fizel dan Linel berusia sekitar sepuluh tahun, tak peduli bagaimana dia melihat mereka, mereka tampaknya tidak pernah mengalami pertarungan yang sebenarnya melawan monster Dataran Kegelapan, berdasarkan kata-kata mereka.
Kalau begitu, bagaimana mereka menguasai gerakan tubuh dan penggunaan pedang mereka, yang lebih cepat dari yang bisa diikuti mata?
Namun, Eugeo tidak mengeluarkan satu suara pun tentang keraguan yang berputar-putar di dalam hatinya.
Tampaknya racun yang sempat menyebar ke seluruh tubuhnya, telah menghilang sebelum ia sadari. Tangan kecil Linel mencengkeram pergelangan kaki kanan Eugeo dan ia melihat ia sedang diseret ketika pandangannya berputar.
Dengan putus asa menggeser bola matanya yang hampir tidak bisa bergerak ke arah kiri, dia melihat Kirito yang diseret seperti dirinya juga. Kelumpuhan mungkin juga mencapai wajahnya seperti Eugeo, karena ekspresi partnernya itu kosong.
Kedua integrity knight muda itu menyeret Eugeo dan Kirito bersama, Pedang Blue Rose dan pedang hitam masih ada di dalam sabuk mereka, dan mulai menaiki tangga tanpa peduli. Kepala mereka dengan keras terangkat dan terjatuh setiap kali mereka naik, tapi seperti yang diduga, tidak ada rasa sakit.
Dia harus menemukan rencana untuk terlepas dari krisis ini, tapi mungkin karena racun yang bahkan melumpuhkan jiwanya, Eugeo tak bisa merasakan apa-apa kecuali kekosongan kering pada tubuhnya.
Dia telah menetapkan hatinya untuk melawan Gereja Axiom, tapi dia bahkan tidak berpikir mereka akan melakukan manipulasi mengerikan tersebut pada anak-anak kecil ini, membentuk mereka menjadi integrity knight. Dan manusia yang hidup di Dunia Manusia percaya bahwa itu adalah simbol kebaikan dan harmoni mutlak. Selama ratusan tahun.
"Kamu pikir itu aneh, kan?"
Suara Linel tiba-tiba terdengar di telinganya, tawa samar kemudian mucul.
"'Kenapa anak-anak seperti ini menjadi integrity knight?', Kan? Kamu akan segera terbunuh, jadi aku akan memberitahumu."
"Nel, tidak ada ada gunanya berbicara kalau kita membunuh mereka? Kau eksentrik seperti biasa."
"Tidakkah kamu berpikir hanya berjalan sampai ke lantai lima puluh itu membosankan? ―Eugeo-san, kami lahir dan dibesarkan di sini, di katedral ini. Kami dibuat oleh bapa dan suster yang ada di menara di bawah perintah Administrator-sama, tahu. Bagi eksperimen sihir suci «kebangkitan» nya yang dapat memulihkan Nyawa yang telah benar-benar hilang."
Kata-kata yang keluar dari mulutnya luar biasa mengerikan, tapi suara Linel tetap ceria sampai akhir.
"Sepertinya anak-anak di luar menerima tugas suci mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun, tapi kami diberikan di usia lima tahun. Tugas kami adalah untuk membunuh satu sama lain. Kami diberikan pedang seperti mainan, jauh lebih kecil daripada pedang berbisa ini, dan membentuk partner dan menusuk satu sama lain."
"Kamu buruk dalam menusuk, kan, Nel. Aku tidak tahan betapa sakitnya setiap kali kamu menusukku."
Linel menjawab, tidak puas, pada suara Fizel yang tampaknya telah mengganggunya.
"Itu karena gerakan anehmu, Zel. ―Kupikir kalian berdua akan tahu setelah mengalahkan dua integrity knight, tapi manusia tidak akan semudah itu mati, kan, Eugeo-san, Kirito-san? Ini bahkan sama untuk anak-anak yang baru berusia lima tahun. Bahkan ketika kami dengan panik membunuh satu sama lain dengan cepat, kami dengan membabi buta menebas dan menikam sampai akhirnya Nyawa kami menjadi nol, tapi Administrator-sama hanya akan membangkitkan kami dengan sihir suci ... "
"Dan kebangkitan tidak benar-benar bekerja waktu di awal juga, kan? Anak-anak yang meninggal dengan normal masih beruntung; ada beberapa anak yang meledak menjadi potongan-potongan atau beberapa anak yang berubah menjadi benjolan daging aneh atau yang menjadi orang yang berbeda saat dihidupkan kembali, kan?"
"Walau itu seharusnya adalah tugas suci kami, kami tidak ingin terluka dengan sia-sia dan dihidupkan kembali. Kami mencoba berbagai cara dan menyadari bahwa terbunuh dalam satu serangan sangatlah mungkin dan memiliki peluang yang tinggi untuk dibangkitkan. Tapi satu serangan itu sangat sulit. Itu harus sangat cepat dan halus, baik itu menusuk jantung atau memotong kepala."
"Dan kami berhasil melakukan itu sekitar tujuh kali, kupikir? Kami berlatih sepanjang waktu selagi anak-anak lain sedang tertidur, setelah semua."
Benar-benar tidak ada tanda-tanda akal sehatnya akan kembali, tapi rasa menggigil tetap menyerang Eugeo, seperti rasa merinding yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Alasan mengapa Fizel dan Linel memperoleh teknik fisik mengerikan mereka.
Itu dari membunuh satu sama lain tanpa akhir selama bertahun-tahun, atau seperti itu yang gadis-gadis itu katakan. Hari demi hari, mereka mengayunkan pedang mereka sambil berpikir tentang bagaimana cara terbaik untuk menghabisi nyawa teman-teman mereka.
Tentu saja, dengan akumulasi pengalaman seperti itu, mungkin untuk menguasai skill tersebut dan diberikan posisi sebagai seorang integrity knight meski mereka masih anak-anak. Namun di sisi lain, keduanya pasti sudah kehilangan sesuatu yang penting.
Linel melanjutkan dengan suara ceria yang sama bahkan saat ia tak henti-hentinya menaiki tangga.
"Saat kami berusia delapan tahun Administrator-sama menyerah pada eksperimen sihir kebangkitan. Sepertinya kebangkitan yang sempurna tetap tidak mungkin pada akhirnya. Kamu tahu? Ketika Nyawamu menjadi nol, banyak tanda panah putih cahaya turun dan, bagaimana aku mengatakan ini, bagian dalam kepalamu hancur sedikit demi sedikit. Anak-anak yang memiliki bagian-bagian pentingnya menghilang tidak akan kembali sama seperti semula walau nyawa mereka dipulihkan. Aku sering sekali kehilangan memori akan kejadian beberapa hari terakhir saat dihidupkan kembali. ―Akibatnya, yang pada awalnya kami bejumlah tiga puluh menjadi hanya Zel dan aku pada akhir percobaan."
"Orang tua berkepala besar itu mengatakan kepada kami yang selamat untuk memilih tugas suci kami berikutnya, jadi kami mengatakan bahwa kami ingin menjadi integrity knight. Dia marah ketika kami mengatakan itu, mengatakan bahwa integrity knight adalah penjaga ketertiban yang dipanggil dari Dunia Surgawi oleh Administrator-sama; bahwa mereka tidak sama dengan anak-anak seperti kami. Dan kemudian itu berakhir menjadi pertandingan melawan integrity knight pemula pada saat itu .... Apa nama orang-orang itu?"
"Mm ... Sesuatu-sesuatu Synthesis Twenty-eight dan Twenty-nine."
"Begini, Nel, aku menanyakan bagian sesuatu-sesuatu itu. Oh yah, wajah yang ditunjukkan oleh kedua pria itu ketika kami memotong kepala sombong mereka dalam satu tebasan aneh, huh?"
Menghentikan kata-katanya di sana, anak-anak itu dengan riang tertawa untuk sementara waktu.
"... Dan, setelah mengetahui hasilnya, Administrator-sama menjadikan kami integrity knight sebagai kasus khusus. Mengganti mereka berdua yang meninggal. Tapi dia mengatakan bahwa kami kurang memiliki pengetahuan untuk mengambil tugas pertahanan seperti knight lain, jadi kami harus belajar tentang hukum dan sihir suci selama dua tahun sebagai suster pemula ... jujur, itu hanya mengganggu."
"Ketika kami sedang mendiskusikan tentang bagaimana kami bisa mendapatkan naga terbang dan instrumen suci dengan cepat, peringatan tentang bawahan dari Dataran Kegelapan menyerbu katedral datang, kamu tahu. Nel dan aku berkata, 'Ini dia!'. Kami berpikir jika kami menangkap penyusup dan mengeksekusi mereka lebih cepat dari knight lain, Administrator-sama mungkin akan membuat kami menjadi knight resmi, jadi kami menunggu di tangga. "
"Aku minta maaf tentang menggunakan racun. Tapi kami benar-benar ingin membawa Eugeo-san dan Kirito-san ke lantai lima puluh jika mungkin ... Ah, jangan khawatir. Kami super baik dalam membunuh, jadi itu tidak akan sakit."
Sepertinya kedua gadis itu sudah tak sabar menunggu saat mereka memotong leher Eugeo dan Kirito di depan integrity knight di lantai lima puluh. Langkah kaki mereka menjadi semakin ringan, menaiki tangga dengan cepat meski menyeret tahanan bersamanya.
Meski ia harus memikirkan sebuah rencana untuk kabur entah bagaimana, Eugeo hanya bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan dalam keadaan linglung. Walau mulutnya tidak lumpuh, ia percaya itu benar-benar mustahil untuk membuat anak-anak ini merubah pikiran mereka melalui kata-kata. Kedunya bahkan mungkin tidak memiliki konsep tentang hal baik dan jahat. Semua yang mereka patuhi adalah perintah dari orang yang «membuat» mereka, pendeta tertinggi, Administrator―
Setelah berputar untuk yang kesekian kalinya, langit-langit yang terlihat di mata Eugeo berubah dari langit-langit lantai berikutnya menjadi langit-langit yang lapang. Tangga mungkin tidak berlanjut karena mereka akhirnya telah mencapai lantai lima puluh yang membagi katedral menjadi dua.
Fizel dan Linel menghentikan kaki mereka dan mengucapkan kata-kata singkat, "Mari kita pergi" dan "Ya", satu sama lain.
Ada beberapa menit sampai pedang hijau itu memotong lehernya―tidak, mungkin hanya beberapa detik. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda kembali sama sekali dan ujung jarinya tak mau bergerak sedikit pun tidak peduli seberapa banyak ia mengharapkannya.
Langit-langitnya jauh lebih tinggi daripada yang pernah ia lihat sebelumnya. Itu mungkin setidaknya setinggi dua puluh mel. Kanopi marmer berada jauh di atas, berwarna-warni menggambarkan rupa tiga dewi penciptaan dan pengikut mereka, menarik busur. Kolom yang mendukung kanopi, juga dihiasi dengan patung-patung yang tak terhitung jumlahnya, cahaya Solus menyinari mereka melalui jendela yang berada di kiri dan kanan. Itu adalah tempat yang suram, sesuai dengan namanya, «Grand Corridor of Spritual Light».
Kedua gadis itu menyeret Eugeo dan Kirito sepanjang lima mel dan menghentikan kaki mereka di sana. Tubuhnya berputar setengah lingkaran dan Eugeo akhirnya bisa melihat seluruh koridor besar.
Itu amat sangat lebar. Mungkin seluas semua luas lantai katedral, lantai yang terbuat dari batu warna yang berbeda terlihat kabur di sudut-sudut cahaya putih. Sebuah karpet merah tua memanjang lurus menuju dinding terjauh dari pintu masuk, pintu besar yang tampak dibangun untuk raksasa menjulang di ujungnya. Tidak salah lagi kalau tangga ke lantai berikutnya berada di belakang pintu itu.
Dan― Jauh di depan pintu, di tengah koridor, beberapa knight tak bergerak yang mengenakan pelindung seluruh tubuh, memancarkan udara intimidasi yang tak akan membiarkan seorang pun melewati mereka, bisa dilihat. Empat orang berbaris pada jarak teratur. Satu orang sedikit di depan mereka.
Empat orang di belakang dilengkapi dengan baju besi berwarna perak mengilap, dan helm dengan potongan salib. Sama dengan pakaian yang Eldrie kenakan. Senjata mereka, juga, adalah pedang lurus besar yang menancap masuk ke dalam lantai, kedua tangan mereka ditempatkan pada pegangannya.
Orang yang di depan memiliki baju besi dengan desain yang berbeda dari empat orang di belakang. Itu benar-benar diwarnai dengan cahaya anggrek halus dan kelihatan lebih canggih juga, sementara pedang ramping yang tampaknya khusus untuk skill menusuk tergantung di pinggangnya. Knight itu hanya mengenakan armor ringan, tapi keempat knight lainnya tidak ada yang bisa menandingi auranya. Eugeo tidak bisa melihat apa yang ada di dalam helm dengan model seperti sayap burung pemangsa itu, tapi ia yakin knight itu tidak akan kalah dengan Deusolbert.
Ini adalah kelima integrity knight yang menghalangi tujuan mereka mencapai lantai tertinggi.
Tapi ancaman yang lebih besar bagi nyawa Eugeo dan Kirito pada saat ini adalah dua anak yang berdiri tepat di depan mata mereka.
Dengan bangga membungkukkan badan mereka, yang tertupi pakaian suster polos, Linel dan Fizel menghadap kelima knight.
"―Ya ampun, sampai Wakil Pemimpin Knight Fanatio Synthesis Two-dono ada di sini."
Linel pertama kali berbicara dengan suara ceria.
"Tampaknya yang lebih tua juga mulai agak khawatir, sampai repot-repot mengirimkan «Heaven Piercing Sword» Fanatio-dono ke sini. Atau mungkin Andalah orang yang panik di sini, Fanatio-sama? Saya kira Anda tidak tahan memiliki «Fragrant Olive»-dono masuk dengan posisi Wakil Pemimpin Knight dengan penampilannya, kan?"
Beberapa detik hening yang tegang rusak dengan suara bangsawan agak tajam knight yang disertai dengan dengung metalik.
Eugeo yakin kalau rasa iritasi tersembunyi yang ia rasakan di balik gema teredam yang tampaknya tidak berasal dari manusia itu, merupakan sifat unik pada integrity knight.
"... Mengapa kalian para pemula berada di medan perang knight terhormat ini?"
"Aha, payah sekali!"
Fizel menjawab kembali dengan nada terus terang tanpa jeda sesaat.
"Itu karena Anda membawa hal-hal seperti kehormatan dan martabat ke dalam pertarungan, hingga dua dari integrity knight anda yang luar biasa kuat, mampu-bertarung-dengan-seribu integrity knight kalah, heh. Tapi tenanglah, sehingga knight terhormat anda tidak akan menderita aib lebih lanjut, kami menangkap penyusup untuk Anda!"
"Kami akan memotong kepala para penyusup sekarang, jadi silakan lihat dari dekat dan laporkan kepada pendeta tertinggi. Saya kira integrity knight terhormat bahkan tidak akan bisa mencuri prestasi kami, apa saya benar?"
Eugeo hanya bisa tercengang pada nyali gadis-gadis itu meski situasi berbahaya sedang ia hadapi, saat Linel dan Fizel berbicara dengan kurang ajar, meski lima integrity knight yang memiliki kekuatan super sedang menghadap mereka.
Tidak―mungkin itu sedikit berlebihan.
Apa emosi yang ditunjukkan oleh anak-anak itu adalah kebencian ...?
Berbaring di lantai, Eugeo mengirim kekuatannya ke satu-satunya bagian yang bisa bergerak, kedua matanya, dan menatap Linel dan Fizel. Tapi meski begitu, kebencian mereka diarahkan pada siapa? Meski berdiri di depan penjahat besar yang memberontak Gereja Axiom dan pendeta tertinggi, Administrator, gadis-gadis itu tidak menunjukkan apa-apa selain rasa ingin tahu yang murni.
Linel dan Fizel, yang secara terbuka mengungkapkan rasa kebencian dan penghinaan, memelototi integrity knight, para knight menatap kembali keduanya dengan pandangan iritasi, dan Eugeo menatap mereka sambil menyimpan keraguan dalam pikirannya, jadi―
Dalam sekejap bayangan berpakaian hitam muncul di belakang anak-anak itu tanpa suara, sepertinya tak ada seorang pun yang mendeteksi gerakannya.
Kirito, yang seharusnya terpengaruh oleh racun pelumpuh seperti Eugeo, mendekati kedua gadis itu dari belakang dengan gerakan dari bayangan macan kumbang yang berkeliaran, dan mengambil pedang berbisa yang tergantung di pinggang mereka: Pedang Fizel ada di tangan kanannya, Linel ada di tangan kirinya. Dengan itu, ia menarik pedang ke atas dan menebasnya ke lengan kiri anak-anak yang terbuka.
Kedua anak itu hanya berhasil menoleh kembali dengan wajah kosong setelah Kirito mendarat dari lompatan jauhnya, dengan pedang pendek masih ada di tangannya.
Ekspresi kosong terkejut muncul di wajah tak berdosa Linel dan Fizel.
"Kenapa ..."
"Bergerak ..."
Efek racun segera aktif dan kedua anak itu terjatuh ke lantai dengan pelan setelah mengatakan itu.
Kirito bangkit seolah dia adalah pengganti mereka. Dia memegang kedua pedang berbisa di tangan kiri dan mennggeledah pakaian suster Linel dengan tangan kanannya setelah berjalan mendekatinya. Obyek yang ia langsung ambil adalah botol kecil seukuran ujung jari, yang berisi cairan berwarna oranye.
Membuka gabus dan menghirupnya, ia mengangguk seolah yakin, dan kemudian berjalan. Eugeo tidak bisa berbuat apa-apa selain percaya bahwa cairan, yang dengan lembut mengalir dari botol ke bibirnya, adalah cairan penangkal dan meminumnya. Sepertinya itu mungkin yang terbaik bahwa ia tidak memiliki indra perasa.
Kirito, yang menampilkan kemuraman yang langka di wajahnya, berbisik dengan suara yang sangat lembut selagi masih berlutut.
"Kelumpuhan akan sembuh dalam beberapa menit. Ketika mulutmu bisa bergerak, pastikan untuk mulai membaca sihir kontrol penuh persenjataan tanpa sepengetahuan knight. Tetap siaga sampai kita selesai mempersiapkannya dan tunggu sinyalku."
Bangun setelah mengatakan apa yang perlu ia katalan, Kirito berjalan ke samping kedua gadis itu sekali lagi. Dia berteriak kepada lima integrity knight yang masih berdiri tegang, dengan suara keras.
"Knight Kirito, serta Knight Eugeo, ingin menyampaikan permintaan maaf kami yang terdalam karena memperlihatkan sifat kami yang tidak sopan dengan berbaring di sana! Karena ketidakhormatan itu, saya mohon Anda untuk memberikan penundaan bagi kami untuk memperbaiki aib kami! Saya mengusulkan kita akan bertarung setelah penundaan itu!"
Knight ungu, yang mungkin dari peringkat agak tinggi, segera menjawab dengan nada bermartabat.
"Saya adalah integrity knight kedua, Fanatio Synthesis Two! Penjahat, instrumen suci saya, «Heaven Piercing Sword», tidak memiliki setetes pun belas kasihan, sehingga nyatakan kata-kata terakhir kalian jika kalian memilikinya, selagi pedang ini masih tetap bersarung!"
Setelah mendengar itu, Kirito langsung menatap kedua gadis yang runtuh di sampingnya dan mengecam dengan kata-katanya, cukup keras bahkan knight dapat mendengarnya.
"―Aku percaya kamu berpikir itu aneh, bukan? Tentang mengapa aku bisa bergerak."
Kekecewaan muncul di mata Linel karena kata-kata yang dia ucapkan sebelumnya dicuri.
"Kalian berdua gagal menangkap kata-kata kalian tadi. Kalian mengatakan semua bapa dan suster diperintahkan untuk tidak meninggalkan kamar mereka. Tidak boleh ada siapa pun yang dapat melanggar perintah katedral. Oleh karena itu, hal itu membuktikan bahwa kalian bukanlah suster pemula yang sebenarnya karena kalian tidak mematuhi perintah."
Rasa sakit muncul di sekitar tubuhnya, mungkin karena indranya mulai kembali berkat obat, tapi Eugeo hampir tidak memperhatikan hal itu. Dia akhirnya mengerti emosi apa yang tersembunyi di balik ekspresi partnernya.
Tidak seperti karakter biasanya, Kirito―marah.
Tapi itu tidak tampak bahwa kemarahan diarahkan pada kedua anak itu. Bagaimanapun, rasa simpati bisa dilihat di matanya saat ia menatap Linel dan Fizel.
"Selain itu, ada sarung pedang itu pada pinggang kalian. Keduanya terbuat dari «oak ruby hijau» di selatan, kan? Itu adalah satu-satunya bahan yang tidak akan membusuk ketika melakukan kontak dengan pedang yang terbuat dari «racun baja Ruberyl» ini. Tidak mungkin suster pemula biasa bisa memiliki sesuatu seperti ini. Jadi, aku membacakan sihir untuk menetralkan racun sebelum kalian berdua mendekat. Meski itu membutuhkan beberapa waktu untuk selesai, .... Kekuatan bukan hanya didasarkan pada seberapa cepat kalian dapat mengayunkan pedang. Singkatnya, kalian berdua itu bodoh; cukup bodoh hingga layak untuk menerima kematian saat ini juga."
Kirito dengan dingin berbicara pada kedua gadis itu dan mengangkat pedang racun di tangan kirinya tinggi-tinggi.
Kedua pedang itu membuat garis cahaya hijau saat mereka dilemparkan dari tangannya, terjatuh ke bawah tanpa ragu-ragu. Mereka terjatuh dengan suara kusam, ke lantai batu di ujung hidung Linel dan Fizel.
"Tapi aku tidak akan membunuh kalian. Sebagai gantinya, lihatlah baik-baik betapa kuatnya integrity knight yang kalian ejek-ejek itu."
Ia berputar ke samping setelah mengatakan itu dan berjalan beberapa langkah ke depan.
Kirito perlahan-lahan mengeluarkan pedang hitam yang menyelinap keluar dari sarungnya dengan suara tajam dan mengacungkannya di depan dirinya.
"―Saya minta maaf untuk membuat anda menunggu, Knight Fanatio! Knight Kirito berdiri di hadapan Anda!"
Dia berlebihan ... terlepas dari apa situasinya.
Dia berpikir untuk mengatakan itu pada punggung partnernya, tapi bibir Eugeo hanya bergetar sedikit. Indranya kembali, tapi suaranya masih menghilang.
Kirito selalu meminjam daftar senjata dari perpustakaan akademi yang selalu membuatnya tertarik, jadi kemungkinan besar dari sanalah ia mendapatkan pengetahuan tentang «oak ruby hijau» dan «racun baja». Dengan pemahaman itu, Kirito mungkin telah lolos dari jebakan yang dipersiapkan oleh Linel dan Fizel, tapi itu jelas kalau mereka telah jatuh ke dalam kekacauan yang bahkan lebih berbahaya karena kedua anak itu. Bagaimanapun, mereka harus melawan musuh yang kuat dalam pertarungan langsung: lima integrity knight, dengan satu di antaranya bahkan pada posisi Wakil Pemimpin Knight. Rencana diskusi tindakan dan pembacaan sihir kontrol penuh mereka sebelum menyerang grand koridor, sudah pasti dibatalkan.
Kirito yang biasanya akan menyeret Eugeo bersama saat ia berlari tanpa ragu-ragu, mengatur keadaan untuk membuatnya sedikit lebih menguntungkan. Seperti yang diduga, alasan mengapa ia tidak melakukannya adalah karena dia tidak dalam keadaan normal. Jika dia menatap dengan tajam, ia praktis bisa melihat kemarahan mendalam pada Kirito yang tertutupi api putih kebiruan pada kemeja hitam di punggungnya.
Bahkan instruktur Master Sword Academy akan kewalahan jika mereka melawan Kirito dari depan saat ini. Namun, seperti yang diharapkan dari seseorang yang merupakan integrity knight kedua, knight ungu bernama Fanatio itu memegang pegangan pedang ramping di pinggang kirinya dengan gerakan yang bermartabat. Ketika itu terhunus dengan suara yang jelas, itu memancarkan kilauan menyilaukan, seolah pedang itu sendiri memancarkan cahaya, dan menyakiti mata Eugeo.
Setelah Fanatio, keempat integrity knight di belakang menarik pedang besar mereka dan mengacungkannya dengan gerakan serempak. Tekad yang keluar dari pedang mereka menggoyang udara di koridor seolah mendorong tubuh Kirito.
Fanatio, yang sama seklai tidak bergerak meski situasi tegang, mengeluarkan suara dengan cincin muram dari bawah helm.
"Penjahat Kirito, tampaknya Anda menginginkan pertandingan individu dengan saya ... tapi sayangnya, kami telah benar-benar diperintahkan untuk menggunakan segala cara untuk menghapus kalian berdua jika kalian mencapai koridor ini. Oleh karena itu, saya akan mengirim mereka sebagai lawan terlebih dahulu. ―«Four Oscillation Blades» marahlah di bawah instruksi saya!"
Fanatio dengan keras berbicara, lalu mulai dengan cepat membaca sihir suci kompleks yang dimulai dengan 'sistem panggil'. Itu mungkin, tidak, pasti sihir kontrol penuh persenjataan. Satu-satunya cara untuk melawannya adalah menggunakan sihir yang sama, atau mengalahkan knight sebelum ia selesai membaca.
Kirito memilih yang terakhir. Saat ia bergegas menuju Fanatio dengan kekuatan yang cukup untuk membuat percikan muncul dari sol sepatunya, ia mengayunkan pedang hitamnya ke atas.
Namun, knight yang berdiri di sebelah kiri, di antara empat knight di belakang Fanatio, mulai menyerang pada waktu yang sama. Pedang besar yang dipegang dengan kedua tangan mengayun horizontal dari kiri dengan erangan berat, mengarah pada Kirito.
Kirito mengubah arah pedangnya, menerima serangan knight dengan ayunan ke bawah dari atas kepala. Sebuah suara yang memekakkan telinga bergema. Keduanya terlempar mundur, melebarkan jarak.
Kirito pulih lebih cepat dibandingkan dengan knight, yang buru-buru mencoba untuk menarik kembali pedang besar. Dia sudah memasuki sikap untuk mengejar setelah mendarat, dengan hanya satu serangan pada dada lawannya kiri ke―
"......!?"
―Napas Eugeo lolos setelah melihat itu. Dia tidak tahu kapan itu terjadi, tapi knight kedua telah bergegas masuk dan mengeluarkan sebuah tebasan horisontal habis-habisan dari kiri.
Kirito menghentikan kakinya dan kali ini, pedangnya menebas ke arah kiri dan menangkis pedang musuh. Ada suara logam yang sama dan percikan bunga api seperti sebelumnya, dan keduanya membuka jarak sekitar empat mel.
Sikap knight kedua, juga, sangat rusak. Itu wajar saja, mempertahankan postur setelah serangan habis-habisan pedang besarnya ditahan akan sangat sulit terlepas dari seberapa banyak kekuatan fisik mereka. Apa yang harus dipuji, bagaimanapun, adalah keahlian Kirito, karena memukul mundur pedang lawan dengan gerakan minimum dan dengan anggun menyerap tolakkannya, menggeser ke sikap ofensif berikutnya dengan segera.
Namun.
Bahkan tanpa memberikan waktu untuk membuat gerakan, Eugeo melihat knight ketiga menyerang Kirito sekali lagi, langsung setelah ia mendarat. Sebelum penglihatannya dicuri oleh tabrakan antara pedang dan pedang untuk ketiga kalinya, Eugeo memaksa matanya ke belakang.
"―!!"
Dan dia menggertakan giginya. Pada saat itu Kirito menyilangkan pedang dengan knight ketiga, knight keempat sudah mulai menyerang maju.
Bagaimana bisa mereka memprediksi gerakan Kirito dengan begitu akurat? Reaksi Kirito akhirnya rusak setelah diserang secara horisontal. Meski begitu ia berhasil menahannya entah bagaimana, pakaian hitamnya bergoyang di udara, mungkin karena gaya yang mendorongnya mundur.
――Jadi begitu.
Butuh waktu lama, tapi Eugeo menyadari niat keempat knight.
Semua serangan knight menebas secara horisontal dari kiri ke kanan. Menangkis itu dengan pedangnya akan membatasi arah kemana ia akan terlempar, untuk tingkat tertentu. Dengan itu sebagai tujuan mereka, knight berikutnya akan mengulangi tebasan horisontal. Jarak yang lebih luas bila dibandingkan dengan tusukan dan ayunan vertikal, bersama dengan panjang pedangnya, bisa memberikan perkiraan kasar yang cukup bagi mereka untuk menangkap Kirito dalam jangkauan tebasan mereka, walau hal itu dilakukan di awal.
Itu pasti «skill serangan berturut-turut melalui kelompok» dari integrity knight yang seharusnya tidak memiliki secret move dengan serangan berturut-turut. Mereka benar-benar berbeda dari pendekar pedang di ibukota yang murni mengejar keindahan gaya, mereka adalah prajurit sejati yang terbentuk melalui pertarungan yang sebenarnya dengan Dataran Kegelapan.
Namun, taktik terkoordinasi para knight itu tidak sempurna.
―Sadari itu, Kirito, ada cara untuk melawannya jika kamu tahu!
Sebuah erangan serak keluar dari tenggorokan Eugeo saat ia mencoba berteriak. Lidah dan bibirnya akhirnya mulai bergerak. Saat ia menggerakkan mulutnya putus asa agar otot-otot kakunya dapat melonggar, untuk memulai ritual sihir bahkan sesaat lebih cepat, Eugeo dengan panik berdoa sambil menatap partnernya. Supaya ia dapat menyadarinya.
Setelah menangkis pedang knight keempat, akhirnya pendaratan Kirito tergelincir, dan menaruh satu tangannya ke lantai.
Pedang knight pertama meraung saat itu melancarkan serangan, menyerang setelah pulih dari dampak.
Kirito segera menjatuhkan bagian atas tubuhnya ke belakang, menyelip di bawah pedang. Sebagian rambut hitamnya melakukan kontak dengan pedang dan terpotong.
Ya― Jika serangan masuknya hanya tebasan horisontal, ia hanya harus menghindarinya ke atas atau ke bawah bukan menangkis dengan pedangnya.
Tapi penghindaran itu harus dikombinasikan dengan serangan balik. Jika ia terjatuh, akan ada jeda singkat, tidak, sesuatu yang lebih panjang dari itu sebelum ia bisa mengambil tindakan lagi.
Sepertinya knight kedua yang mendekat dari kiri Kirito sama sekali tidak berniat melepaskan jeda itu. Dengan gesit menggeser pedang yang mengarah ke samping atas, knight mengeksekusi tebasan vertikal dengan kekuatan penuh.
"B ...!!"
Bahaya, Eugeo mencoba berteriak, mengabaikan rasa sakit yang muncul di tenggorokannya. Namun, itu tidak pada waktunya. Itu adalah ketika ia secara naluriah mengalihkan tatapannya, tidak mengharapkan dia untuk dapat menghindar―
Knight pertama yang baru saja menyelesaikan ayunan pedang di sebelah kanan Kirito bergetar keras.
Kirito tidak hanya berada di atas. Dua kakinya mencengkeram pada knight tanpa ia sadari, menarik knight turun ke bawah.
Knight kedua tidak bisa menghentikan tebasan dan pedang besar itu menebas punggung temannya. Knight yang menarik pedangnya sambil menunjukkan tanda-tanda syok diserang oleh flash hitam yang membentang dari bawah.
Kirito, dengan akurat menebas kedua lengan knight saat ia bangun, berbalik ke arah knight ketiga yang muncul untuk menyerang dalam kekacauan dan menangkisnya dengan sekuat tenaganya. Seperti yang diduga, knight ketiga tidak bisa menebasnya dan menghentikan serangan.
Akhirnya, serangan berturut-turut dari kelompok Fanatio yang disebut «Four Oscillation Blades» berakhir.
Kirito berlari secepat kilat melalui celah itu. Bahkan tanpa melirik keempat knight, ia meluncurkan serangan terhadap Fanatio, yang sedang membaca sihir kontrol penuh.
Kumohon kena―!
Eugeo dengan panik berdoa.
"Tingkatkan ...!"
Teriak Fanatio.
"Uooooh!"
Kirito melolong, pedangnya diangkat tinggi dari jauh. Normalnya itu tidak akan sampai, tapi pedang mengeluarkan cahaya kuning-hijau segera setelahnya. Aincrad-style secet move, «Sonic Leap». Itu adalah tebasan vertikal satu serangan seperti «Vertikal», tapi memiliki kemampuan untuk menyerang maju lebih dari dua kali lipat jarak dalam sekejap.
Fanatio membalik titik ramping pedangnya pada Kirito yang menerkam dengan menelusuri jejak cahaya. Namun, itu tidak mungkin untuk senjata ramping seperti itu untuk menahan dampak secret move sekeras apa pun dia mencoba. Pedang panjang yang terbuat dari Gigas Cedar memiliki berat yang lebih tinggi dari Pedang Blue Rose, instrumen suci. Melakukan serangan tebasan dengan kecepatan dewa seperti itu, akan cukup untuk menghancurkan sesuatu seperti pedang ramping itu sampai hancur berantakan, walau ada tiga pedang sama yang dikumpulkan.
Itu terjadi ketika knight berpakaian hitam mencapai puncak melompatnya dan mulai mengayunkan pedangnya ke depan―
Kilat datang dari pedang ramping di tangan knight.
Tidak, lebih tepatnya, seperti seluruh pedang berubah menjadi cahaya putih kebiruan, itu menyerang maju dengan kelincahan yang menakutkan.
Sinar cahaya ramping menembus sisi kiri Kirito tanpa suara, terus menuju langit, dan membuat ledakan kecil seperti itu mengenai langit-langit grand koridor. Itu semua berakhir dalam sekejap.
Secret move Kirito terguncang dan perutnya tertembus, serangannya hanya mengenai sayap dekoratif pada helm Fanatio, itu dengan paksa dialihkan ke udara.
Nyaris tidak ada darah yang bisa dilihat mengalir dari lukanya dan Eugeo tidak berpikir kalau Nyawanya menurun banyak, tapi Kirito terjatuh di lututnya setelah mendarat. Ketika ia memfokuskan matanya cukup keras, ia melihat asap pucat keluar dari sekitar lubang kecil yang ada pada bajunya.
Itu mungkin serangan jenis api? Namun, cahaya yang dilepaskan dari pedang Fanatio adalah putih menyilaukan yang hampir biru. Eugeo belum pernah melihat warna seperti itu sebelumnya.
Berbalik dengan gerakan yang begitu halus hingga terlihat menjijikkan, Fanatio menunjuk ujung pedang rampingnya tepat pada Kirito yang meringkuk di lantai.
Dengan suara samar 'sha', sinar cahaya keluar lagi. Jika bukan karena Kirito bergerak ke arah kiri segera sebelum itu, cahaya mungkin akan menembus kaki kanannya. Sinar cahaya yang meleset menusuk lantai marmer dan membuat ledakan kecil sekali lagi. Ketika cahaya memudar, lubang merah cerah melelehkan permukaan di sana.
"Tidak ... mungkin ...!"
Eugeo tidak menyadari suara serak yang keluar dari mulutnya sendiri untuk sementara waktu.
Bahan yang digunakan untuk membangun katedral adalah marmer dari kelas tertinggi, seperti «dinding abadi» yang membagi Centoria Pusat seperti salib, jika dilihat dari warna putih bersih dan sebening kacanya. Itu bukan sesuatu yang bisa meleleh tak peduli seberapa panas api yang digunakan. Bukankah karpet yang terbakar ketika api neraka yang dibuat oleh Deusolbert «Conflagrant Flame Bow» yang mengenai lantai cukup untuk dianggap sebagai bukti untuk hal itu?
Dengan kata lain, hal itu akan membuat sihir kontrol penuh Fanatio jauh lebih kuat daripada skill Deusolbert, jika yang dibandingkan adalah serangan jenis api. Jadi bukankah Nyawa Kirito yang terkena tembakan langsung dari skill tersebut akan berada di ambang menghilang?
Kirito tidak berhenti di satu tempat, ia terus melompat ke arah berbeda saat Eugeo yang memandangnya dengan erat mencengkeram kepalan tangannya yang diliputi rasa takut yang dingin. Sinar cahaya berkelebat keluar satu demi satu, menusuk ke dalam tanah, saat pedang Fanatio mengejar dirinya.
Sebuah skill yang sangat mengerikan karena itu tidak mengeluarkan gerakan sebelum cahayanya keluar, seperti tinggal mengumpulkan cahaya atau menyodorkan pedang. Setidaknya, Eugeo tidak bisa menebak kemana pedang ramping itu akan menembakkan sinar cahayanya. Menggambarkannya sebagai sesuatu yang memiliki rentang yang sangat panjang akan sama seperti «Frost Scale Whip» Eldrie, tapi miliki Eldrie hanyalah mainan anak kecil jika dibandingkan dengan yang satu ini.
Tidak menunjukkan tanda-tanda menembak sama sekali, Fanatio terus mengejar Kirito dengan gerakan halus seperti tarian. Kirito bisa mengelak hingga empat, lima, enam tembakan darinya semata-mata karena kemampuan fisik luar biasa dan intuisi liarnya.
Namun, pada akhirnya, cahaya yang melesat keluar untuk ketujuh kalinya mendeklarasikan berakhirnya pertarungan ini.
Shaa! Bagian atas kakinya tertusuk di udara dengan sinar cahaya yang hangus di udara saat itu mengenainya, Kirito jatuh ke lantai, bahu pertama, dan postur tubuhnya hancur. Tapi tetap saja, ujung pedang Fanatio dengan kokoh mengarah ke sedikit bagian di bawah rambut hitamnya dan cahaya keluar.
"Ki ......"
―Rito, Eugeo mencoba berteriak sebelum dia menyadari mati rasa yang ada di tenggorokan dan mulutnya akhirnya menghilang. Dia mungkin mampu untuk menyelesaikan ritual sihir saat ini.
Alih-alih berteriak, Eugeo terus menempatkan kekuatan ke dalam perutnya dan mulai membaca ritual sihir dengan volume terendah agar knight tak dapat mendengarnya, tapi cukup keras untuk mencapai dewi penciptaan.
"Sistem panggil ..."
Kirito akan mampu melewati bahaya ini sendiri. Oleh karena itu, hanya ada satu hal yang harus Eugeo lakukan, membaca sihir kontrol penuh seperti yang Kirito minta padanya, membuatnya siap untuk diaktifkan kapanpun dibutuhkan.
Dengan pedang kematian mengarah langsung pada Kirito, Fanatio diam untuk sementara waktu, seolah untuk memprovokasinya, sebelum dia berbicara dengan suara membosankan.
"... Saya telah diberi nasihat, bahwa berceloteh pada saat-saat seperti ini adalah kebiasaan buruk saya, dari Pemimpin Knight selama lebih dari seratus tahun, tapi ... tetap saja, itu terasa seperti kesengsaraan. Setiap orang yang berbaring tak berdaya di bawah otoritas «Heaven Piercing Swors» saya hanya bisa menunjukkan ekspresi bodoh, Anda tahu. Saya kira Anda juga bertanya-tanya apa sebenarnya bentuk sesungguhnya dari teknik yang mampu memojokkan diri anda semudah ini."
Tampaknya empat knight di bawah Fanatio telah selesai merawat luka mereka, karena mereka mengepung Kirito dari belakang, memegang pedang besar mereka dengan satu tangan. Hal ini membuatnya lebih sulit untuk melarikan diri, tapi meningkatkan kemungkinan untuk memperpanjang narasi Fanatio. Berkonsentrasi penuh agar tidak ada kesalahan dalam pengucapan sihirnya untuk menghindari kegagalan, Eugeo terus merangkai ritual sihir dengan sekuat tenaga.
"Anda mungkin penjahat, tapi saya rasa Anda tahu tentang cermin jika Anda telah tinggal di ibukota?"
Fanatio tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang datang entah dari mana dan ekspresi bingung muncul di wajah Kirito bahkan saat ia menahan rasa sakitnya.
Cermin.
Tentu saja, Eugeo telah melihatnya sebelumnya juga. Benda itu tidak ada di satu rumah pun di Rulid, tapi ruang pribadinya di asrama elit pendekar pedang-dalam-pelatihan akademi dilengkapi dengan satu cermin kecil. Itu adalah benda misterius yang memantulkan gambar jauh lebih jelas dari permukaan air dan lembaran logam, namun Eugeo tak menyukai penampilan lemahnya, jadi dia tidak sering menggunakannya.
Dengan pedang yang dapat menembakkan cahaya kapanpun pada Kirito jika ia membuat gerakan sekecil apapun, Fanatio melanjutkan dengan suara yang terdengar tidak mengandung emosi.
"Itu adalah sebuah komoditas yang sangat dihargai yang dibuat dengan menuangkan perak cair ke kaca, saya ragu akan ada banyak penduduk di luar ibukota yang memiliki kesempatan untuk melihatnya, tapi ... alat itu mampu memantulkan cahaya Solus dengan nyaris sempurna. Saya penasaran apa Anda memahami hal itu ... ya, alasan di balik mengapa daerah yang disinari oleh cahaya yang dipantulkan itu menjadi dua kali lebih panas. ―Seratus tiga puluh tahun yang lalu, yang mulia, pendeta tertinggi, menyita koin perak dan barang-barang lain yang terbuat dari perak, dan memerintahkan pengrajin kaca untuk menciptakan seribu panel kaca besar. Mereka dibuat untuk sihir ofensif yang tidak membutuhkan pembacaan ... percobaan yang bernama «persenjataan», Anda tahu. Seribu cermin, dibariskan membentuk setengah lingkaran di halaman depan katedral, memantulkan cahaya pertengahan musim panas Solus dan memfokuskannya ke satu tempat, menciptakan neraka putih bersih. Itu melelehkan sebuah batu besar berukuran seorang pria hanya dalam beberapa menit."
Persenjataan ... neraka putih ...?
Eugeo sama sekali tidak mengerti arti kata-kata Fanatio. Namun, dengan intuisinya ia tahu, bahwa skema pendeta tertinggi itu pasti sama mengerikannya dengan menyuruh anak membunuh satu sama lain dalam rangka menstabilkan sihir kebangkitan.
"―Pada akhirnya, yang mulia pendeta tertinggi menilai itu memerlukan terlalu banyak persiapan sebelum hal itu layak digunakan dalam pertempuran. Namun, ia mengataknkan akan terlalu sayang jika semua itu sia-sia, dan dengan mukjizat ilahinya, dia mengumpulkan seribu cermin besar itu, menyatukannya, dan menciptakan sebuah pedang. Itu adalah instrumen suci ini, «Heaven Piercing Sword». Apa anda mengerti, penjahat? Apa yang menembus perut dan kaki anda adalah kekuatan dari cahaya Dewi Solus sendiri!"
Kata-kata dari integrity knight yang diwarnai dengan keangkuhan samar, membuat Eugeo terkejut hingga ia nyaris membuat kesalahan pada pembacaan ritual sihirnya yang hampir selesai.
Cahaya Solus yang dikumpulkan oleh seribu cermin―adalah bentuk sebenarnya dari sinar putih terang itu?
Mungkin untuk menangkal serangan elemen termal dengan elemen kriogenik. Tapi bagaimana caranya serangan cahaya dilawan? Di tempat pertama, sihir dengan elemen cahaya sebagai sumber dayanya hampir tidak memiliki kemampuan ofensif langsung, sepengetahuan Eugeo. Sebuah cahaya yang menyilaukan bisa dilawan dengan sihir elemen umbra, tapi sinar cahaya pada tingkat itu mungkin untuk menembus sepuluh atau dua puluh elemen umbra yang menahannya dengan mudah.
Tidak peduli dengan kegelisahan yang ada di dalam hatinya, mulut Eugeo terus membacakan ritual sihir, setengah otomatis, dan akhirnya mencapai baris terakhir. Kekuatan tersembunyi di dalam Pedang Blue Rose akan dipanggil setelah meneriakkan kalimat terakhir, «tingkatkan persenjataan». Tapi ia harus menunggu sinyal Kirito.
Fanatio tampaknya telah kehabisan hal untuk dibicarakan dan mengarahkan pedangnya pada kepala Kirito.
"Kirito, apa Anda paham kekuatan dari pedang saya yang akan menghapus Nyawa Anda? Maka saya akan membuat Anda bertobat dari dosa-dosa Anda, mempercayakan iman tulus Anda kepada tiga dewi, dan meminta belas kasih mereka sebelum Anda mati. Jika Anda melakukannya, cahaya spiritual pemurnian akan membersihkan dosa-dosa jiwa Anda dan membimbingnya ke Dunia Surgawi. Sekarang―selamat tinggal, penjahat yang tidak dewasa dan bodoh."
Heaven Piercing Sword bersinar menyilaukan, memproyeksikan sinar cahaya yang akan menyerang jantungnya.
"Serang!"
Ketika teriakan itu mencapai telinga Eugeo.
Sebelum pedang Fanatio bersinar, Kirito memukul kedua tangannya bersama-sama dengan 'pan!' Dan menahan mereka di depan. Apa yang muncul di depan telapak tangannya adalah sebuah lembaran berwarna perak.
Tidak, bukan itu. Itu bukan hanya selembar logam. Lembaran persegi sempurna itu dengan jelas mencerminkan helm Fanatio selagi knight itu berdiri di depan Eugeo.
Mata Eugeo melihat elemen dengan dua warna yang berbeda digenggam di tangannya sebelum disatukan bersama-sama.
Cahaya di tangan kanannya adalah elemen logam. Itu digunakan untuk menembakkan jarum atau menciptakan alat biasa, elemen tipe logam. Dan apa yang ada di tangan kirinya adalah elemen kristal. Itu elemen tipe kaca yang digunakan untuk menciptakan penghalang tak terlihat dan cangkir kaca. Dengan keduanya dibentuk menjadi bentuk lembaran dan disatukan, objek yang dibuat adalah―
Sebuah cermin.
Tombak cahaya yang menyembunyikan panas yang ekstrim mengenai cermin yang diciptakan oleh ritual sihir Kirito dan merubah warnanya dari keperakan menjadi oranye dalam sekejap.
Nyawa alat yang dibuat dari elemen sangatlah rendah. Walau sebuah pedang tampak sama di luar, dibandingkan dengan pedang yang ditempa dari bijih besi yang bisa bertahan selama puluhan tahun, pedang yang dibentuk dari elemen logam hanya akan bertahan dalam hitungan jam dan menghilang. Cermin itu juga pasti sama, sangat diragukan itu akan memiliki daya tahan untuk membelokkan cahaya Heaven Piercing Sword.
Saat Eugeo sekilas memikirkan itu, cermin hanya muncul di udara selama sepuluh detik. Kaca dan logam meleleh menjadi cairan dan sinar cahaya langsung mengarah pada Kirito, mempertahankan delapan puluh persen sinarnya.
Namun, hal itu sangat berguna bagi Kirito. Memang bukan apa-apa, tapi dia berhasil memiringkan tubuhnya ke kiri dan cahaya hanya menghanguskan sebagian rambut hitam dan pipinya sebelum lewat ke belakangnya.
Dan sisa dua puluh persen cahaya yang tertangkap oleh cermin―
Dibelokkan pada sudut tajam dan mengarah pada helm Fanatio.
Itu seharusnya gerakkan yang tidak dapat diprediksi, tapi seperti yang diduga dari integrity knight kedua, sinar cahaya dihindarinya dengan memiringkan kepala ke kanan dengan refleks yang setara atau lebih tinggi dari Kirito. Namun, knight tidak bisa melindungi sayap dekoratif yang tumbuh di sebelah kiri dan kanan helm. Dekorasi di sebelah kiri terkena cahaya dan ikatan helmnya hancur―helm pecah menjadi dua, depan dan belakang, segera setelah itu.
Pandangan Eugeo dicuri oleh lebatnya rambut yang keluar pada saat itu.
Itu berwarna hitam pekat seperti rambut Kirito. Tapi rambutnya jauh lebih berkilau. Rambut panjang yang mengalir berombak, yang pasti telah dirawat dengan hati-hati, berkilau mempesona dalam cahaya tengah hari yang datang dari jendela besar.
Mengapa seseorang knight seperti―
Saat Eugeo tanpa sadar menanyakan itu, ia bisa melihat wajah Fanatio dengan cepat ditutupi dengan tangan kirinya yang terangkat.
Dan Fanatio berteriak.
"Kau melihatnya, kan ... kerdil!"
Itu benar-benar berbeda dari suara metal melengkung yang berasal dari helm sebelumnya; itu bernada tinggi, halus dan lentur.
Dia perempuan―!?
Rasa luar biasa terkejut membuat Eugeo mengeluarkan suaranya, menghancurkan status siaga ritual sihirnya.
Dia dengan erat menutup bibirnya untuk mencegah kata-kata yang tidak perlu keluar. Namun, bagian dari kesadarannya tetap tertarik pada sosok Knight Fanatio yang mundur.
Perawakannya sama seperti Kirito atau lebih tinggi, tapi ketika ia menilainya dengan pikiran itu dalam otaknya, garis tubuh dari punggung ke pinggangnya sungguh ramping. Namun, ia masih benar-benar yakin dia adalah seorang pria sampai sekarang.
Mereka telah menemui knight seperti Alice Synthesis Thirty, atau Linel dan Fizel, meski mereka adalah anak-anak, jadi tidak ada alasan untuk heran bahwa ada cukup banyak perempuan dalam integrity knight. Di tempat pertama, hampir setengah dari pelajar di akademi adalah gadis seperti Tieze dan Ronye. Banyak integrity kngiht yang dibuat dari peringkat mereka, jadi tidak ada yang aneh tentang knight kedua adalah perempuan.
Ketika ia merenung mengapa ia begitu terkejut, Eugeo menyadari bahwa itu karena ucapan dan perilaku Fanatio sampai sekarang yang terlalu maskulin.
Jika itu yang terjadi, alasan kemarahan yang muncul dari Fanatio bukan karena wajahnya terlihat―mungkin karena mereka mengetahui dia adalah perempuan.


Tampaknya Kirito, yang berdiri di lantai dengan bertumpu pada satu lutut, kehilangan ekspresi rasa sakit dari luka bakar di pipinya juga, karena tampilan heran muncul di wajahnya.
Memelototi Kirito yang berjongkok melalui celah-celah antara jari-jari di tangan kirinya, Fanatio berbicara lagi.
"Jadi kau ... membuat wajah semacam itu juga, huh, kriminal. Jadi, bahkan kalian, yang bersalah karena melakukan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap gereja, tidak akan bertarung dengan serius saat kau tahu aku seorang gadis?"
Meskipun ratapan praktis keluar dari dirinya, suaranya yang indah, mengingatkannya akan instrumen senar yang dimainkan oleh seorang ahli.
"Saya bukan manusia ... Saya seorang integrity knight yang dipanggil ke tanah ini dari Dunia Surgawi ... Namun saya harus menderita cemoohan tersebut dari Anda, begitu Anda tahu saya adalah perempuan! Tidak hanya di antara teman-teman saya ... tapi bahkan dari komandan inkarnasi kejahatan, knight kegelapan!"
―Bukan; tak satu pun dari kami yang meremehkan Anda.
Setelah menjawab demikian dalam benaknya, sebuah pikiran muncul dalam otak Eugeo.
Dia telah melawan banyak swordswomen selama dia menjadi penjaga di Zakkaria dan saat ia mulai belajar di akademi. Ada beberapa di antara mereka yang memiliki skill yang lebih hebat dari Eugeo dan tentu saja, ada kalanya dia kalah melawan mereka. Melalui semua pertarungan itu, Eugeo tidak akan meremehkan lawannya hanya karena mereka adalah perempuan dan ia sangat menghormati para ahli di lapangan terlepas dari gender mereka.
Namun―bagaimana jika itu bukan pertandingan di mana lawan akan menang sebelum membuat kontak atau setelah serangan pertama, tapi pertarungan hidup dan mati yang sebenarnya? Bisakah ia benar-benar menghapus Nyawa lawannya tanpa ragu-ragu ...?
Itu adalah pertama kalinya ketika Eugeo benar-benar mempertimbangkan sesuatu dan kehabisan nafas.
Kirito yang meringkuk di lantai menghembuskan napas dan melompat.
Itu adalah tebasan bawah dari kanan tanpa tipuan atau bahkan secret move. Namun, pedang yang bergerak pada kecepatan mengerikan itu terlihat kabur bahkan dalam mata Eugeo. Rasanya seperti keajaiban, Fanatio berhasil menangkisnya tepat waktu karena hatinya sedang kacau. Gaan! Dampak yang menusuk telinga bergema melalui koridor, menghamburkan bunga api yang menerangi wajah keduanya dengan jelas sejenak.
Fanatio dengan terampil menghentikan tebasan itu dekat pelindung pedang rampingnya, tapi dia tidak bisa menahan dorongan dan dipaksa mundur beberapa langkah. Kirito mengunci pedang mereka bersama-sama dan mendorong tubuh ramping knight perempuan itu tanpa mengurangi tekanan. Lutut Fanatio, yang terbungkus armor ungu, mulai bengkok sedikit.
Kirito tiba-tiba berbicara dengan nada rendah.
"Jadi begitu, itu menjelaskan bahwa penggunaan pedang dan skill itu untuk menyembunyikan bahwa Anda seorang wanita ketika bertarung ... benar kan, Fanatio ojou-sama?"
"Kau ... bajingan!"
Teriakkannya terdengar seperti jeritan; Fanatio memaksa pedangnya kembali saat mereka menyerang satu sama lain.
Ketika Eugeo mengalihkan penglihatannya yang terjebak pada keduanya, dia bisa merasakan tanda-tanda bahaya dari empat knight di sekitarnya juga. Mungkin ada beberapa di antara mereka yang tidak tahu wajah asli Fanatio. Eugeo tidak tahu apa-apa tentang dua gadis yang lumpuh di sebelah kanannya, namun.
Membuka diri pada mata knight, Kirito dan Fanatio melanjutkan kompetisi habis-habisan mereka. Kirito jelas menang dalam hal berat badan dan berat pedang, ia duga. Tapi setelah terdorong mundur sekali, Fanatio tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dengan kekuatan fisik yang tak terbayangkan dari lengan rampingnya.
Kirito melemparkan kata-katanya sekali lagi dari kesenjangan dalam gigi terkatupnya.
"... Saya akan mengatakan ini dahulu, tapi apa yang membuat saya terkejut tadi, adalah bagaimana tekad pada pedang anda yang sangat menurun sesaat setelah helm Anda pecah. Menyembunyikan wajah Anda, menyembunyikan ayunan pedang Anda ... bukankah Anda yang paling sadar bahwa Anda adalah seorang wanita?"
"D ... diam! Aku akan membunuhmu ... Aku pasti akan membunuhmu ...!"
"Itulah yang saya rencanakan juga. Saya sama sekali tidak akan meremehkan Anda hanya karena Anda seorang wanita; bagainamapun, saya selalu kalah oleh swordswomen sepanjang waktu ini!"
Memang benar bahwa Kirito selalu dikalahkan oleh Sortiliena-senpai, yang ia layani sebagai valet, sejauh yang Eugeo tahu. Tapi Eugeo percaya ia tidak benar-benar mengacu pada pelatihan atau praktek pertandingan. Seolah-olah ia mengatakan bahwa ia benar-benar kalah oleh swordswomen di tempat lain, dalam pertarungan nyata di masa lalu ...
Pada saat itu, kaki kanan Kirito tiba-tiba maju dan menyandung kaki Fanatio. Bagian atas tubuhnya bergoyang dan dua pedang membuat percikan saat mereka berpisah. Tanpa menunda sejenak, ia menusukkan pedang hitamnya dengan satu tangan.
Namun, tangan kanan integrity knight melintas dengan kecepatan dewa dan pedang rampingnya menahan pedang hitam dari samping seperti makhluk hidup. Meluruskan postur tubuhnya sambil menghindari rute dorongan, ia mengambil langkah mundur untuk melebarkan jarak.
Kirito pulih dengan cepat juga. Menggunakan momentum dari dorongan, ia menyerang dada lawan seperti sedang menghantam tubuhnya dan mempertahankan jarak dekat. Bagaimanapun, pertarungan jarak jauh tidak akan dapat mengalahkan Fanatio yang memiliki skill yang dapat menembakkan sinar cahaya tanpa persiapan.
Benturan kecepatan ultra-tinggi pedang dimulai pada jarak mendekati nol.
Apa yang menakutkan Eugeo adalah bagaimana Fanatio menahan serangan berturut-turut gila Kirito tanpa mundur selangkahpun. Pedang hitam yang meluncurkan serangan dari atas, bawah, kiri, dan kanan ditahan oleh pedang ramping, yang dengan bebas berkedip di sekitar, membalas dengan menyodorkan dua atau tiga serangan berturut-turut setiap kali ada pembukaan sekecil apapun. Keduanya tidak menggunakan secret move, tapi itu karena mereka bahkan tidak bisa menemukan pembukaan untuk melakukan sikap awal.
Setiap gaya pedang tradisional di Dunia Manusia hanya memiliki skill pedang satu serangan dan tampaknya Integrity Knight Deusolbert bahkan tidak tahu tentang skill serangan berturut-turut. Itu berarti Fanatio melatih skill pedang berturut-turutnya melalui usaha sendiri. Alasan di balik itu pasti tidak berhubungan dengan pernyataan Kirito beberapa waktu yang lalu.
Cahaya dari Heaven Piercing Sword, untuk mengalahkan musuh tanpa mendekat. Atau skill serangan berturut-turut, untuk mengalahkan musuh dengan serangan berturut-turut walau dia tidak mampu menggunakan sihir kontrol penuh dan kehilangan inisiatif.
Dengan kata lain, knight wanita, Fanatio, takut musuh mendekatinya dan melihat apa yang tersembunyi di bawah armornya.
Tapi kenapa ...? Kenapa dia berusaha keras menyembunyikan jenis kelaminnya sendiri?
Selagi merefleksikan keraguan baru yang muncul, mata Eugeo terpaku pada pertarungan antara keduanya. Sepertinya empat knight di bawah Fanatio juga sama, mereka menonton pertarungan ganas tanpa bergerak sedikit pun dan pedang besar mereka diturunkan.
Sungguh, ini seperti―
Seperti pertarungan yang luar biasa.
Pada jarak dekat, keduanya nyaris tidak menggerakkan kaki mereka dan terus bertahan melawan rentetan tebasan atau tusukan yang melesat bolak-balik hanya dengan menghindarinya atau menangkisnya. Suasana di sekitar keduanya seperti ada sejumlah besar bintang-bintang yang mengalir, memantul kembali, dan hilang, satu demi satu. Bahkan tabrakan antar baja memiliki keindahan tertentu, mengingatkan akan salah satu pertunjukan instrumen perkusi oleh dua orang.
Senyum dingin merayap ke wajah Kirito yang mulai pucat saat ia mengeksekusi teknik dengan semangat seperti itu, rasanya seperti dia benar-benar menyatu dengan pedang hitam. Pertarungan jarak dekat seharusnya telah menutup penggunaan cahaya Solus, tapi saat ini dia tampaknya hanya tenggelam dalam kegembiraan yang memancar dari skill pedang dan juga isi hatinya.
Di sisi lain, Fanatio seharusnya tidak memiliki alasan untuk terus melakukan pertarungan jarak dekat dengan lawannya. Jika dia mendapatkan salah satu bawahannya untuk menyerang Kirito dari belakang, mengambil pembukaan untuk mendapatkan beberapa jarak, dan menembakkan sinar cahaya lagi, tidak akan ada kemungkinan lagi Kirito akan bertahan.
Meski demikian, integrity knight dengan rambut panjang hitamnya yang berkibar tampaknya mencoba untuk menyelesaikan pertarungan melalui serangan langsung dengan pedang rampingnya. Eugeo tidak bisa menyimpulkan alasan untuk itu. Karena kemarahan yang disebabkan oleh provokasi Kirito? Harga dirinya sebagai seorang knight tidak bisa membuatnya mundur? Atau mungkin, dia juga telah menemukan sesuatu dalam pertukaran skill serangan berturut-turut ini, pertempuran luar biasa ini?
Eugeo tidak bisa melihat apa-apa selain punggung Fanatio dari posisinya; dia tidak tahu ekspresi seperti apa yang muncul di wajahnya.
Menebak dari beberapa komentarnya, ia menduga Fanatio telah melayani gereja sebagai integrity knight hampir selama seratus tiga puluh tahun, dengan kemungkinan lebih dari itu. Itu adalah waktu yang Eugeo bahkan tak bisa bayangkan, dengan dirinya sendiri tidak yakin apakah ia bahkan bisa mencapai umur sembilan belas tahun.
Dia tidak tahu berapa tahun telah berlalu sejak ia menyembunyikan wajah dan jenis kelaminnya, tapi jika dia melatih semua skill pedang berturut-turut melalui usahanya sendiri, itu bukan hanya latihan sepuluh atau dua puluh tahun. Kirito hanya bisa terus bertarung dengan Fanatio sekarang juga karena ia adalah seorang pengguna skill serangan berturut-turut yang langka, Aincrad-style. Jika ini adalah pendekar pedang lain, mereka mungkin telah bersujud di tanah, tidak dapat mengambil bahkan satu langkah pun dalam jangkauan pedang itu.
Oleh karena itu, Kirito mungkin lawan pertama yang dihadapi Fanatio yang bisa melawan semua skill pedangnya.
Mereka mungkin integrity knight, tapi pengagungan keindahan dan kegagahan dalam menggunakan satu serangan terbukti pada gaya bertarung Eldrie dan Deusolbert. Karena itu, ia ragu bahwa Fanatio menampilkan skill serangan berturut-turutnya dalam latihan dengan seorang knight sebagai pasangannya. Dia telah berlatih sendiri untuk waktu yang sangat lama, tanpa ada seorang pun kecuali bayangan imajiner; seorang pengguna skill serangan berturut-turut yang sama kemudian muncul, mengambil bentuk sebuah entitas bernama Kirito.
Saat Eugeo melihat konfrontasi super keduanya, seluruh tubuhnya merinding tanpa ia sadari sampai air mata keluar dari matanya.
Sejak Kirito mulai mengajarinya Aincrad-style, pertarungan terhebat yang ia bayangkan dalam pikirannya sedang terwujud dalam kenyataan sekarang. Itu tidak memiliki keindahan gaya yang terus mencari kesombongan, tapi keindahan kacau yang murni diperoleh sebagai hasil dari keinginan untuk mengalahkan musuh.
Lima tusukan berturut-turut Fanatio mengambil lima tebasan berturut-turut Kirito secara bergantian, ditolak sangat jauh saat keduanya meneriakkan tekad mereka.
"Ryaaaa!"
"Seaaaa!"
Bahkan Eugeo, yang tergeletak jauh di tanah, bisa merasakan panas dari gelombang kejut yang disebabkan oleh bentrokkan pedang di kulitnya. Rambut hitam Kirito dan Fanatio yang melayang keras, pedang mereka yang berderit, dan keduanya beralih posisi.
Eugeo kehilangan napas sejenak saat wajah Fanatio akhirnya memasuki pandangannya.
Itu wajah yang cantik dan murni; salah satu yang mengingatkannya akan wanita suci dari dunia dongeng jika mereka benar-benar ada. Dia mungkin berada di usia pertengahan dua puluhan ketika melakukan perbuatan dosa, kulit halusnya seperti teh hitam yang dimasukkan banyak susu. Kedua alisnya berbentuk busur dan bulu mata panjangnya berwarna hitam, tapi matanya berwarna coklat tua kemerahan hampir mendekati emas. Penampilannya menunjukkan bahwa dia mungkin lahir di wilayah timur dan hidungnya cukup mancung. Rahangnya memiliki kelengkungan juga, menghasilkankan keanggunan yang sangat lembut. Dan bibir mungilnya berwarna sangat merah muda.
Rasa marah membunuh dari sebelumnya tidak lagi ada di wajah knight wanita itu. Sesuatu seperti kepasrahan, memendam semacam kesedihan tertentu, bisa dirasakan pada wajahnya sekarang.
"―Saya tahu sekarang."
Fanatio bergumam dengan suara menyihirnya selagi pedangnya menyerang.
"Penjahat, tampaknya Anda sedikit berbeda dari mereka yang bertarung dengan saya. Belum ada laki-laki yang mencoba membunuh saya seserius ini setelah mereka melihat wajah keji ini sampai sekarang."
"Keji―huh. Lalu untuk siapa Anda menyisir rambut dan mewarnai bibir merah itu?"
Pertanyaan Kirito provokatif seperti biasa, tapi Fanatio yang hanya menunjukkan tanda-tanda samar senyum sinis, menjawab dengan tenang.
"Saya sudah menunggu lebih dari seratus tahun untuk pria yang saya cintai untuk meminta lebih banyak dari saya, selain teknik pedang dan kepala terputus ... wajar bagi saya memiliki mood untuk memakai beberapa kosmetik setelah merindukannya begitu lama di bawah topeng baja itu dan berakhir dengan menemui seorang knight wanita baru, dengan wajah yang lebih cantik dari saya dan bisa dengan bebas memunjukkannya."
Seorang knight kuat yang lebih cantik daripada Fanatio. Dan juga perempuan.
Baru saja Eugeo menggigil memikirkan bagaimana lawan yang akan menunggu mereka nanti, ia menyadari bahwa ia tahu siapa integrity knight yang sesuai dengan kondisi tersebut. Tidak memakai helm, menjadi knight baru dalam beberapa tahun terakhir, seseorang yang memukul Eugeo dengan satu serangan berkecepatan dewa―Alice Synthesis Thirty.
Kirito seharusnya merenungkan kata-kata Fanatio juga, tapi ia sama sekali tidak mengungkapkannya saat ia bertanya lebih lanjut.
"―Apa hal yang paling penting bagi Anda? Jika integrity knight ada hanya untuk mematuhi perintah pendeta tertinggi, Anda bahkan tidak memerlukan hati yang mampu mengkhawatirkan cinta atau cemburu. Saya tidak tahu siapa pria itu, tapi jika Anda sudah memiliki cinta yang tak terbalas pada dirinya selama lebih dari seratus tahun ... itu berarti anda manusia. Itu karena anda manusia, seperti saya. Saya bertarung untuk menggulingkan gereja dan pendeta tertinggi, untuk memungkinkan manusia seperti Anda untuk mencintai dan hidup dengan normal!"
Bahkan Eugeo sangat terkejut mendengar kata-katanya. Dia tidak pernah tahu Kirito, yang selalu tampak menyendiri, memikirkan hal-hal seperti itu dalam pikirannya. Tapi pada saat yang sama, Eugeo juga menyadari suatu tempat di dalam suara partnernya memiliki gema, semacam kontradiksi.
Wajah Fanatio terdistorsi sekali lagi, meski hanya sekilas.
Melihat dahi halusnya, dia pikir «piety module» akan keluar seperti dalam kasus Eldrie, tapi perubahannya berakhir di sana.
"... Nak, anda tidak mengerti. Jika otoritas gereja hilang, siapa yang tahu jenis neraka apa yang nanti akan masuk ke dunia ini ... Tentara Dataran Kegelapan memperkuat pasukan mereka hari demi hari, berteriak-teriak di luar pegunungan ujung yang menutupi mereka. Aah ... saya akan mengakuinya, anda kuat. Dan bukan bawahan kegelapan atau penyusup berbahaya, seperti yang Kepala disebutkan, tampaknya. Namun, itu tidak mengubah fakta bahwa Anda adalah bahaya yang ekstrim. Dapat mempengaruhi gereja dan integrity knight bukan hanya dengan pedang itu, tapi juga kata-kata Anda ... Sebelum tugas terbesar diberikan kepada kami integrity knight, untuk melindungi Dunia Manusia dan penduduknya, cinta saya hanyalah kecil ... itu bahkan tidak layak untuk diambil, itu setara dengan sampah dari gandum."
Seolah Fanatio menepis keraguan itu, Heaven Piercing Sword dan pedang hitam yang saling beradu terus mengeluarkan suara berderit yang tampak pada batasnya, bahkan saat Fanatio berbicara dengan ekspresi serius. Sudah jelas bahwa salah satu dari mereka akan terlempar jika mereka mengurangi kekuatan mereka meski hanya sedikit.
Tidak, kedua pedang akan terus kehilangan Nyawa mereka untuk sementara waktu. Jika pedang tetap terkunci, yang pertama akan kehabisan Nyawa akan menjadi Heaven Piercing Sword. Bagaimanapun, jika statusnya sebagai instrumen suci berada di tingkat yang sama, satu yang Nyawanya lebih banyak akan menjadi yang lebih tebal dan lebih berat.
Tidak mungkin Fanatio tidak menyadari itu. Dan bagaimana dia akan tanpa ampun ditebas oleh Kirito saat pedangnya terdorong kembali, menciptakan pembukaan.
"Oleh karena itu―saya perlu mengalahkan Anda. Walau saya harus menginjak-injak harga diri saya sebagai seorang knight. Mencibir saya karena menang dengan skill yang tak sedap dipandang. Anda memiliki hak untuk melakukannya."
Setelah dengan lembut menyatakan semua itu, Fanatio melanjutkan dan berteriak.
"Cahaya yang tersembunyi dalam Heaven Piercing Sword, sekarang adalah waktu untuk melepaskan diri dari belenggu Anda!! ―Lepaskan Ingatan!!"
Ritual sihir ini―adalah sihir untuk melepaskan memorinya!
Pedang perak bersinar lebih terang daripada sebelumnya.
Setelah itu.
Shupaa! Beberapa sinar cahaya dikeluarkan dalam pola radial dari titik pedang dengan suara itu.
Eugeo secara naluriah berpikir itu dimaksudkan untuk membutakan. Untuk sejenak mengambil penglihatan Kirito dan menghancurkan postur tubuhnya sebelum memotongnya.
Namun, prediksinya benar-benar salah ketika salah satu sinar cahaya yang ditembak ke segala arah oleh Heaven Piercing Sword memukul lantai tepat di samping Eugeo, membuat lubang dalam pada marmer.
Itu bukan untuk membutakan―sama sekali bukan!
Kirito! Eugeo mengangkat tubuh bagian atasnya sambil berteriak di dalam hati. Ketika ia memfokuskan penglihatannya, sinar cahaya yang ditembakkan dari jarak dekat akan menembus lengan kanan Kirito. Itu tidak semua, ia sudah bisa melihat jejak hitam pekat tusukan di bahu kiri dan paha kanannya.
Dan Kirito bukan satu-satunya yang dikejutkan oleh sinar ultra-panas pada tubuh.
Pemilik dari Heaven Piercing Sword juga memiliki lubang pada armor bagian perut, bahu, dan kedua kakinya. Kedalaman luka-lukanya lebih buruk daripada Kirito. Namun, ekspresi penuh tekad yang ada pada wajah cantiknya tidak menurun sedikitpun.
Integrity Knight Fanatio Synthesis Two berencana untuk menghabisi Nyawanya juga, dengan Kirito sebagai rekannya.
Kata-kata dari pendeta tertinggi sebelumnya, Kardinal, berputar di dalam benaknya. Frase ritual, «lepaskan ingatan», membangkitkan semua memori senjata, melepaskan kekuatan mengamuknya. Sebuah kekuatan yang mampu memusnahkan nyawa seseorang yang tidak hanya menelan musuh, tapi juga dirinya sendiri.
Pelepasan Heaven Piercing Sword memberikan sebagian besar luka fatal bagi keduanya dalam jarak dekat, dan kerusakan besar pada empat knight di sekitarnya, dalam serangan awal. Ornamen suci di dalam grand koridor juga terkena dan terbakar secara brutal, sedangkan jendela kaca mahal hancur dalam sekejap. Hampir tidak ada sinar cahaya yang mengarah pada Eugeo dan kedua gadis yang lumpuh di dekatnya, tapi tetap saja, mereka akan menerima tembakan langsung cepat atau lambat.
Tidak peduli seberapa banyak cahaya yang dipancarkan, instrumen suci yang terbuat dari seribu cermin sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda jatuh ke dalam keheningan. Titik pedang bersinar pada interval sekitar satu detik, menembakkan sinar cahaya pendek tanpa tujuan. Setengah ditembakkan ke arah langit kosong, hanya mengenai dinding, pilar, dan langit-langit, tapi di antara setengah lainnya, yang menjangkau pada sudut yang lebih rendah, diterima oleh tubuh keduanya dalam jarak dekat.
Tidak dapat melepas pedangnya, Kirito hanya bisa menggelengkan kepalanya sebanyak yang dia bisa untuk menghindari cahaya yang mengarah pada dahinya. Cahaya menuju wajah Fanatio berikutnya, tetapi integrity knight itu tidak membuat sedikit pun gerakan. Sinar cahaya menyerempet pipinya, membuat alur merah gelap pada kulit halus tanpa cacatnya dan membakar sejumlah besar rambut hitamnya dalam sekejap.
"Kau ... idiot sialan!!"
Kirito berteriak dengan ekspresi putus asa. Tetesan darah segar tersebar dari mulutnya karena itu. Eugeo dengan mudah bisa membayangkan bagaimana tubuhnya yang menerima banyak sinar cahaya akan membuat Nyawa Kirito berada di ambang habis, tak peduli seberapa banyak ia memilikinya. Tapi pendekar pedang berpakaian hitam itu dengan keras kepala menolak untuk jatuh, bahkan memindahkan pedangnya ke asal sinar cahaya, ujung Heaven Piercing Sword, dan menutupinya dengan sisi pedang hitam.
Akibatnya, itu mungkin hanya menjadi penundaan sementara, tetapi semua cahaya yang ditembakkan ke arah Kirito dan Fanatio akhirnya terhalang oleh pedang hitam.
Sekarang―sekarang atau tidak pernah!
Kirito tidak membuat sinyal, tapi Eugeo tahu bahwa waktunya pasti telah datang melalui rasionalitas dan intuisinya.
Fanatio otomatis melawan, sementara empat knight di bawahnya mati-matian berlindung dari cahaya juga, menggunakan pedang besar mereka sebagai tameng, hampir tidak peduli lagi terhadap penjahat yang tersisa. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan sihir kontrol penuh Eugeo yang akan membuatnya terbuka lebar selama aktivasi jika ia menggunakannya pada saat ini.
Muncul dengan kekuatan intens, Eugeo menarik keluar Pedang Blue Rose yang telah ia cengkeram sepanjang waktu dalam satu pukulan.
"Tingkatkan ......"
Berputar di udara, menggerakkannya dengan ayunan lemah, dia mendukung pegangan dengan tangan kiri dan mendorongnya ke lantai marmer dengan semua kekuatan yang bisa ia kerahkan.
"―Persenjataan!"
Hampir setengah pedang biru pucatnya menusuk lantai.
Bashiiii! Disertai dengan ledakan bising yang tajam, lantai marmer seketika tertutup es putih murni.
Saat kristal es dengan tajam menusuk ke atas, gelombang dingin menyerang pada kecepatan yang sangat tinggi.
Sekitar lima detik setelah aktivasi, gelombang dingin dengan luas hampir sepuluh mel melanda Kirito dan Fanatio, bersama dengan empat knight, di kaki mereka.
Sepertinya keempat knight akhirnya menyadari adanya fenomena aneh. Wajah-wajah yang ditutupi oleh helm tersentak dan berbalik untuk menatapnya.
Tapi itu sudah terlambat.
Selagi Eugeo menempatkan semua kekuatan yang ia miliki ke kedua tangannya, ia berteriak keras.
"Mekarlah―Pedang Blue Rooose!"
Tak terhitung sulur es biru pucat tumbuh ke atas dalam sekejap, menuju empat knight, Fanatio, dan Kirito dari kaki mereka.
Setiap sulur hanya setebal jari kelingkingnya. Tapi semuanya memiliki duri, berkumpul dengan padat bersama-sama, dan dengan kuat memangsa kaki mereka.
"Nhn ..."
"A-Apa!?"
Para knight serempak berteriak. Sulur es sudah merangkak naik ke pinggang dan perut mereka dari kaki mereka saat itu. Ada beberapa yang mencoba untuk menghancurkan sulur dengan pedang besar mereka, tapi sulur melilit pedang berulang kali, membelenggu mereka ke lantai.
Para knight yang diserang oleh sulur, dari dada ke kepala mereka, bahkan sampai ujung jari mereka, membeku menjadi patung es. Akhirnya, dari sulur yang terus melilit buruan mereka sambil mengeluarkan suara-suara tajam 'kin' memunculkan jumlah tak terbatas mawar besar, yang memiliki warna biru yang mendalam, didahului oleh gema yang sangat jernih.
Tentu saja, semua itu adalah es dingin. Tidak ada aroma madu yang diproduksi oleh kelopak solid dan transparan itu, tapi untuk menggantikan mereka, mawar mulai memancarkan rasa dingin putih. Udara di dalam koridor diselimuti oleh kabut tebal dalam sekejap, berkilauan dan gemerlap. Sumber dari rasa dingin itu―adalah Nyawa para knight yang tertangkap.
Kecepatan penurunannya sangat bertahap, tapi mereka tidak bisa mengumpulkan kekuatan untuk memutuskan ikatan mereka selagi mawar es menyerap Nyawa dari seluruh tubuh mereka. Di tempat pertama, ritual sihir ini tidak dimaksudkan untuk membunuh musuh. Eugeo memutuskan sifat sihirnya semata-mata karena tujuan untuk menghentikan gerakan Integrity Knight Alice.
Keempat knight dibuat benar-benar tak berdaya, tapi seperti yang diharapkan dari orang yang mengatur mereka, sepertinya Knight Fanatio menyadari sifat dasar skill di saat sulur mulai membekukan dan melompat ke udara untuk melarikan diri.
Namun, Kirito, yang mengetahui sihir Eugeo, bereaksi sedikit lebih cepat. Setelah melompat tinggi untuk mengantisipasi Fanatio, Kirito menggunakan bahu swordswoman sebagai batu loncatan dan melompat lebih tinggi ke udara. Berjungkir balik ke arah belakang sambil menghamburkan darah segar, dia lolos dari sulur es.
Korbannya terdorong ke tanah; sulur melilit seluruh tubuh Fanatio saat ia terjatuh pada lututnya.
"Kuh ...!"
Mungkin karena konsentrasinya hancur, sinar cahaya yang keluar dari Heaven Piercing Sword berakhir setelah menghancurkan beberapa sulur, dan tenggelam dalam keheningan. Sulur tipis dengan cepat memintal benangnya ke sekitar armor yang rusak, membungkusnya ke dalam es tebal.


Mawar biru terakhir yang terbuka dari kaki Fanatio mekar dalam semua kemuliaan dan menutupi bekas luka yang ada di pipinya. Integrity knight kedua benar-benar berhenti bergerak bersama dengan instrumen suci.
Terlepas dari cedera parah di seluruh tubuhnya, Kirito berguling mundur beberapa kali dan memisahkan diri dari sulur es, kemudian gagal mendarat dan jatuh berdebum di samping Eugeo.
"Gufh ..."
Sebuah suara tercekik keluar dari kedalaman tenggorokannya dan sejumlah besar darah segar segera menyembur keluar. Melihat saat itu membeku menjadi es merah gelap dalam sekejap, Eugeo tanpa sadar berteriak.
"Kirito ... tunggu sebentar, aku akan melakukan penyembuhan ...!"
"Tidak, jangan hentikan skillmu!"
Bahkan ketika ia berada di ambang kehilangan kesadaran karena kehilangan darah, Kirito masih melotot dengan sinar di matanya dan menggeleng.
"Orang itu tidak akan jatuh hanya dengan ini ..."
Sementara benang darah mengalir di dekat bibirnya, ia menyandarkan tubuhnya penuh luka dengan pedang hitam.
Kirito mengusap mulutnya dengan tangan kirinya dan menutup kelopak matanya sebentar untuk mengatur nafas, sebelum ia membuka kedua matanya dan mengangkat pedang hitam tinggi-tinggi.
"Sistem ... panggil!"
Ritual sihir yang mengikuti kalimat pembuka yang mencerminkan kehendaknya dibacakan dengan kecepatan yang luar biasa, mengingat statusnya fisiknya.
Dengan ajaib darah merasuki kesenjangan antara ayat dan cairan merah menyembur dari bibirnya kali ini, tapi tetap saja, Kirito terus melafalkan ritual sihir yang melebihi sepuluh baris tanpa salah.
Melihat dari dekat, tak terhitung bekas luka yang dipenuhi darah ada di tubuh Kirito, dan itu membuatnya menggigil. Cahaya Heaven Piercing Sword menembus tubuh terlatihnya beberapa kali, menghanguskan luka-lukanya. Tidak ada banyak perdarahan, sedikit lebih baik, tapi cederanya ternyata mencapai organ internalnya. Nyawa Kirito pasti menurun lebih cepat daripada knight yang masih tertangkap mawar es, nyawanya dalam bahaya jika perawatan medis tidak segera dilakukan.
Namun, Eugeo tidak bisa membiarkan tangannya pergi dari pegangan Pedang Blue Rose untuk mempertahankan sihir kontrol penuhnya. Akan memberikan beberapa bantuan jika Kirito mau menggunakan sihir penyembuhan pada dirinya sendiri, tapi tampaknya partnernya yang terus merapal dengan tampilan mengerikan benar-benar tidak berniat melakukan hal itu.
Tidak perlu terburu-buru seperti itu, knight yang terjerat di dalam es tidak akan keluar dengan mudah―
Itu ketika Eugeo berpikir seperti itu dan penglihatannya kembali ke knight di depanya sekali lagi.
Seberkas cahaya putih muncul dari pusat mawar es mekar dan menusuk ke dinding. Eugeo hanya bisa menghela napas pendek dari rasa terkejut yang luar biasa.
"Eeh ..."
Sumber cahaya itu berasal dari Knight Fanatio, yang seharusnya diselimuti oleh lapisan es sulur dengan gerakannya yang benar-benar tersegel.
Sihir kontrol penuh persenjataan benar-benar tidak membiarkan penggunanya bergerak dengan bebas setelah pengucapannya selesai. Memegang senjata yang kemampuan ofensifnya diperkuat memerlukan fokus mental tingkat tinggi dari penggunanya. Bahkan Eugeo harus terus mencengkeram erat pegangan pedang yang menusuk ke lantai dan menjaga imajinasinya jika ia tidak ingin para knight melarikan diri belenggu mereka.
Setelah sepenuhnya mengendalikan Heaven Piercing Sword, Knight Fanatio telah menembakkan sinar cahaya yang tak terhitung banyaknya, yang terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi, dan mengeluarkan teknik menembakkan cahaya yang tak terkendali dan tanpa pandang bulu, dan pada akhirnya memberikan luka fatal pada dirinya juga. Konsentrasi mentalnya seharusnya melemah dan lepas dari keadaan mengendalikan Heaven Piercing Sword―atau begitulah yang Eugeo pikir.
Namun.
Benar-benar terbungkus dalam es, Fanatio telah mengangkat tinggi pedang rampingnya dengan lengan kanannya, dan perlahan-lahan bergerak dengan suara derakkan yang berasal dari es. Wajah roh knightnya naik dari tubuh rampingnya, seperti kabut panas yang bergoyang, dan dengan jelas tercermin dalam mata Eugeo yang terbuka lebar.
"Kuh ...!"
Menggigit bibirnya, Eugeo memberikan kekuatan lebih ke kedua tangannya yang mencengkeram pegangan. Dibantu oleh imajinasi mentalnya, hampir sepuluh sulur es baru keluar menuju Fanatio dari sekelilingnya. Sulur melilit lengan kanan Fanatio dan memintalnya dalam gerakan yang sama, tanpa meninggalkan celah sedikitpun, dan menghentikan gerakannya.
Tapi itu hanya berlangsung selama beberapa detik.
Hampir tidak peduli pada duri yang menyengat dirinya, integrity knight memaksa tangan kanannya ke bawah. Hampir setengah dari sulur biru hancur, berkilau saat mereka tersebar.
Rasa dingin yang lebih dingin dari es menutupi punggung Eugeo.
―Apa dia benar-benar manusia?
Kehendak Kirito, yang terus merapal dalam kecepatan tinggi sambil terbatuk darah, tidak masuk akal juga, tapi swordswoman itu lebih gila lagi. Dia tidak akan jatuh meski seluruh tubuhnya dipenuhi lubang dari serangan diskriminasi sinar cahaya dan penyerapan Nyawa tanpa ampun oleh mawar es―namun, dia terus menghancurkan belenggu es yang menghentikan empat knight bawahannya dengan kekuatan lengan kanannya sendiri.
Eugeo menatap dalam teror pada Heaven Piercing Sword yang dicengkeram di tangan kanan knight yang sepertinya secara bertahap menyesuaikan sudut ke arah mereka berdua.
Dari mana Fanatio memiliki kekuatan sebanyak ini?
Kewajibannya untuk melindungi hukum sebagai seorang integrity knight? Kecintaannya terhadap seorang pria yang ia simpan selama lebih dari seratus tahun? Atau mungkin, kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu sebelumnya ...?
Fanatio mengatakan bahwa Dunia Manusia mungkin akan diserbu oleh tentara Dataran Kegelapan jika kehilangan kekuatan Gereja Axiom.
Dengan demikian, itu berarti bahwa walau dia terluka dalam proses, wanita itu bersedia bertarung untuk melindungi penduduk Dunia Manusia―mereka yang seharusnya dipandang rendah, dihina, dan dimanfaatkan oleh manusdia seperti dia, apakah mereka bangsawan kelas yang lebih tinggi ataupun ternak.
Namun, itu tidak mungkin. Integrity Knight adalah pelayan di bawah bahwa pendeta tertinggi, Administrator, yang menangkap Alice muda dan membuatnya menjadi orang lain dengan mengambil ingatannya. Musuh yang menjijikkan. Pikiran Eugeo telah menetapkan mereka seperti itu, dan dia menaiki katedral, bertekad untuk mengambil nyawa mereka jika memang diperlukan.
Meski begitu, bagaimana mungkin ia menganggap ini benar―bagaimana mungkin ia dengan serius mempertimbangkan integrity knight ini sebagai wakil keadilan?
"Kau ... kalian semua tidak layak untuk menegakkan keadilan!!"
Eugeo menjerit tertahan dan menuangkan semua permusuhan yang bisa ia kerahkan dari lubuk hatinya ke Pedang Blue Rose.
Sekali lagi, banyak sulur es melompat keluar di sekitar Fanatio, ujung-ujungnya berubah menjadi duri tajam dan menusuk lengan kanan knight satu demi satu.
"Berhenti ... berhenti bergerak!"
Kebencian yang sangat besar seharusnya berputar di dalam hatinya, tapi ada sesuatu yang tumpah dari dua mata Eugeo untuk beberapa alasan. Tapi dia tidak bisa mengakui itu adalah air mata tidak peduli apa. Eugeo tidak bisa membiarkan hatinya tergerak oleh sosok Fanatio saat lengan kanannya dengan bodoh menolak untuk berhenti bahkan saat tertusuk oleh duri es, perwujudan dari kemarahan dan kebencian Eugeo.
Lengan integrity knight itu terluka parah. Duri terjebak di dalamnya seperti sebuah bantalan, darah yang menetes dengan cepat berubah menjadi es merah yang menggantung.
Tapi pada akhirnya, gerakan lengannya tidak berhenti, dan mengangkat tinggi Heaven Piercing Sword dari vertikal ke horisontal, mengarahkan ujung tajamnya pada Eugeo dan Kirito.
Eugeo melihat pedang perak itu bermandikan cahaya, lebih mempesona dari sebelumnya, dengan penglihatannya yang kabur.
Itu bersinar begitu terang hingga ia hanya bisa percaya Fanatio menaruh sisa nyawannya pada pedangnya. Mata lembab Eugeo menyipit, menatap sinar putih bersih yang terasa seperti Dewi Matahari Solus telah turun ke koridor besar ini.
―Aku tidak bisa menang. Aku tidak bisa menang melawannya dengan kondisiku saat ini.
Menatap mawar es yang hancur hanya dengan terkena cahaya putih, Eugeo dengan pelan bernapas.
Tapi dia tidak mau hanya menutup matanya dan menunggu cahaya mengambil nyawanya. Dia benar-benar tidak bisa menerima «keadilan» Fanatio dengan cara seperti ini.
Setidaknya, ia ingin menampilkan kegigihannya dengan membuat mawar terakhir mekar. Ketika ia mencoba untuk menghancurkan rasa kebencian yang tersisa di lubuk hatinya, dengan tekad, hal itu terjadi.
Kirito dengan lembut bergumam di sisinya, sepertinya ia telah selesai melantunkan ritual sihir.
"Kamu tidak bisa mengalahkannya dengan kebencian, Eugeo."
"Eh ..."
Setelah memutar kepalanya, partnernya melanjutkan dengan sedikit senyum yang terlihat di bibir berlumuran darahnya.
"Kamu sampai sejauh ini bukan karena kamu membenci integrity knight, kan? Kamu ingin mengambil Alice kembali, kamu ingin bertemu dengannya lagi ... kamu di sini karena kamu mencintai Alice, kan? Perasaan itu pasti tidak akan kalah dari keadilannya. Aku juga sama ... Aku ingin melindungi orang-orang di dunia ini; Aku ingin melindungimu dan Alice dan bahkan dia di sana. Jadi tidak mungkin kita akan kalah darinya sekarang ... ya kan, Eugeo?"
Suara Kirito tenang meski dalam situasi putus asa. Pendekar pedang berpakaian hitam dengan banyak misteri di sekitarnya mengangguk sekali lagi dengan senyum dan memandang ke depan.
Itu adalah saat ketika Heaven Piercing Sword menembakkan apa yang kemungkinan serangan cahaya terakhir dan terbesarnya.
Itu adalah tombak cahaya raksasa, cukup besar jika semua sinar cahaya yang sebelumnya ditembakkan digabungkan bersama. Rasanya seperti Holy Spiritual Light itu sendiri, dilemparkan oleh dewi Solus, untuk mengusir Dewa Kegelapan Vector selama penciptaan dunia, menukik untuk membakar semua yang ada.
Mata hitam Kirito terbuka lebar dan dipenuhi dengan tekad yang luar biasa. Suaranya yang membaca ayat akhir dipenuhi dengan tekad yang tak tergoyahkan, cocok dengan keadaan darurat ini.
"Tingkatkan persenjataan!!"
Menghadap lurus ke depan, bilah pedang hitam berdenyut.
Segera setelah itu, helai kegelapan mengalir keluar dari seluruh pedang.
Aliran cahaya gelap yang tampaknya menyedot semua cahaya bergelombang, memutar, dan menjerat dirinya sendiri. Mereka menjadi tombak, cukup tebal untuk membungkus lengan seseorang dalam sekejap dan terus mengarah ke depan.
Setelah memfokuskan matanya, tampaknya hanya ujung tajamnya yang berwujud padat, bersinar seperti batu obsidian. Dia bisa mengingat tekstur itu. Pohon raksasa yang Eugeo tebang, hari demi hari. «Pohon iblis» yang merupakan asal dari pedang hitam―Gigas Cedar.
Pada saat dia mengenalinya, Eugeo memahami bentuk sesungguhnya di balik sihir kontrol penuh yang Kirito aktifkan.
Dia telah membangunkan memori yang tertidur di dalam pedang hitam melalui ritual sihir dan memproyeksikan keangkuhannya ke lokasi ini, bahwa pohon raksasa itu telah menolak untuk jatuh selama ratusan tahun. Tentu saja, bentuk dan ukurannya tidak sama, tapi esensinya tetaplah sama.
Tangguh, tajam, dan berat luar biasa.
Keberadaannya layak untuk menjadi senjata pamungkas.
Jantung Eugeo berdebar keras. Segera―
Ujung besar tombak gelap itu melakukan kontak dengan tombak besar yang mengumpulkan cahaya Solus. Ledakan besar mengguncang seluruh koridor besar ... mungkin seluruh Katedral Pusat itu sendiri.



Bahkan mungkin pohon raksasa itu ditindas oleh panas dan intensitas cahaya yang melampaui imajinasi, karena itu kehilangan momentum ketika menyerang ke depan. Tapi kegelapan tak berujung terus keluar dari pedang hitam di tangan Kirito, mencoba untuk memacu tombak ke depan sampai akhir yang pahit.
Sepertinya Heaven Piercing Sword, yang dipegang di tangan Fanatio, tidak memiliki niat untuk mundur juga. Aliran mengamuk cahaya diperkuat setiap detik, mawar es yang menutupi knight itu sudah benar-benar mencair karena panas. Itu mungkin telah diremehkan; gauntlet yang menutupi lengan kanan knight bersinar merah cerah dengan asap putih muncul dari sana.
Benturan antara cahaya dan kegelapan terus berlanjut untuk sementara waktu di tengah koridor besar.
Namun, kompetisi antara kekuatan pada tingkat seekstrim ini diragukan akan berakhir dengan imbang dan menghilang. Jelas bahwa satu sisi akan mendorong mundur sisi yang lain dan benar-benar memusnahkan musuhnya.
Orang yang dalam posisi yang kurang menguntungkan dalam pertandingan ini―adalah Kirito?
Tentu, Gigas Cedar itu tangguh, tapi pada akhirnya, itu tetaplah pohon, keberadaan nyata. Seperti bagaimana aslinya yang telah jatuh setelah menebangnya waktu demi waktu, hal ini juga akan padam setelah kerusakkannya melampaui batas.
Namun, cahaya Heaven Piercing Sword adalah massa panas murni. Bagaimana bisa serangan tak berwujud akan padam?
Misalkan penanggulangan ada, tidak baik untuk menggunakan cermin untuk membelokkan seperti yang dilakukan Kirito, atau menetralkannya dengan es mutlak, yang lebih kuat daripada yang bisa Pedang Blue Rose buat; itu harus memiliki kekuatan dengan sifat khusus yang mampu menentangnya. Namun, sifat Gigas Cedar terbagi menjadi dua: ketangguhan dan berat yang tak masuk akal―
Tidak, ada satu lagi.
Dengan rakus menyerap cahaya Solus dan mengubahnya menjadi energinya sendiri.
Tombak cahaya Fanatio tiba-tiba robek menjadi lebih dari seribu aliran.
Keseimbangan rusak, satu yang tetap menyerang adalah pohon raksasa Kirito yang berwarna gelap.
Ujungnya yang merah-panas sangat menyilaukan, tapi tetap saja, itu mencungkil dan merusak cahaya tanpa menghasilkan tekanan, berjalan menuju sumber.
Cahaya, yang terpecah dalam bentuk radial, menyerang koridor besar, menyebabkan ledakan kecil yang tak terhitung jumlahnya saat mereka melelehkan sulur es. Keempat knight yang terjebak ke lantai terlempar ke udara satu demi satu.
Bahkan saat Integrity Knight Fanatio menatap tombak gelap besar yang mendekat seperti badai, dia sama sekali tidak mengambil satu pun langkah. Sepertinya semua kemarahan dan kebencian telah pergi dari wajahnya yang cantik. Kelopak matanya dengan pelan ditutup dan mulutnya bergerak sedikit. Semacam emosi pasti ada di sana, tapi Eugeo tidak bisa menebak apa itu.
Duri ujung pohon raksasa akhirnya menyerang sumber cahaya dan bertabrakan dengan titik tajam Heaven Piercing Sword.
Pertama, pedang ramping perak putih itu membungkuk seperti itu hancur, berkilauan saat berputar di udara.
Segera setelah itu, knight terlempar ke udara oleh dampak yang luar biasa.
Fragmen dari armor ungu menyebar saat ia menabrak langit-langit, menghancurkan dinding mural yang mengambil penciptaan dunia sebagai tema menjadi potongan-potongan kecil.
Ia terjatuh perlahan. Bersama dengan fragmen marmer yang tak terhitung jumlahnya, tubuh Fanatio jatuh seolah-olah ada benang yang melekat padanya, langsung di depan pintu besar di belakang koridor besar dengan suara suram. Dan integrity knight kedua tidak lagi berdiri.
Tombak gelap perlahan kehilangan bentuknya dan mulai masuk ke dalam pedang hitam Kirito, seperti aliran bayangan. Ketika Eugeo melihat, pedang itu sendiri agak membesar seperti saat bertarung dengan Raios, tapi kembali ke ukuran aslinya setelah semua kegelapan masuk ke dalam pedang.
Eugeo berbalik ke depan dan menatap jejak yang tersisa dari pertarungan sengit tanpa bersuara.
Lantai marmer dan dinding meleleh dan rusak di sana-sini, hanya bayangan mereka yang tersisa. Lantai di jantung benturan antara tombak besar kegelapan dan cahaya, memiliki parit lebar dan dalam; aneh bahwa itu tidak tembus ke lantai bawah.
Kenyataan bahwa hanya dengan dua orang saja dapat membawa kehancuran sebesar ini pada lantai lima puluh Katedral Pusat, «Grand Corridor of Spiritual Light», belum lagi mereka hanyalah pendekar pedang yang belajar di Master Sword Academy dua hari yang lalu, tidak akan dipercayai oleh siapa pun selain mereka yang hadir saat ini.
―Tapi kami benar-benar melakukannya.
Eugeo bergumam dalam pikiran batinnya. Kami telah melawan lima integrity knight, mereka yang mempertahankan aturan tanpa syarat ke seluruh dunia manusia sejak penciptaan, dan kami menang.
Menghitung dari Eldrie, total sembilan integrity knight telah kami kalahkan. Menurut kata-kata Kardinal, ada dua belas knight yang ditempatkan di dalam katedral, jadi masih ada tiga lagi. Dengan kata lain, jika kami tinggal mengalahkan beberapa knight lagi ...
Itu kira-kira waktu yang sama saat Eugeo menggertakkan giginya.
Kirito jatuh ke lutut di sampingnya. Pedang hitam jatuh dari tangan kanannya dengan suara datar.
Melepaskan tangannya dari Pedang Blue Rose yang menusuk ke lantai dengan panik, tubuh bagian atas Eugeo maju ke depan dan ia menyandarkan partnernya pada tubuhnya.
"Kirito!"
Tubuh yang dia tahan sangatlah ringan dan darah serta nyawanya terus mengalir tak henti-henti. Kulitnya lebih putih dari marmer dan tidak ada tanda-tanda kelopak matanya yang menutup akan terbuka. Memeriksa seluruh tubuhnya, ia menaruh tangannya di atas luka yang tampak terdalam, yang berada di panggul.
"Sistem Panggil! Hasilkan elemen cahaya!"
Mengumpulkan tiga elemen cahaya yang dihasilkan pada luka, ia mengubahnya menjadi kekuatan penyembuh melalui ritual sihir. Dia mengeluarkan tangannya saat luka hangus itu mulai tertutup, sedikit demi sedikit, dan melakukan hal yang sama pada luka di bahu kiri. Biasanya, katalis seperti «bola bunga suci» diperlukan untuk menghasilkan elemen cahaya yang mengkonsumsi banyak kekuatan suci dari area di sekitarnya, tapi itu tidak diperlukan sekarang. Itu karena Nyawa yang diserap dari lima knight oleh Pedang Blue Rose telah berubah menjadi kekuatan suci dan melayang di udara.
Penurunan Nyawa seharusnya berhenti setelah menyegel luka yang terburuk, tapi Eugeo tidak bisa menggunakan sihir suci tipe cahaya apapun yang bisa menyembuhkan Nyawa setelah berkurang banyak. Dia meraih tangan kanan Kirito dengan tangan kirinya tanpa ragu-ragu dan meneriakkan ritual sihir baru.
"Sistem panggil! Transfer unit daya tahan manusia, dari tubuh ke kiri!!"
Manik-manik cahaya biru yang tidak jelas menutupi seluruh tubuh Eugeo kali ini dan mereka segera berkumpul di tangan kirinya, lalu mengalir ke dalam tubuh Kirito. Sihir yang memungkinkan transfer Nyawa antara manusia ini memiliki pengaruh yang besar meski ritual sihirnya sederhana.
Berpikir kembali tentang itu, Kiritolah orang yang selalu menderita luka berat sementara Nyawa Eugeo hampir tidak menurun sama sekali, baik selama pertarungan melawan Deusolbert dan juga kali ini. Dia tidak mungkin membayarnya kembali kecuali dia membuat Nyawanya hampir habis juga.
Atau begitulah yang Eugeo pikir, tapi ketika ia merasa kira-kira setengah dari nyawanya telah mengalir keluar, Kirito perlahan membuka matanya dan menggenggam tangan Eugeo dengan tangan kirinya, menjauhkannya dari tubuhnya.
"... Terima kasih, Eugeo, aku tidak apa-apa sekarang."
"Jangan memaksakan diri, pasti ada beberapa luka tersembunyi yang tersisa setelah kamu melalui semua itu."
"Ini jauh lebih baik daripada saat para goblin itu datang pada kita, aku lebih khawatir tentang orang itu ..."
Menemukan Knight Fanatio, yang terjatuh di sisi berlawanan dari koridor, pada akhir di mana mata hitam itu mengarah, Eugeo tanpa sadar menggigit bibirnya.
"... Kirito ... Wanita itu ... mencoba membunuhmu ..."
Saat ia mengatakan itu, apa yang Kirito segera katakan sebelum ia mengaktifkan sihir kontrol penuhnya bergema jauh di dalam telinganya. Melihat ke bawah, ia melanjutkan dengan berbisik.
"Tidak bisa mengalahkannya dengan kebencian ... itu yang kamu katakan sebelumnya, kan? Ya, itu mungkin benar. Aku tidak melawan integrity knight karena dendam atau kebencian pribadi yang kuarahkan padanya, itu bukanlah alasanku untuk bertarung ... Tapi ... Tapi aku benar-benar tidak bisa membuat diriku memaafkan integrity knight. Itu bukan hanya karena kekuatan konyol mereka, jika mereka memiliki resolusi itu ... jika mereka memiliki hati untuk melindungi semua orang yang tinggal di Dunia Manusia, lalu mengapa mereka tidak bisa menggunakan kekuatan itu dan ... "
Eugeo goyah, tidak mampu berbicara lebih jauh. Namun, Kirito, yang terhuyung-huyung dan mengambil pedang hitamnya dari lantai, mengangguk seolah dia mengerti.
"Aku cukup yakin orang-orang itu terjebak dalam keraguan mereka sendiri. Jika kita bertemu dengan Pemimpin Knight, kita mungkin dapat mengetahui lebih lanjut tentang itu ... Eugeo, sihir kontrol penuhmu menakjubkan. Kamulah yang mengalahkan para knight itu. Jadi kamu tidak perlu menunjukkan kebencianmu pada manusia itu, pada Fanatio dan pada knight di «Four Oscillation Blades», lagi ... "
"Manusia ... Ya ... kamu benar. Aku mengerti itu ketika aku melawan mereka. Dia manusia; Itulah sebabnya dia begitu kuat."
Ketika Eugeo memgumamkan itu, Kirito tertawa sedikit dan setuju.
"Orang-orang itu mungkin mengatakan bahwa mereka benar-benar orang baik, dan mereka mungkin benar-benar orang jahat di matamu, tapi mereka manusia seperti kita. Menentukan siapa yang baik atau buruk seperti itu tidak mungkin bagi manusia, aku yakin."
Kata-kata itu terdengar seperti ia berbicara pada dirinya sendiri juga; pikiran tiba-tiba datang ke Eugeo.
―Kirito. Bukankah itu akan berlaku pada orang yang sangat kamu benci juga, pendeta tertinggi, Administrator ... orang yang mengatur Gereja Axiom dan juga, dunia?
Tapi sebelum dia bisa bertanya, Kirito sudah mulai berjalan menuju Fanatio yang terbaring di depan pintu besar.
Ia mengambil lima, enam langkah sebelum berbalik kembali dan mengambil botol kecil setelah mencari di sakunya.
"Ups, aku lupa. Hilangkan racun kedua anak itu dengan ini, tolong. Pastikan untuk menghancurkan pedang berbisa dan periksa apakah mereka sedang memegang sesuatu yang aneh sebelum kamu meminumkannya pada mereka."
Berpikir tentang bagaimana ia telah melupakan mereka juga, Eugeo menangkap botol kecil yang Kirito lemparkan dan mengangguk.
Setelah berdiri, menarik Pedang Blue Rose dari lantai, dan berbalik, knight muda, Fizel dan Linel, masih sama seperti sebelumnya, tergeletak di lantai, lumpuh. Embun beku yang menutupi sekitar sudah lenyap dan sepertinya mereka tidak mengalami cedera dari sulur es atau sinar cahaya.
Saat mata mereka melihat Eugeo yang mendekat, kedua gadis itu gemetar dengan menggerakkan bola mata mereka.
Sepertinya mereka tidak akan berani melihatnya melalui mata ke mata saat ini; ia menahan napas saat ia berjongkok dan mengeluarkan dua pedang berbisa, yang ditusuk ke lantai di ujung hidung mereka, dengan kedua tangan. Melemparkan keduanya ke udara, ia mengayunkan Pedang Blue Rose ketika mereka terjatuh ke bawah.
Pedang pendek hancur dengan mudah, berubah menjadi manik-manik cahaya dan menghilang saat mereka kehilangan semua nyawanya sebelum mereka terjatuh ke lantai. Memasukkan pedang kesayangannya, ia berjongkok di samping keduanya dan memeriksa pakaian suster mereka untuk melihat apakah mereka masih memiliki senjata lain sambil meminta maaf dengan "maaf".
Terakhir, ia membuka botol kecil dan menuang tujuh puluh persen sisa isinya ke dalam mulut mereka berdua, memberikan setengah ke masing-masing. Dengan ini, keduanya pasti pulih dari kelumpuhan mereka kurang dari sepuluh menit seperti Eugeo.
Akan baik-baik saja meninggalkan mereka sendirian seperti ini, tapi Eugeo yang berpikir, "Apa yang akan Kirito katakan dalam situasi seperti ini?", membuka mulutnya setelah berpikir agak pendek.
"... Fanatio dan Kirito sekuat itu karena mereka memiliki instrumen suci dan sihir kontrol penuh persenjataan ... itu mungkin apa yang kalian berdua pikirkan, tapi itu salah. Mereka berdua jauh, jauh lebih kuat ... mereka bisa bertarung bahkan ketika luka mereka sangatlah buruk bukan karena skill atau senjata mereka, tapi karena hati dan pikiran mereka; itu juga mengapa mereka dapat menggunakan ritual sihir yang menakjubkan seperti itu. Benar, kalian berdua mungkin ahli dengan teknik untuk membunuh manusia. Tapi membunuh dan menang adalah hal yang sama sekali berbeda. Meski aku baru menyadari hal itu hari ini juga ... "
Eugeo sama sekali tidak tahu berapa banyak kata-katanya yang mencapai mereka karena mereka terus menghindari matanya seperti biasa. Di tempat pertama, dia tidak terlalu bagus jika berurusan dengan anak-anak.
Tapi tetap saja, setidaknya, keduanya pasti merasakan sesuatu setelah menonton pertarungan itu juga, ia yakin akan hal itu. Ketika ia ingat obrolan polos Fizel dan Linel, ia merasa seperti ia bisa percaya mereka tidak benar-benar buruk juga. Berbalik setelah mengucapkan "selamat tinggal", Eugeo berlari mengejar Kirito.
Dia segera memutar matanya ke kiri dan kanan saat ia bergerak melalui koridor yang hancur, memeriksa status dari empat knight bawahan Fanatio.
Ternyata mereka semua menderita luka agak dalam dari tombak cahaya yang mengamuk karena mereka semua pingsan. Tapi seperti yang diharapkan dari integrity knight, ia tidak bisa melihat satupun yang Nyawanya menghilang. Pendarahannya juga kecil, jadi mereka mungkin akan bisa bergerak dengan segera.
Namun, tidak seperti mereka yang hanya terkena ledakan kecil, Fanatio menerima ledakan besar, terserang tombak kegelapan dan jelas di ambang kehilangan nyawanya, bahkan tanpa melihat darah yang menggenang di sekitar tubuhnya.
Menghentikan kakinya di dekat Kirito yang berlutut di lutut di sisi knight, Eugeo menahan napasnya sambil mengintip bahu partnernya.
Melihat dari dekat, luka-luka di seluruh tubuh Fanatio begitu mengerikan, dia ingin mengalihkan pandangannya. Tubuh dan kakinya memiliki lubang tertusuk oleh sinar panas di empat tempat, sementara lengan kanannya robek oleh duri mawar es dan di atas semua itu, terbakar oleh serangan akhir Heaven Piercing Sword, praktis tidak ada tempat yang tidak terluka di tubuhnya.
Namun, seperti yang diduga, apa yang tampaknya menjadi yang paling mengerikan adalah luka di perut bagian atasnya yang menerima tembakan langsung dari Gigas Cedar. Ada lubang sedalam dan sebesar kepalan tangan berukuran dewasa, dengan darah segar yang mengalir tanpa henti. Wajah dengan kelopak mata tertutup telah berubah menjadi ungu kebiruan samar, seperti warna armornya yang entah ada di mana, dan bahkan jejak kehidupan tidak bisa terlihat di sana.
Kirito sedang dalam proses mencoba sihir suci untuk menutup luka saat ia menaruh tangannya di atas perut Fanatio. Jendela Stacia cenderung tidak terbuka karena melihat nyawanya tidak diperlukan saat ini. Menyadari Eugeo mendekat, ia terus menatap ke bawah dan berbicara dengan urgensi dalam suaranya.
"Bantu aku di sini, darahnya tidak mau berhenti."
"Ah ... ya."
Mengangguk dan berlutut di tempat yang berlawanan, ia meletakkan tangannya di luka yang sama. Setelah ia meneriakkan sihir penyembuhan tipe cahaya yang sama seperti yang ia gunakan pada Kirito sebelumnya, aliran darah dari luka tampaknya telah berkurang sedikit, tapi tujuan untuk menyegel itu masih jauh.
Jelas bahwa kekuatan suci di sekitarnya akan habis dan mereka berdua tidak akan mampu menghasilkan elemen cahaya lagi walau mereka memaksakan penyembuhan. Nyawa Fanatio mungkin akan sedikit pulih jika mereka mentransfer nyawa mereka, tapi itu tidak akan berguna jika aliran darah tidak berhenti. Karena itu, menyelamatkan nyawa wanita ini akan membutuhkan bantuan dari pengguna sihir suci yang mampu melakukan sihir penyembuhan yang lebih kuat dari keduanya, atau obat legenda yang mujarab.
Dengan kuat menggigit bibirnya saat ia diam-diam menatap wajah Kirito, Eugeo berbicara setelah ragu-ragu sesaat.
"Tidak mungkin, Kirito. Dia kehilangan terlalu banyak darah."
Kirito terus menatap ke bawah untuk sementara waktu, tapi segera menjawab dengan suara serak.
"Aku tahu ... tapi jika aku tidak berhenti berpikir, pasti ... pasti ada semacam cara untuk melewati ini. Eugeo, aku mohon padamu, tolong pikirkan tentang hal itu juga."
Ekspresi itu dipenuhi dengan rasa ketidakberdayaan, seperti ketika ia tidak mampu mencegah tindakan jahat yang ditujukan pada valet mereka, Ronye dan Tieze, dua hari yang lalu; Eugeo merasakan tusukan-tusukan di dadanya.
Namun, tidak peduli seberapa banyak dia berpikir, tetap jelas bahwa tidak ada metode untuk memanggil kembali nyawa yang memudar di depan matanya sekarang. Pikiran menyembuhkan empat knight yang pingsan di belakang dan meminta mereka membantu pengobatan berkelebat dalam pikirannya, tapi mereka tidak memiliki waktu untuk melaksanakan metode seperti itu. Nyawa Fanatio mungkin akan hilang untuk selama-lamanya dalam hitungan detik jika Kirito atau Eugeo menghentikan sihir penyembuhan mereka. Dan walau mereka meneruskannya―hasil yang sama akan tiba beberapa menit kemudian.
Eugeo mengambil keputusan dan memberitahu partnernya dalam suara yang paling serius yang bisa ia kerahkan.
"Kirito. ―Kamu mengatakan ini padaku ketika kita melarikan diri dari penjara bawah tanah, kan? Bahwa aku perlu mempersiapkan diri untuk membunuh musuh jika aku harus pergi lebih jauh. Bukankah kamu memerangi orang ini berdasarkan tekad itu sebelumnya? Bukankah kamu menggunakan skill itu agar salah satu dari kalian mati sedangkan yang lainnya hidup? Setidaknya, orang ini ... Fanatio-san tidak ragu-ragu. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia meletakkan seluruh nyawanya dalan pertarungan ini ... itulah yang aku percaya. Kamu harus memahami itu juga, Kirito ... bukan tempatnya kamu bisa menang selagi mengkhawatirkan musuh atau meremehkan mereka."
Itu bukanlah pedang kayu, tapi pedang yang nyata. Eugeo memperlajari itu melalui tangan gemetarnya, rasa sakit yang tajam di mata kanannya, dan teror es di dalam dadanya ketika ia memotong lengan Humbert.
Dikatakan, dia selalu percaya partner berambut hitamnya ini telah mengerti hal itu dari lama―sejak mereka bertemu di hutan selatan Rulid.
Setelah mendengar suara Eugeo, Kirito mengertakkan giginya bersama-sama dan tanpa henti mengguncang kepalanya ke kiri dan kanan.
"Aku mengerti ... Aku harus mengerti. Orang ini dan aku bertarung dengan serius ... pertarungan yang sungguh-sungguh di mana salah satu dari kami harus menang. Tapi ... orang ini akan hilang jika dia meninggal! Dia hidup lebih dari seratus tahun ... dalam keraguan, cinta, rasa sakit; aku tidak bisa hanya membiarkan jiwanya menghilang seperti itu ... maksudku ... walau aku mati ... "
Walau ia mati―apa yang ia coba untuk katakan? Semua manusia akan memiliki jiwa mereka dibawa di depan dewi kehidupan, Stacia, ketika mereka kehilangan Nyawa mereka, dan lenyap dari Dunia Manusia. Selama Kirito, meski misterinya banyak, adalah seorang manusia, hal yang sama pasti berlaku padanya.
Eugeo bingung sejenak, tapi itu terhapus saat Kirito menatap ke atas dan berteriak tanpa peringatan.
"Bisakah anda mendengar saya?! Pemimpin Knight! Wakil Anda akan mati di sini! Atau orang tua itu juga tidak apa-apa! Jika Anda bisa mendengar saya, datang ke sini dan bantulah!!"
Jeritannya menggema pelan di langit-langit jauh di atas dan lenyap dengan sia-sia. Namun, Kirito tidak menyerah dan terus berteriak.
"Siapa pun tidak apa-apa ... kalian integrity knight masih ada di sini, kan?! Datang dan bantulah sekutu kalian! Saya tidak peduli apakah Anda seorang pendeta atau seorang suster ... hanya datangkanlah bokong Anda ke sini!"
Tidak ada jawaban dari atas, tapi keheningan dari tiga dewi yang rusak tak bisa dikenali. Bahkan angin sepoi-sepoi sama sekali tidak turun, apalagi kehadiran makhluk lain.
Ketika mereka mengalihkan penglihatan mereka, warna rambut dan kulit Fanatio mulai memudar secara bertahap. Nyawanya tinggal seratus, atau mungkin lima puluh― Eugeo, yang ingin mengirim wakil pemimpin integrity knight, Fanatio Synthesis Two, berangkat ke Dunia Surgawi setidaknya dengan doa, malah mencoba membujuk Kirito, tapi dia tidak menghentikan teriakannya.
"Aku mohon padamu ... seseorang! Bantu kami jika kamu melihat! ... Itu benar, datang ke sini, Kardinal! Kardinal ..."
Kirito tenggelam dalam keheningan seolah sesuatu telah memblokir tenggorokannya dengan tiba-tiba.
Eugeo mendongak dan melihat wajah terkejut partnernya, saat pertama ia menunjukkan ekspresi terkejut, kemudian ragu-ragu sejenak sebelum berubah menjadi tekad.
"H-Hei ... ada apa tiba-tiba?"
Namun, Kirito memasukkan tangan kanannya ke dalam mantelnya tanpa menjawab.
Apa yang ia ambil―bergoyang di ujung rantai ramping, adalah belati baja kecil.
"Kirito―! Itu―!"
Eugeo secara naluriah berteriak.
Belati yang sama menjuntai dari leher Eugeo. Ia tak mungkin lupa tentang hal itu; itu adalah belati yang Kardinal, pendeta tertinggi sebelum dia dibuang, berikan pada mereka sebelum mereka meninggalkan Ruang Perpustakaan Besar. Ini benar-benar tidak memiliki kemampuan ofensif, tetapi menghubungkan orang yang ditusuk ke domain sementara Kardinal. Dia menyerahkannya untuk digunakan pada Alice bagi Eugeo dan Administrator bagi Kirito, dan berfungsi sebagai kartu truf keduanya.
"Kamu tidak bisa, Kirito! Kardinal mengatakan dia tidak punya lagi ... itu seharusnya untuk pertarungan melawan Administrator ..."
"Aku tahu ..."
Kirito mengerang dengan suara sedih.
"Tapi aku bisa membantunya jika aku menggunakan ini ... tidak membantu seseorang ketika aku memiliki sarana untuk melakukannya ... Aku hanya tidak bisa memprioritaskan apa pun yang lebih tinggi dibandingkan nyawa manusia."
Dia menatap tajam belati dengan ekspresi yang sedih, namun diisi dengan tekad yang kuat―
Kirito menikam apa yang dipegang di tangan kanannya ke tangan kiri Fanatio, satu-satunya bagian tubuhnya yang tidak terluka, tanpa ragu-ragu sedikitpun.
Pada saat itu, seluruh belati memancarkan cahaya menyilaukan bersama dengan rantai.
Tanpa waktu untuk menahan napas, belati pecah menjadi beberapa pita cahaya ungu. Setelah melihat dari dekat, semua pita cahaya adalah baris huruf suci seperti yang muncul di Jendela Stacia. Surat-surat yang rumit terpisah satu sama lain saat mereka meluncur ke udara dan tenggelam di seluruh tubuh Fanatio.
Seluruh tubuh integrity knight diselimuti cahaya ungu. Eugeo yang melongo memandangi pemandangan menakjubkan itu melihat pendarahan dari luka di perut bagian atasnya telah benar-benar berhenti, agak terlambat.
"Kirito―"
Eugeo mencoba mengatakan padanya bahwa perdarahannya berhenti, tapi terganggu oleh suara mahsyur yang segera datang entah dari mana.
[Ya ampun, sungguh rekan yang tak berguna.]
Wajah Kirito tersentak.
"Kardinal ... apa itu Anda?!"
[Tidak ada waktu, jangan bertanya.]
Tidak ada keraguan lagi bahwa suara indah dan tak beraturan itu milik pendeta tertinggi sebelumnya yang mereka temui di Ruang Perpustakaan Besar.
"Kardinal ... maaf, saya ..."
Kardinal memotong suara sedih Kirito saat ia mencoba berbicara.
[Tidak ada gunanya meminta maaf sekarang. ... Saya telah menduga ini akan terjadi sejak saya melihat bagaimana Anda bertarung. Saya mengerti situasi Anda; saya akan menangani pengobatan untuk Fanatio Synthesis Two. Namun, saya akan membawa tubuhnya ke sini karena akan memakan waktu baginya untuk sembuh sepenuhnya.]
Cahaya ungu yang menutupi tubuh Fanatio bersinar terang saat ia mengatakan itu. Eugeo tanpa sadar menutup matanya dan pada saat ia membukanya lagi, integrity knight sudah―cukup mengejutkan, itu termasuk genangan darah yang ada di lantai―tidak dapat dilihat dimanapun.
Beberapa surat-surat suci yang terfragmentasi masih bisa dilihat melayang di udara. Suara kardinal ditransmisikan saat mereka saling bertumpuk, volumenya menurun secara bertahap.
"Serangga itu telah menyadari, jadi saya akan membuat ini singkat. Melihat dari situasi, kemungkinan Administrator masih dalam keadaan tertidurnya tinggi pada saat ini. Jika Anda mencapai lantai tertinggi sebelum wanita itu terbangun, Anda bisa melawannya tanpa menggunakan belati. Cepat ... tidak ada banyak integrity knight lagi yang tersisa ... "
Eugeo merasa bagian tak terlihat yang membuka jalan ke domain Ruang Perpustakaan Besar menutup dengan cepat. Suara kardinal semakin menjauh dan tepat sebelum kehadirannya menghilang, manik-manik cahaya di udara berkedip-kedip dan jatuh ke lantai saat mereka mengambil bentuk tetap.
Apa yang jatuh di atas marmer dengan suara menyegarkan adalah dua botol kaca kecil.
Kirito menatap botol dengan malas seakan energinya telah melemah, tapi segera mengulurkan lengannya untuk mengambil kedua botol pada waktu yang sama. Mendongak, ia memegang salah satu di antara ujung jarinya dan menawarkannya.
Sambil menjatuhkan botol ke telapak tangan Eugeo, Kirito berbisik dengan nada rendah.
"... Maaf untuk kekacauan tadi, Eugeo."
"Nah ... Kamu tidak melakukan apa pun yang perlu dimintai maaf. Itu hanya sedikit mengejutkanku."
Ketika ia mengatakan itu dengan senyum kecil, Kirito akhirnya menunjukkan senyum kecil juga. Berdiri sambil bergoyang sedikit, ia mengeluarkan gabus dari botol kecil itu.
"Melihat dia repot-repot mengirimkan kita minuman, mari kita menerimanya dengan ucapan terima kasih."
Berdiri setelah partnernya, Eugeo menarik gabus dari botol kecil dan menenggak cairan di dalamnya dalam sekali teguk. Dia tidak bisa bilang itu enak walau ia mencoba untuk bersikap sopan; ia meringis karena rasa asamnya menyerupai air siral tanpa gula, tapi rasanya menyegarkan seperti air dingin membasuh tubuhnya, yang kelelahan dari pertarungan panjang. Tampaknya Nyawa mereka yang setengah habis pulih dengan cepat juga, dan luka yang tersisa pada anggota badan Kirito tertutup dalam sekejap.
"Menakjubkan ... akan bagus jika ia memberikan banyak pada kita, bukan hanya dua jika dia memang memilikinya."
Ketika Eugeo bilang begitu tanpa berpikir, Kirito mengangkat bahunya dengan senyum sinis.
"Jika mereka memiliki prioritas setinggi ini, mungkin akan memakan waktu lama untuk mengubahnya menjadi da ... ritual sihir dan mentransfernya. Sebaliknya, kamu harus melihat seberapa cepat dia ... Uwah!?"
Tiba-tiba, Kirito mengeluarkan suara gelisah dan berputar ke samping, jadi Eugeo menatap partnernya dengan bingung.
"Ap-apa, tiba-tiba?"
"Eu-Eugeo ... jangan bergerak, tidak, jangan melihat ke bawah."
"Hah?"
Akan sulit untuk tidak melihat ke bawah ketika ia mengatakan itu. Secara naluriah menatap kakinya sendiri, Eugeo menemukan bahwa sesuatu muncul di sana tanpa ia sadari dan menjerit.
"Eek!?"
Panjangnya kira-kira lima belas cen. Kaki ramping yang tak terhitung jumlahnya keluar dari tubuhnya yang panjang dan datar, terbagi menjadi segmen yang sangat kecil, dan bagian depannya ada di atas sepatu Eugeo. Ujung berbentuk bola yang ternyata kepalanya memiliki deretan lebih dari sepuluh, mata merah dan dua tanduk jarum panjang yang menakutkan menonjol dari dua sisi, perlahan bergoyang ke arah yang berbeda. Itu adalah semacam serangga―mungkin memang begitu, tapi penampilan anehnya hanya bisa digambarkan sebagai menjijikkan. Serangga banyak di hutan selatan Rulid, tapi dia belum pernah melihat serangga dengan penampilan seperti itu sebelumnya.
Eugeo membeku saat pikirannya kelebihan beban, tapi serangga aneh itu memeriksa sekelilingnya dengan tanduknya selama tiga detik sebelum memutuskan untuk mencoba dan dengan pelan merayap dari sepatunya, jadi ia berteriak lagi.
"Eek ...!"
Ketika ia dengan keras menendang ke bawah, serangga jatuh ke punggungnya, tapi segera berputar dan dengan cepat merayap di antara kedua kakinya. Takut mendaki lagi, Eugeo melompat lagi dan lagi, tetapi bencana tertentu terjadi setelah ia selesai melompat berkali-kali.
Setelah suara keras 'Kusha', sensasi kental dan lengket dari objek yang hancur terasa pada sepatu Eugeo saat serangga itu dengan megah terinjak di bawah sepatu kanannya.
Cairan tubuh oranye terang tersemprot ke segala arah dan bau yang sangat tajam menggantung di udara. Eugeo hampir kehilangan kesadarannya saat ia melihat serangga yang mejret itu masih melompat-lompat, tapi dia dengan putus asa menahan rasa takutnya, menyadari bahwa ini bukan situasi untuk pingsan, dan menatap Kirito untuk meminta bantuan.
Ketika ia melakukannya, partner yang telah memiliki hubungan dari hati ke hati dengannya rupanya sekarang tiga mel jauhnya dan perlahan-lahan terus mundur lebih jauh.
"Hei ... heeii! Beraninya kau lari!"
Pada tuduhan melengking itu, Kirito mengguncang wajahnya yang membiru ke kiri dan kanan dalam gerakan kecil.
"Maaf, aku tidak bisa menangani hal-hal seperti itu."
"Aku juga tidak bisa menangani mereka! Sama sekali!"
"Hei, bukankah serangga seperti itu biasanya akan menarik empat belas lainnya atau lebih ketika yang pertama mati?"
"Jangan membicarakan hal-hal seperti itu!"
Bertekad untuk memeluk pasangannya dan berbagi nasib dengannya sekarang karena hal-hal telah menjadi seperti ini, Eugeo menurunkan pinggangnya dalam persiapan untuk melompat ke arahnya, tapi cahaya ungu tiba-tiba memancar dari depan kakinya dan dia membeku lagi.
Sisa-sisa menjijikkan itu telah menyebar ke manik-manik cahaya ketika ia menunduk dengan malu. Cairan kental, kulit, dan lainnya lenyap tanpa jejak sebelum sedetik berlalu dan Eugeo mendesah panjang lega dari dalam.
Menegaskan bahwa hal itu telah lenyap dari jauh, Kirito akhirnya kembali setelah sekian lama dan berbicara dengan nada serius.
"... Jadi itu. Barusan itu adalah familiar yang dibuat oleh Administrator untuk mencari Kardinal. Jadi itu mengendus lorong ke ruang perpustakaan ..."
"......"
Eugeo merengut pada Kirito dengan mata tertutup, menunjukkan sedikit kebencian, lalu dengan enggan menjawab bahwa ia mengerti.
"Lalu ... itu berarti ada banyak makhluk seperti itu berkeliaran di sekitar menara ini? Tapi kita belum melihat satu pun sampai sekarang."
"Dengar, saat kita melarikan diri ke ruang perpustakaan dari kebun mawar, ada suara gemerisik di balik pintu, kan? Mereka pandai dalam bersembunyi, itu sebabnya aku pasti tidak akan mau berkeliling mencari mereka. Selain itu ... Kardinal menyebutkan sesuatu yang aneh, kan ... Administrator yang tidak bangun, atau sesuatu seperti itu ... "
"Aah, jika menyebutkannya sekarang ... Pada dasarnya itu berarti bahwa dia tidur? Dia sudah tidur meskipun masih siang hari?"
Kirito menggosok dagunya untuk sementara waktu pada pertanyaan Eugeo dan kemudian menjawab seolah-olah dia tidak mengerti.
"Kardinal juga mengatakan bahwa dalam pertukaran untuk hidup selama ratusan tahun, Administrator dan integrity knight memaksa diri mereka dengan berbagai cara. Terutama Administrator yang tampaknya menghabiskan sebagian besar harinya untuk tidur, tapi ... jika benar, apa sebenarnya yang terjadi pada kendalinya atas integrity knight dan serangga seperti tadi ...?"
Tenggelam ke dalam pikirannya selama beberapa detik dengan kepalanya melihat ke bawah, ia segera menanggapi dirinya sambil meraba-raba sekitar ubun-ubunnya.
"Yah, kita akan tahu jika kita terus mendaki. ―Kesampingkan itu, Eugeo, bisakah kamu melihat punggungku?"
"H-Hah?"
Kirito berputar ke belakang di depan Eugeo yang tampak bingung. Dia memeriksa punggungnya sambil kebingungan, tapi benar-benar tidak ada sesuatu yang aneh pada kain hitam mantelnya selain kerusakan yang ada padanya, cocok dengan keadaan setelah bertarung.
"Tidak ... ada yang istimewa tentang hal itu, meskipun ..."
"Bagaimana aku menjelaskan ini ... apa ada serangga kecil yang menempel? Seperti laba-laba atau sesuatu seperti itu."
"Tidak, tidak ada yang seperti itu, meskipun."
"Jadi begitu, itu bagus. ―Kalau begitu, sekali lagi, mari kita lanjutkan ke paruh kedua perjalanan kita!"
Eugeo mengejar Kirito, yang mulai berjalan cepat menuju ujung utara koridor, dalam bingung.
"Hei, apa itu tadi?!"
"Tidak ada apa-apa, kok."
"Kamu membuatku penasaran, lihatlah punggungku juga!"
"Seperti yang kukatakan, sungguh tidak ada apa-apa."
Selama percakapan ringan mereka, yang terjadi berkali-kali sejak mereka meninggalkan Desa Rulid, Eugeo bergumam pelan pada apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan dalam hatinya.
Mengapa kamu, yang mampu menjaga ketenanganmu dalam situasi apa pun, begitu putus asa di depan kematian Fanatio, musuhmu―dan apa kata-kata selanjutnya dari, [walau aku mati]―
Kirito, siapa ... kamu ...?
Pendekar pedang berpakaian hitam yang masih berdiri di depan pintu besar, yang mungkin beberapa kali tinggi badannya, mengulurkan kedua tangan dan membuka pintu ke samping dengan kekuatan. Pada saat itu, badai dingin berembus dan Eugeo memalingkan wajahnya sedikit.
Part 3
Apa yang terletak di luar pintu besar adalah ruang yang luasnya kira-kira seperti tangga di sisi selatan koridor besar yang telah Eugeo dan Kirito naiki. Bentuknya persegi panjang, dengan langit utara berwarna biru gelap yang terlihat melalui jendela panjang dan sempit yang berbaris di dinding yang berlawanan.
Namun, elemen penting tidak bisa terlihat di lantai dengan batu hitam dan putih pada tangga besar yang seharusnya mengarah ke lantai 51.
Tidak peduli seberapa kali ruangan yang luas ini diperiksa, tidak ada tangga, atau bahkan sehelai talipun yang dapat ditemukan. Hanya ada rongga melingkar yang aneh di tengah-tengah lantai yang licin dan halus, dan tidak ada satu jalanpun yang mengarah ke atas sepanjang penglihatan Eugeo.
"Tidak ... Tidak ada tangga."
Bergumam dengan terkejut saat ia melangkah ke ruang redup di belakang Kirito, Eugeo merasakan aliran udara dingin di lehernya dan menarik bahunya. Sepertinya partnernya menyadari itu juga, saat mereka bersama-sama melihat ke atas.
"... Ap ..."
"Apa-apaan ..."
Dan keduanya menjadi terdiam.
Tidak ada langit-langit. Sebuah ruang, tidak, terowongan dalam bentuk yang sama menjulang sepanjang penglihatan mereka. Mereka bahkan tidak bisa memperkirakan seberapa jauh tingginya, tenggelam dalam kegelapan biru tua.
Setelah menarik mata mereka dari ketinggian yang jauh, mereka menyadari celah ini mungkin tidak sepenuhnya ruangan yang kosong. Pintu, yang lebih kecil dari keduanya, berada di permukaan dinding pada setiap tingkat dari lantai 51 dan seterusnya, dengan teras yang memanjang sampai hampir ke tengah celah.
Dengan kata lain, mereka bisa masuk ke lantai atas jika mereka bisa mencapai teras itu―itu pasti caranya.
Eugeo mengulurkan tangan kanannya dan dengan santai mencoba melompat tanpa berpikir.
"... Tidak mungkin itu bisa dicapai ..."
Gumamnya sambil menghela napas. Bahkan teras terdekat adalah, tentu saja diatur lebih tinggi dari langit-langit di «Grand Corridor of Spiritual Light» dan karena itu tingginya lebih dari dua puluh mel bahkan melalui estimasi biasa.
Kirito, yang memandang dengan cara yang sama di sisinya, bertanya dengan suara lemah.
"Dengar ... Aku hanya mengkonfirmasikan ini, tapi tidak ada sihir suci untuk terbang, kan?"
"Tidak."
Balasan seketika yang tanpa ampun.
"Maksudku, terbang di udara hanyalah hak milik integrity knight, kan? Dan mereka bahkan tidak terbang melalui sihir; mereka naik naga terbang mereka ..."
"Jadi ... bagaimana tepatnya manusia di sini bolak-balik ke lantai 51 dan seterusnya?"
"Siapa yang tahu ..."
Keduanya memiringkan kepala mereka bersamaan. Akan lebih baik untuk menghindari itu, tapi mungkin tidak ada ada cara lain selain kembali ke koridor besar dan meminta metode untuk naik dari bawahan Fanatio―hal itu terjadi saat mereka memiikirkan itu.
"Hei, ada sesuatu yang datang."
Kirito berbisik dengan suara gugup.
"Eh?"
Dia menatap celah lagi.
Dia benar-benar melihat sesuatu mendekat. Seakan merumput melewati ujung teras menonjol yang muncul sebagai garis, bayangan hitam dengan pelan turun ke arah mereka.
Saat ia melompat jauh ke belakang dengan Kirito dan memposisikan tangannya di pegangan pedangnya, Eugeo dengan kuat menatap bayangan yang mendekat.
Itu berbentuk lingkaran sempurna. Mungkin dengan diameter dua mel atau lebih? Sepertinya tepi piringan besi itu bisa terlihat berkilau menakutkan setiap kali itu menangkap cahaya biru yang bersinar dari jendela yang ramping. Namun, mengapa hal seperti itu bisa turun dengan anggun dalam ruangan tanpa dukungan atau hal semacam itu?
Telinga Eugeo menangkap suara aneh, "wusss", ketika piringan melewati teras dua lantai di atas mereka pada kecepatan konstan. Lehernya merasakan angin dingin setiap kali itu terjadi.
Eugeo tidak berlari, ataupun menghunus pedangnya; ia hanya berdiri diam, tercengang, dan menatap bagaimana piringan menyerempet teras dan turun tepat di depan mereka. Ketika piringan mendekat hingga beberapa mel lagi, lubang kecil terbuka di tengah sisi bawahnya dan ia merasakan udara yang keluar dari sana adalah penyebab kebisingan dan angin yang misterius.
Namun, bagaimana bisa sebuah piringan besi melayang hanya dengan tenaga angin―ia bertanya saat suara mendesing terus meningkat dan kecepatan berputar logam piringan menurun, akhirnya berhenti saat itu dengan rapi terjepit ke dalam rongga melingkar, menggantung ke lantai batu, dengan sedikit menabrak dan bergetar sedikit.
Permukaan atas piringan dipoles halus seperti cermin. Keahlian detailnya sampai ke pegangan tangan perak yang terpasang di tepi lingkaran. Sebuah pipa kaca berukuran sekitar panjang satu mel dan tebal lima puluh cen berdiri tegak di tengah-tengahnya―seorang gadis muda diam-diam berdiri di sana dengan dua tangannya di atas pipa, bulat seperti belahan bumi.
"......!?"
Eugeo mundur kembali saat ia menaruh kekuatan ke tangan kanannya yang memegang pegangan pedang. Dia meningkatkan kewaspadaanya, berpikir mungkin ini seorang integrity knight baru.
Tapi dia segera menyadari gadis itu tidak memiliki bahkan satu belati pun pada pinggang dan punggungnya. Pakaiannya, rok panjang hitam polos, tidak pas untuk pertarungan juga. Satu-satunya hiasan yang ada adalah rajutan hem sederahan pada apron putih yang tergantung dari dadanya ke bawah lutut, jadi ia tidak memakai aksesoris lain pada dirinya.
Rambutnya cokelat muda, sedikit berwarna abu-abu, dipotong lurus pada alis dan bahunya, dengan hampir tidak ada fitur wajah yang membedakan pada kulit pucatnya. Itu cukup bagus meski tanpa sedikitpun emosi. Eugeo merasa usianya sedikit lebih muda darinya, tapi dia tidak tidak terlalu yakin.
Siapa sebenarnya gadis ini; Eugeo mencoba melihat mata gadis itu, tapi ia bahkan tidak bisa melihat warnanya karena mereka tersembunyikan oleh bulu mata yang turun. Gadis, yang tidak berusaha sama sekali untuk melihat wajah keduanya bahkan setelah piringan berhenti, melepaskan tangannya dari pipa kaca aneh dan menempatkannya di depan celemeknya, lalu menundukkan kepalanya dan mengeluarkan suaranya untuk pertama kalinya.
"Terima kasih atas kesabaran Anda. Lantai mana yang Anda tuju, Tuan?"
Suara yang memiliki tingkat intonasi vokal minimum dan tidak mengandung emosi sama sekali. Eugeo bahkan tidak mendengar fragmen apa pun yang mengarah ke permusuhan, jadi dia dengan pelan melepaskan tangannya dari pedangnya. Kata gadis itu terulang sekali lagi dalam pikirannya.
"Lantai mana ... tunggu ... Kalau begitu, Anda bersedia untuk membawa kami ke lantai atas?"
Ketika ia bertanya setengah percaya, setengah ragu, gadis itu menurunkan kepalanya lagi.
"Tentu saja. Boleh saya tahu lantai mana yang Anda tuju?"
"Yah ... walau Anda mengatakan itu ..."
Berpikir bahwa setiap orang yang akan muncul di depan mereka di katedral akan menjadi musuh, Eugeo goyah, tidak tahu harus berkata apa. Kirito, yang berdiri di sisinya, kemudian berbicara dengan nada riang; Eugeo juga tidak tahu persis apa yang ada di kepalanya itu.
"Erm, kami adalah buronan yang menyerbu katedral ... apa tidak akan ada masalah kalau kami naik ele, tidak, piringan itu?"
Gadis itu kemudian sedikit memiringkan kepalanya, tapi langsung mengembalikannya ke posisi semula dan menjawab.
"Tugas saya satu-satunya adalah mengoperasikan piringan ini. Saya belum menerima perintah lain yang tidak berkaitan dengan itu."
"Jadi begitu. Kalau begitu ijinkan saya untuk menerima penawaran Anda."
Kirito mulai berjalan cepat ke arah piringan ketika mengucapkan kata-kata santai itu, jadi Eugeo berseru dengan suara panik.
"H-Hei, kau yakin itu tidak apa-apa?"
"Yah, itu tidak terlihat seperti ada cara lain untuk naik."
"Itu ... benar, tapi tetap saja ..."
Eugeo kagum bagaimana dia bisa naik benda aneh seperti ini dengan nyaris tanpa hati-hati setelah melalui berbagai hal dengan dua integrity knight muda, tapi itu benar bahwa tak satu pun dari mereka yang memiliki ide tentang bagaimana menggerakkan piringan itu. Menetapkan hatinya dengan memikirkan mereka bisa melompat ke beberapa teras jika itu jebakan, dia mengikuti partnernya.
Setelah keduanya menaiki piringan melalui pintu pagar mewah, Kirito menatap pipa kaca dengan wajah ingin tahu saat ia memberitahu gadis itu.
"Erm, kalau begitu tolong bawa kami ke lantai tertinggi."
"Baik. Kalau begitu kita akan menuju ke lantai delapan puluh, «Cloudtop Garden». Mohon tetap dalam batas pegangan tangan."
Tanggapan muncul dalam waktu singkat dan dengan busur lain, gadis itu menempatkan dua tangannya di atas pipa. Dia menarik napas―
"Sistem panggil. Hasilkan elemen udara."
Ritual sihir yang dibacakan tiba-tiba membingungkan Eugeo, yang menafsirkannya sebagai serangan, tapi itu tampaknya tidak terjadi. Bagaimanapun, elemen udara yang berwarna hijau berkilauan, berada di dalam pipa transparan. Tapi dia kembali terkejut saat melihat jumlah mereka. Ada sepuluh jumlahnya―dia pasti pengguna sihir berperingkat cukup tinggi jika bisa menghasilkan elemen sebanyak ini dalam sekali baca.
Gadis itu mengeluarkan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah kanannya pada pipa kaca dan dengan pelan bergumam.
"Elemen Burst."
Tiga elemen udara melesat keluar dengan cahaya hijau, menyebabkan suara geraman dari bawah. Piringan logam yang ditunggangi oleh tiga manusia langsung naik seakan ditarik oleh tangan tak terlihat.
"Jadi itu! Jadi begitu cara kerjanya, huh."
Eugeo akhirnya mengerti dasar di balik bagaimana piringan naik dan turun dengan suara senang Kirito. Elemen udara yang dikeluarkan di dalam pipa kaca berjalan melalui piringan, yang memungkinkan berat tiga manusia dan piringan itu sendiri berkurang dan menyebabkan ledakan keras di bawah.
Itu ternyata mekanisme yang sederhana, tapi gerakan piringan sangat halus hingga hampir tak terasa apa-apa. Selain tekanan yang ia rasakan pada awal pendakian, itu meluncur melalui udara dengan hampir tidak ada sentakkan.
Lantai lima puluh segera berada jauh di bawah dan Eugeo sekali lagi sadar bahwa piringan kecil ini bisa naik ke lantai delapan puluh katedral, yaitu, ketinggian yang cukup tinggi untuk menyentuh awan. Menyeka telapak tangan berkeringatnya pada celananyanya, ia mencengkeram erat pagar.
Kirito di sisinya, bagaimanapun, memiliki ekspresi tenang seolah dia telah menaiki sesuatu yang serupa di masa lalu, mengagumi pergerakan sambil berseru, meski minatnya segera beralih dari piringan ke manusia yang mengoperasikannya dan bertanya setelah melihat gadis itu.
"Berapa lama Anda telah melakukan pekerjaan ini?"
Gadis itu menjawab dengan suara yang sedikit bingung, wajahnya masih tersembunyi.
"Ini akan menjadi tahun yang ke seratus tujuh sejak tugas suci ini diberikan kepada saya."
"Sera ..."
Melupakan ruang kosong di bawah kakinya, Eugeo membelalakkan matanya. Dia bertanya terbata-bata menggantikan Kirito.
"Se-Seratus tujuh tahun ... Anda sudah mengoperasikan piringan ini sepanjang waktu itu!?"
"Saya tidak mengoperasikannya ... sepanjang waktu. Saya juga menerima istirahat makan di sore hari dan tentu saja, saya diizinkan untuk beristirahat di malam hari."
"E-Erm ... itu bukan apa yang saya ..."
―Tidak.
Memang seperti itu. Hidup gadis ini pasti dibekukan seperti integrity knight, hidup di atas sebuah piringan metal untuk apa yang bisa dikatakan sebagai keabadian.
Eugeo percaya bahwa nasib itu jauh lebih kejam, jauh lebih ditinggalkan, dan jauh lebih suram daripada integrity knight, yang mengabdikan waktu tak terbatas mereka untuk berperang.
Piringan metal perlahan tapi pasti naik. Gadis itu menyembunyikan semua emosinya di bawah bulu matanya yang diturunkan, membuat elemen udara lagi setiap kali mereka habis, dan melepaskan mereka lagi. Eugeo bertanya-tanya berapa kali ia mengulangi kata itu, "burts", dalam setiap siklus, tapi tentu saja, itu dengan mudah melampaui imajinasinya.
"Anda ... siapa nama anda?"
Kirito tiba-tiba bertanya.
Gadis itu memiringkan kepala untuk waktu yang lama kali ini, sebelum menjawab dalam gumaman.
"Nama saya ... Saya tidak ingat itu. Semua Tuan dan Nyonya menyebut saya sebagai «Operator Pengangkat». Operator Pengangkat ... itulah nama saya."
Tampaknya bahkan Kirito tidak memiliki jawaban untuk ini. Eugeo, yang secara tidak sengaja menghitung teras yang sudah lewat lebih dari dua puluh, merasakan dorongan untuk menghapus keheningan pada punggungnya dan membuka mulutnya.
"... Hei ... hei, kami di sini untuk mengalahkan orang-orang penting dari Gereja Axiom. Mereka yang memberikan Anda tugas suci ini."
"Jadi begitu."
Hanya itu jawaban gadis itu. Tapi Eugeo melanjutkan dengan kata-katanya, mungkin tanpa tujuan tertentu dalam pikirannya.
"Jika ... gereja tidak ada lagi dan Anda dibebaskan dari tugas suci ini, apa yang akan Anda lakukan ...?"
"... Dibebaskan ...?"
Setelah mengulangi dengan nada goyah, gadis bernama Operator Pengangkat itu terus diam saat mereka melewati lima teras.
Setelah mencoba melihat, Eugeo menyadari langit-langit abu-abu muncul. Itu pasti bagian bawah lantai delapan puluh katedral. Mereka akhirnya akan melangkahkan kaki ke inti sebenarnya dari Gereja Axiom.
"Saya ... tidak tahu apa-apa tentang dunia selain dari piringan yang saya angkat ini."
Gadis itu tiba-tiba berbicara dalam nada goyah.
"Karena itu ... Saya tidak dapat memutuskan tugas suci baru meski Anda mendesak ... Namun, jika Anda mengartikannya akan sesuatu yang ingin saya lakukan ..."
Wajahnya yang terus menunduk sepanjang waktu ini terangkat dan gadis itu menatap jendela panjang dan sempit yang terpasang di dinding kanan―dimana langit utara yang cerah berada di belakangnya.
"... Saya ingin terbang bebas di piringan ini ... di langit itu ..."
Mata gadis yang pertama kali ia lihat itu berwarna biru nila yang sangat gelap seperti langit biru di puncak musim panas.
Begitu elemen udara terakhir menghilang, piringan mencapai teras ketiga puluh dan dengan pelan berhenti.
Gadis operator pengangkat itu menarik tangannya dari pipa kaca, menempatkan mereka bersama-sama di depan celemek, dan membungkuk dalam-dalam.
"Terima kasih atas kesabaran Anda, kita telah tiba di lantai delapan puluh, «Cloudtop Garden»."



"... Terima kasih."
Eugeo dan Kirito menundukkan kepala mereka dan naik ke teras dari piringan.
Gadis itu mengangkat kepalanya lagi, dan setelah membungkuk ringan, dia mempercayakan piringan turun pada elemen udara yang melemah. Suaranya yang memancar, seperti angin musim dingin, segera memudar di kejauhan dan piringan itu lenyap di kedalaman kegelapan biru, dunia baja kecil itu telah menutup diri untuk selama-lamanya.
Eugeo mengambil napas dalam-dalam tanpa ia sadari.
"... Kupikir tugas suci sebelumku adalah yang terburuk di dunia karena hampir tak akan pernah selesai, tapi ..."
Setelah menggumamkan itu, Kirito mengangkat alis dan meliriknya.
"Itu sudah cukup bagus karena aku bisa pensiun setelah tua dan tak mampu mengayunkan kapak itu lagi, ketika aku membandingkannya dengan tugas suci gadis itu, hanya saja ..."
"Kardinal mengatakan bahwa pembekuan Nyawa seseorang dari pengurangan secara alami melalui ritual sihir tidak akan melindunginya dari penuaan jiwa. Itu perlahan akan mengganggu ingatannya dan orang itu akan hancur pada akhirnya."
Kirito, yang menjawab dengan nada tertekan, mengayunkan tubuhnya dengan paksa, seolah berusaha untuk memutuskan garis pemikiran itu, dan memutar punggungnya dengan tajam.
"Apa yang Gereja Axiom lakukan itu salah. Itulah mengapa kita di sini untuk mengalahkan Administrator. Tapi itu bukan akhir segalanya, Eugeo. Tantangan sebenarnya berada di luar itu ..."
"Eh ...? Bukankah kita hanya perlu meninggalkan sisanya untuk Kardinal-san jika kita mengalahkan Administrator?"
Kirito menggerakkan bibirnya ketika Eugeo bertanya, seolah dia hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak seperti biasanya rasa ketidakpastian muncul di matanya yang hitam dan dia akhirnya memalingkan wajahnya.
"Kirito ...?"
"... Tidak, mari kita bicara lebih banyak tentang itu setelah kita mengembalikan Alice. Ini bukan waktunya untuk berpikir tentang hal-hal yang tidak perlu."
"Itu ... benar, tapi tetap saja."
Kirito mulai berjalan di teras dengan langkah cepat, seolah menghindari tatapan Eugeo, yang memiringkan kepalanya. Eugeo mengejarnya dengan emosi yang tak bisa dijelaskan, tapi perasaan tegang yang mengalir dari tubuhnya menyapu keraguan tipisnya dalam sekejap setelah pintu besar yang menjulang di ujung teras memasuki penglihatan mereka.
Melihat lima integrity knight yang berkumpul di lantai lima puluh, orang yang mengkoordinasikan perlawanan terhadap penyusup―kemungkinan Kepala yang Fanatio sebutkan berniat untuk menghentikan mereka berdua dengan segala cara. Fakta bahwa mereka menahan serangan sengit para knight dan mendapat kemenangan entah bagaimana pasti dekat dengan keajaiban.
Mereka menerobos garis pertahanan dan memanjat dekat dengan lantai tertinggi pasti membuat Kepala akhirnya mengirimkan knight dengan potensi pertarungan yang tinggi. «Pemimpin Knight» bersama dengan semua integrity knight yang tersisa, serta pengguna sihir suci berperingkat tinggi, para pendeta dan suster, mungkin menunggu di balik pintu ini, misalnya―bahkan hal seperti itu relatif mungkin.
Tapi selama tidak ada jalan lain, kami tidak bisa melakukan apa pun kecuali menerobos setiap penghalang yang berdiri di depan kami.
Kita bisa melakukannya. Dengan Kirito dan aku di sini.
Eugeo saling tatap dengan partner, yang berdiri di sisinya, dan mengangguk bersama. Mengulurkan tangan mereka secara bersamaan, mereka menempatkan telapak tangan mereka di pintu kiri dan kanan dan dengan kuat mendorong mereka.
Pintu batu perlahan-lahan mulai membuka ke kiri dan kanan dengan suara berat.
"......!"
Panca inderanya menyerap warna yang muncul di depan matanya, riak air, dan aroma harum pada saat itu menyebabkannya pusing sesaat.
Tidak salah lagi mereka berada di dalam menara. Marmer putih yang sama dengan lantai di bawah bisa dilihat di ujung.
Namun, lantai yang luas itu tidak tertutup dalam batu seperti sebelumnya. Sebaliknya, rumput yang tampak tebal dan lembut tumbuh di sana. Bunga suci berbagai warna, mungkin sumber dari aroma tadi, sepenuhnya mekar di seluruh halaman.
Apa yang membuatnya lebih heran adalah aliran murni kecil yang mengalir di kejauhan, permukaan airnya berkilauan dengan cahaya. Sebuah jalur bata ramping membentang dari pintu yang berdiri, memotong rumput, dan terus membentuk jembatan kayu yang membentang di atas sungai kecil.
Sebuah bukit kecil tampak di belakang sungai. Jalan berliku-liku berada di atas tanah miring dan ditutupi dengan bunga yang bermekaran. Setelah mengikuti jalan dengan penglihatannya, Eugeo melihat satu pohon yang tumbuh di puncak bukit.
Itu tidak sebesar pohon. Dia bisa melihat daun hijau gelap dan bunga jeruk kecil dalam bentuk salib di cabang-cabangnya yang tipis. Cahaya Solus, yang mengalir dari jendela pada dinding yang dipasang di dekat langit-langit, menyinari pohon dan bunga yang tak terhitung jumlahnya dan mereka berkilauan seolah mereka adalah emas.
Batang setipis kacanya juga bermandikan sinar matahari dan bersinar―akarnya, juga, memancarkan sinar emas yang sangat menyilaukan―
"Ah ......"
Eugeo tidak menyadari suara tenang yang lolos dari mulutnya sendiri.
Keika pikirannya terpaku pada bukit itu ia melihat ada gadis yang duduk di batang pohon dengan kelopak mata yang tertutup.
Seolah dia adalah khayalan yang ditimbulkan oleh sinar matahari yang dengan indah mengalir melalui pohon, seluruh sosok gadis itu tercelup dalam cahaya keemasan. Armor megah yang menutupi bagian atas tubuh dan lengannya berwarna putih dengan hiasan keemasan, rok panjangnya juga putih bersih, dengan benang emas yang dibordir pada kainnya, dan bahkan sepatu bot kulit putihnya bersinar cemerlang tanpa cacat setelah menerima sinar matahari yang masuk.
Namun, apa yang paling bersinar terang adalah rambutnya yang panjang mengalir. Rambut lurus, yang seperti emas cair, menarik busur sempurna saat itu menutup pinggangnya dari kepala mungilnya, menghasilkan air terjun cahaya yang luhur.
Sebuah cahaya yang ia lihat sehari-hari, di masa lalu. Dia tidak tahu nilai atau kefanaannya, menarik rambutnya dengan bercanda dan mengikatnya dengan ranting.
Emas cemerlang yang melambangkan persahabatan, aspirasi, dan kasih sayang yang kabur, telah berubah hanya dalam satu hari, menjadi lambang akan kelemahan, kekotoran, dan kepengecutan Eugeo. Dan secercah cahaya yang seharusnya tak pernah bisa ia lihat kembali sekarang dalam jangkauannya sekali lagi.
"Ah ... Ali ... ce ..."
Tanpa memperhatikan suara serak yang keluar dari mulutnya sendiri, Eugeo terhuyung ke depan.
Dia dengan goyah mengikuti jalan batu bata. Baik aroma menyegarkan dari bunga suci maupun suara menenangkan air tidak lagi ada di kesadaran Eugeo. Hanya panas dari tangan berkeringatnya yang dengan erat tergenggam ke mantel dadanya dan belati yang tampaknya bergertar di dalam kain yang di jaga Eugeo.
Menyeberangi jembatan yang membentang di atas sungai kecil. Kurang dari dua puluh mel lagi dia sampai ke puncak bukit.
Ketika dia mendongak, dia bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu sedikit menunduk ke bawah. Tidak ada emosi sama sekali pada kulitnya yang putih cerah. Dia hanya terdiam dengan mata terpejam, pikirannya tampaknya melayang diantara kehangatan sinar matahari dan aroma bunga.
―Apa dia tertidur?
Jika aku mendekat seperti ini dan menusuk belati sedikit ke jari-jari yang saling bertautan di atas pangkuannya ... apa itu akan jadi akhir untuk segalanya?
Itu ketika pikiran itu melintas dalam pikiran Eugeo.
Tangan kanan Alice naik tanpa suara dan hati Eugeo berdebar saat kakinya berhenti.
Bibir menawannya bergerak dan suara nostalgia mencapai telinganya.
"Berikan saya sedikit waktu lagi. Sudah lama sejak kami memiliki cuaca yang bagus seperti ini, jadi saya ingin membiarkan anak ini berjemur di bawah sinar matahari lebih lama lagi."
Kelopak matanya, yang dibingkai oleh bulu mata emas, dengan pelan terangkat.
Satu-satunya sepasang mata yang berwarna biru di dunia ini memandang lurus mata Eugeo.
Eugeo melihat tatapan Alice melunak, senyum terbentuk di bibirnya.
Namun, mata biru jernihnya tidaklah selembut langit seperti dulu. Itu adalah warna es yang tetap beku selama sepuluh ribu tahun, tidak mencair terlepas dari berapa banyak sinar matahari yang memandikannya. Dipandang oleh tatapan yang menganggapnya penyusup, Eugeo tidak bisa menggerakkan kakinya.
Seperti yang diduga, pertarungan tak bisa dihindari.
Walau ia kehilangan ingatannya, ia harus menarik pedangnya ke arah gadis itu, yang tidak diragukan lagi adalah Alice Schuberg dari Rulid. Untuk mengembalikannya seperti semula. Tidak peduli betapa sulitnya pertarungan ia harus menerimanya.
Tubuhnya telah merasakan kekuatan Integrity Knight Alice Synthesis Thirty dua hari yang lalu, ketika pipinya ditampar oleh sarungnya. Eugeo mungkin tak sadar ketika ia ditampar, tapi ia bahkan tidak bisa mengikuti pergerakkannya dengan matanya. Ini akan menjadi bukti bahwa mustahil untuk menekan pendekar pedang dengan skill seperti itu tanpa menderita luka berat, kan?
Dia bukanlah lawan yang mudah.
―Namun, bisakah aku benar-benar memutuskan bahkan seuntai rambut emas itu?
Karena aku bahkan tidak bisa mengambil langkah maju, apalagi mencabut pedangku.
Kirito berbicara dari belakang Eugeo, yang masih berdiri dalam konfliknya, kata-katanya jelas meskipun agak serak.
"Kamu jangan bertarung, Eugeo. Hanya pikirkan tentang bagaimana menusuk belati Kardinal ke Alice dengan benar. Aku akan menghentikan serangannya untukmu bahkan dengan biaya hidupku."
"Ta ... tapi."
"Tidak ada jalan lain, situasi akan bertambah buruk jika kita terus bertarung. Aku akan mengambil serangan pertama Alice bukannya menghindar atau menahannya seperti itu, jadi gunakan belati itu segera. Mengerti?"
"......"
Dia dengan kuat menggigit bibirnya. Pada akhirnya, ia mengorbankan Kirito, orang yang terluka parah dalam pertarungan melawan Deusolbert dan pertarungan melawan Fanatio. Meski rencana nekat menantang Gereja Axiom ini pada awalnya berasal dari tidak lebih dari agenda pribadi Eugeo.
"... Maaf."
Ketika ia bergumam dengan malu, Kirito menjawab dengan nada yang sedikit dekat dengan nada biasanya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, aku akan memintamu membayar semuanya kembali dalam waktu dekat .... Namun, kesampingkan hal itu ..."
"...? Apa yang terjadi?"
"Tidak ... dari apa yang kulihat, dia tidak terlihat seperti bersenjata. Selain itu ... siapa yang dia bicarakan ketika dia berkata, 'anak ini' ...?"
Seperti dipandu, ia memfokuskan matanya pada Alice, yang masih duduk di atas bukit. Kelopak matanya ditutup kembali dan sedikit menunduk ke bawah; ketika ia melihat pinggangnya, sarung emas yang tergantung di sana ketika mereka pertama kali bertemu di Master Sword Academy tidak ada sekarang.
"Mungkin dia meninggalkan pedangnya ketika dia sedang istirahat atau sesuatu seperti itu ... Itu akan sangat membantu, meskipun."
Bergumam dengan nada yang menunjukkan kurangnya kepercayaan pada hal seperti itu, Kirito menyapu pegangan pedang hitamnya dengan tangan kirinya.
"Ini tidak baik terhadap Alice, tapi tidak seperti kita bisa menunggunya sampai ia selesai berjemur. Apakah dia memiliki pedang atau tidak, menantangnya sekarang pasti mencegahnya dalam membacakan sihir kontrol penuh setidaknya. Jujur, itu hal terbaik yang bisa kita harapkan jika kita bisa menyelesaikan ini tanpa dia menggunakan itu. "
"Kurasa kau benar ... sihir kontrol penuhku tidak menghabiskan banyak Nyawa pedangku, jadi aku percaya aku masih bisa menggunakannya dua kali hari ini, meskipun ..."
"Itu akan membantu. Sebab, sekali lagi adalah batas milikku. Dan masih ada Pemimpin Knight itu setelah Alice. Yah ... mari kita pergi."
Kirito mengambil langkah maju dengan anggukan kecil.
Pikirannya bulat, Eugeo mengikuti di belakang.
Meninggalkan jalan bata yang meliuk-liuk di sekitar bukit, mereka langsung menuju puncak. Jejak mereka di halaman terdengar keluar.
Alice dengan pelan berdiri ketika mereka berada di tengah jalan. Mata bekunya yang tidak menunjukkan sedikit pun emosi menatap keduanya di belakang kelopak matanya yang setengah terbuka.
Seolah pandangannya telah melemparkan semacam ritual sihir, kakinya menjadi berat dalam sekejap. Meski jelas bahwa tidak ada sabuk pedang yang bisa dilihat pada Alice, Eugeo merasa kakinya menolak untuk mendekati gadis itu lebih jauh. Apa ketakutan telah terukir ke dalam tubuhnya hanya karena satu pukulan ke pipinya? Tapi meski begitu, gaya berjalan Kirito sepertinya juga telah kehilangan kekuatannya saat ia berjalan di depan, kan?
"... Pada akhirnya, kalian telah berjalan sejauh ini, kan."
Suara Alice yang jelas sekali lagi mengguncang udara.
"Saya menilai bahwa mengirim Eldrie saja akan cukup untuk mengatasi kalian berdua yang bisa melarikan diri dari penjara bawah tanah. Namun, kalian telah mengalahkannya dan terlebih lagi, mengalahkan Deusolbert-dono dan bahkan Fanatio-dono yang memiliki instrumen suci, hingga melangkah ke lapangan «Cloudtop Garden» ini."
Alis melengkungnya membentuk cemberut samar. Suara dari bibir cherry blossomnya memiliki nada yang sedih dan sunyi.
"Apa sebenarnya kekuatan yang kalian berdua miliki? Mengapa tepatnya kalian datang untuk menyentak ketenangan Dunia Manusia? Mengapa kalian tidak mengerti bahwa setiap integrity knight yang cedera akan menjadi kemunduran besar terhadap persiapan melawan kekuatan kegelapan?"
―Itu untukmu, semua hal itu.
Eugeo meneriakkan itu di dalam hatinya. Tapi dia tahu itu tidak akan berarti apa-apa bagi Integrity Knight Alice yang berdiri di depan matanya walau ia mengatakan itu. Dengan kuat mengatupkan giginya, Eugeo hanya menggerakkan kakinya ke depan.
"Seperti yang saya pikir―tampaknya saya harus bertanya dengan pedang saya. Baiklah ... jika itu yang kalian berdua inginkan."
Kata-katanya seperti mendesah, Alice meletakkan tangan kanannya di batang pohon di sisinya sebagai pendukung.
Tapi dia tidak memiliki pedang―
Eugeo memikirkan itu hampir sama saat Kirito mengatakan "tidak mungkin".
Cahaya melintas di detik berikutnya dan pohon bertubuh kecil yang tumbuh di puncak bukit itu hancur.
"―!?"
Sebuah aroma manis dan menyegarkan agak telat muncul dan itu benar-benar menghilang.
Sebelum mereka sadar, tangan kanan Alice memegang longsword familiar dengan bentuk yang ramping. Tidak hanya sarung pedangnya, tapi semua bentuknya terbuat dari emas menyilaukan. Sebuah desain bunga berbentuk salib menghiasi sarungnya.
Eugeo tidak bisa segera mengerti apa yang telah terjadi.
Pohon lenyap, pedang muncul. Dengan kata lain, pohon itu berubah menjadi pedang? Tapi Alice tidak membacakan ritual sihir apapun. Walau itu hanya sebuah sihir ilusi atau beberapa sihir suci peringkat tinggi untuk transmutasi, itu tidak mungkin untuk dilakukan tanpa membacakan ayat-ayat ritualnya.
Tidak. Jika pohon yang tampilannya berubah murni karena mental imajinasi Alice―itu akan, pada dasarnya―
Setelah tiba pada satu kesimpulan yang sesaat lebih cepat, Kirito mengeluarkan erangan dalam.
"Sial, ini tidak bagus ... apa pedang itu sudah berada dalam kondisi kontrol penuh?"
Tak senang pada keduanya yang berdiri tegak, Alice mengangkat pedangnya secara horizontal dengan kedua tangan.
Jyaa! Pedang, yang terhunus dengan suara memekik, tenggelam dalam warna kuning keemasan yang lebih intens daripada sarungnya, berkilau karena memantulkan cahaya Solus.
Kirito melancarkan serangan ganas sesaat setelahnya. Tak jelas apa kekuatan pedang yang Alice pegang, tapi ia mungkin menilai bahwa akan lebih baik untuk membawa ke pertarungan jarak dekat sebelum sihir kontrol diaktifkan. Dengan keras merobek rumput hijau, dia menaiki delapan puluh persen bukit hanya dalam sepuluh langkah.
Sambil mencengkeram rantai di dadanya, Eugeo dengan panik mengejar partnernya. Kirito sepertinya tidak memiliki niat untuk menghunuskan pedangnya. Sepertinya ia bermaksud untuk menghentikan serangan pertama Alice dengan tubuhnya seperti yang ia katakan. Walau itu menyegel pergerakannya, itu hampir tidak akan berlangsung lama. Karena itu, Eugeo harus memenuhi perannya untuk menikamnya dengan belati tanpa membiarkan kesempatan hilang.
Ekspresi Alice tidak berubah sedikit pun meski melihat pendekar pedang berpakaian hitam mendekat. Dengan gerakan yang terlihat ceroboh, dia dengan ringan mengacungkan pedang di tangan kanannya.
Kirito belum masuk ke jangkauan tebasan. Itu kemungkinan sihir ofensif jarak jauh seperti Deusolbert atau Fanatio. Jika benar, walau serangan awal menghentikan Kirito, Eugeo pasti bisa masuk ke dalam jarak untuk menusukkan belatinya dengan menggunakan celah itu.
Menguatkan pikirannya dalam sekejap, Eugeo mengubah arahnya ke sudut yang berbeda dari Kirito dan terus berlari.
Tangan kanan Alice dengan pelan berayun ke depan.
Pedang emas―lenyap.
"―!?"
Itu tidak lenyap. Akan lebih akurat untuk mengatakan bahwa itu terpisah. Pedang membelah menjadi ratusan atau ribuan serpihan dan menyerbu Kirito sebagai badai emas.
"Guah!"
Ditelan cahaya kelap-kelip yang tak terhitung jumlahnya, Kirito dirobohkan.
Memanfaatkan kesempatan yang dibuat oleh partnernya, Eugeo mengertakkan gigi dan berlari ke depan.
Namun, angin emas yang menyerang Kirito tidak hanya berhenti di situ. Itu menyebabkan suara seperti badai dingin dan berbalik ke kiri di udara, menyapu Eugeo dari samping.
Dia tidak bisa berdiri di kakinya setelah terkena dampak seperti itu. Seakan terlempar oleh telapak tangan raksasa, Eugeo roboh ke kanan juga.
Setiap serpihan dengan ukuran kurang dari satu cen, memiliki berat yang luar biasa. Terlempar ke halaman, Eugeo merasakan nyeri terbakar pada seluruh lengan kirinya yang menutupi wajahnya saat badai emas datang menyerang dan mati-matian menahan keinginannya untuk menjerit dan menggeliat.
Tak terhitung serpihan emas, yang menghentikan serangan keduanya dengan begitu mudah, menarik busur saat mereka berputar dan kembali ke sisi Alice. Namun, mereka tidak kembali ke bentuk pedang tapi tetap melayang di sekitar knight.
Memeriksa lebih dekat, semua serpihan kecil itu berbentuk salib dan itu semua dibentuk oleh berlian yang bahkan lebih kecil. Mereka sama dengan desain pada sarung―yang berarti mereka sama seperti bunga-bunga pohon yang tumbuh di bukit.
"―Apa kalian mengejek saya? Bagaimana mungkin kalian berlari ke arah saya tanpa menarik pedang kalian?"
Alice diam-diam menegur tanpa mengungkapkan setitik emosi seperti biasa.
"Serangan sebelumnya berfungsi sebagai peringatan. Namun, yang berikutnya akan menghapus semua Nyawa kalian. Tunjukkan semua yang kalian punya; demi semua knight yang telah kalian berdua kalahkan sejauh ini juga."
Dia tidak serius?
Meski kekuatannya tak masuk akal seperti itu ...?
Dalam pandangan Eugeo saat ia menggigil dari lubuk hatinya, bunga-bunga emas yang tak terhitung jumlahnya membuat suara keras "jyakii". Ketika ia melihat lebih keras, ia melihat ujung dari empat kelopak, yang halus dan bulat sebelumnya, menjadi lebih lancip dan tajam dari ujung pedang ramping. Dia tidak akan lolos hanya dengan jatuh seperti sebelumnya jika ia diserang hal seperti itu. Kulitnya akan sobek dan mungkin tulang-tulangnya bahkan akan teriris.
Ketakutan yang mendalam membuat seluruh tubuh Eugeo menjadi mati rasa.
Walau bunga-bunga emas itu hanya ada satu, Nyawanya dengan sigap akan menurun jika itu memotong organ-organ vitalnya. Namun serpihan berkilau itu berada di sekitar Alice sekarang, seperti mandi megah bunga, berjumlah lebih dari dua atau tiga ratus. Mustahil untuk menangkis semuanya dengan pedang dan juga mustahil untuk menghindari badai bunga yang mampu bergerak dengan kecepatan tinggi dan tak terkendali itu di udara. Dengan kata lain, sihir kontrol penuh Alice luar biasa sempurna dan juga luar biasa kuat―
Ya, itu luar biasa.
Sihir kontrol penuh persenjataan dengan instrumen suci pastilah skill yang kuat, tapi tetap saja, ada batasannya. Sifat sejati sihir ini adalah mengubah «memori» yang dimiliki oleh asal senjata, apakah itu panas, dingin, keras, cepat, dan semacamnya, menjadi kemampuan ofensif namun buruk di aspek lain semakin itu mengkhususkan diri dalam satu kemampuan tertentu.
Seperti sihir kontrol penuh Wakil Pemimpin Knight Fanatio yang dipantulkan oleh cermin kecil yang Kirito buat, sebagai akibat dari mengkhususkan diri terlalu banyak dalam menusuk ke satu titik dengan sinar cahaya yang terkonsentrasi.
Tak diketahui eksistensi seperti apa pohon kecil yang tampaknya menjadi asal instrumen suci Alice, tapi jika tenaga di dalamnya dibagi hingga begitu kecil, dan berjumlah sebanyak itu, jika hanya memfokuskan akurasi, setiap daun bunga seharusnya telah banyak kehilangan kekuatan mereka. Tidak peduli seberapa keras Eugeo memikirkannya, satu serpihan yang bahkan tidak sepanjang satu cen memiliki tenaga seperti kepalan raksasa, seperti yang telah ia rasakan dengan tubuhnya sendiri, menentang teori itu.
Jika itu bisa membuat fenomena seperti itu, pohon ramping yang mekar dengan bunga-bunga oranye itu pasti memiliki prioritas yang sangat tinggi, bahkan melampaui asal pedang Kirito, «pohon iblis», Gigas Cedar ...
Kirito yang ambruk di depan, di sebelah kirinya, tampaknya juga memikirkan hal yang sama seperti Eugeo, saat ia melihat wajahnya yang pucat karena shock dan ketakutan.
Namun, ia, yang tidak tahu arti menyerah, melirik Eugeo dengan mata yang mempertahankan kilau mereka dan diam-diam menggerakkan bibirnya.
«Bacakan». ―Mulailah bacakan.
Memang, mustahil untuk menerobos badai kelopak dari depan. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain selain membelenggu tuannya dengan sihir kontrol penuh Pedang Blue Rose. Alice mengayunkan pedang hanya dengan cengkeramannya ketika kelopak bunga bergerak sebelumnya. Dengan kata lain, itu berarti keumpulan bunga itu tidak dimanipulasi sepenuhnya oleh kehendak tuannya.
Masih terbaring, Eugeo dengan pelan menggosokkan tangan kirinya pada pegangan Pedang Blue Rose dan mulai membacakan sihir kontrol penuh pada volume yang tak bisa didengar. Tak ada lagi yang bisa dilakukan jika Alice mengetahui itu dan menyerang, tapi Kirito pasti akan melakukan sesuatu tentang itu.
Sesuai yang ia prediksi, Kirito bangun dengan gerakan berlebih, saat Eugeo mulai merapal, dan berteriak dengan suara tegang.
"Saya ingin meminta maaf atas perilaku tidak sopan saya terhadap integrity knight yang terhormat! Saya, Pendekar pedang-dalam-pelatihan Kirito, ingin secara resmi meminta kembali, untuk duel menggunakan pedang biasa dengan Integrity Knight Alice!"
Setelah memukul dadanya dengan tangan kanannya dan membungkuk, ia menggenggam pedang di kiri pinggangnya. Pedang hitam legam ditarik keluar dengan suara yang keras dan melengking "jyari" dan diangkat tinggi-tinggi seolah mencoba untuk membagi cahaya keemasan yang menutupi knight menjadi dua.
Alice menatap keras pendekar pedang berpakaian hitam itu dengan mata birunya yang terasa seolah bisa melihat semuanya dan menjawab setelah berkedip sekali.
"―Baiklah, saya akan menguji seberapa jahat hati anda melalui pedang."
Dia dengan pelan mengayunkan pegangan pedang di tangan kanannya. Dengan itu, bunga-bunga emas yang tak terhitung mengambang di sekitarnya berbalik arah ke tangan Alice dengan suara gelombang yang mengalir, meninggalkan beberapa kesenjangan karena mereka menyatu di depan pegangan pedang. Sebuah suara logam "jyakin" terdengar dan serpihan bergabung, kembali ke bentuknya sebagai long sowrd emas.
Menghadap Alice, yang menempatkan pedang ke posisi tengah dengan gerakan anggun dan mencoba untuk maju seperti itu, adalah Kirito, yang mempersiapkan pedangnya dalam posisi yang lebih rendah; ia berbicara padanya sekali lagi.
"Salah satu dari kita pasti akan jatuh setelah bertarung, jadi saya mohon Anda untuk memberitahu satu hal terlebih dahulu. Saya yakin bahwa pohon di atas bukit sebelumnya adalah bentuk instrumen suci anda di zaman lampau, tapi mengapa pohon kecil seperti itu memiliki kekuatan sehebat itu?"
Jelas itu sebuah pertanyaan untuk mengulur waktu, tapi Kirito sungguh ingin tahu misteri di balik sihir kontrol penuh pedang emas itu, mungkin. Tentu saja, itu Eugeo sangat tertarik juga. Dia menajamkan telinganya sambil terus membaca.
Alice berdiri diam setelah mengambil tiga langkah ke depan. Dia terus diam selama beberapa waktu, dan kemudian menggerakkan bibirnya.
"Tidak ada gunanya menceritakan hal ini pada kalian yang akan mati, tapi ... saya kira itu bisa berfungsi sebagai pengalihan di jalan ke Dunia Surgawi. Instrumen suci saya bernama, «Fragrant Olive Sword». Seperti namanya, itu adalah pohon zaitun harum tanpa aspek yang tidak teratur."
Zaitun harum adalah pohon berukuran kecil yang menghasilkan bunga kecil berwarna oranye di musim gugur. Itu jarang tumbuh secara alami di daerah sekitar Rulid, tapi jika ia mengatakannya, ia telah melihatnya berkali-kali di ibukota. Itu tidak bisa dikatakan sebagai pohon yang langka, seperti Gigas Cedar yang hanya ada satu di dunia.
"Ya, itu hanya sebuah pohon kecil seperti yang Anda katakan. Kecuali itu satu-satunya yang telah hidup selama itu. ―Tempat yang menjadi tempat dibangunnya Katedral Pusat ini adalah «Tanah Awal» yang diberikan kepada manusia oleh Dewi Penciptaan Stacia pada zaman dahulu. Sebuah musim semi yang indah muncul di jantung desa kecil itu dan satu zaitun harum tumbuh di sana ... atau seperti itulah yang bab pertama katakan dalam catatan penciptaan. Pohon itu adalah bentuk asli dari pedang saya. Saya harap Anda mengerti; Fragrant Olive Sword ini adalah eksistensi alam tertua di Dunia Manusia."
"Ap ... apa yang anda ..."
Dibandingkan dengan Kirito yang heran, Alice melanjutkan kata-katanya tanpa emosi.
"Pedang ini adalah bentuk reinkarnasi dari pohon yang diberikan hidup oleh dewi. Atributnya adalah «keabadian abadi». Bahkan satu dari kelopak itu bisa membelah batu yang disentuh atau menghancurkan tanah ... seperti yang Anda rasakan dengan tubuh Anda sendiri sebelumnya. Apa Anda mengerti hal apa yang sebenarnya telah Anda tantang?"
"... Ya, saya benar-benar memahaminya."
Kirito terus berbicara dengan nada formal.
"Jadi begitu, itu adalah objek abadi pertama yang dibuat oleh dewi ... jadi itu, huh. Ya ampun, hal-hal yang datang pada kami semakin dan semakin konyol saja ... karena itu, saya tidak boleh terpesona terus-menerus."
Kirito perlahan mengayunkan pedang hitam, yang mungkin jauh lebih rendah daripada Fragrant Olive Sword walau mereka memiliki asal yang sama, ke sudut atas dan berteriak.
"Nah, Integrity Knight Alice ... mari kita mulai pertandingan kita lagi!"
Udara berguncang saat pendekar pedang berpakaian hitam menendang tanah. Ia menyerang Alice, yang berdiri di atas bukit, dengan kecepatan yang membuatnya sulit untuk dipercaya bahwa dia sedang menanjak.
Terlepas dari bagaimana konyolnya pedang Alice, Kirito pasti berpikir bahwa ia bisa mendapatkan keuntungan jika ia mengeluarkan skill serangan berturut-turut dalam pertarungan jarak dekat. Fanatio bisa menahan serangan berturut-turut berkecepatan tinggi dalam pertarungan sebelumnya karena dia mempelajarinya sendiri; dia seharusnya pengecualian di antara integrity knight.
Seperti yang Kirito dan Eugeo prediksi, Alice dengan patuh mengangkat pedangnya ke atas melawan tebasan ke bawah Kirito. Dia tidak akan mampu menjaga tengah tubuhnya ketika tebasan ke bawah terhubung ke satu serangan tengah dengan kecepatannya.
Pedang yang Kirito ayunkan berubah menjadi petir hitam dan bertabrakan dengan Fragrant Olive Sword, menghamburkan bunga api putih kebiruan.
Namun, itu tidak segera berlanjut ke serangan kedua sesuai teoritisnya.
Bagaimanapun, dibandingkan dengan bagaimana pedang Alice yang hampir tidak bergerak, Kirito, yang menyerang, tertolak kembali dengan kuat seperti dia memukul batu besar dengan ranting, menghancurkan sikapnya.
"Uoah ..."
Beralih ke Kirito yang kehilangan keseimbangan dan terhuyung selama dua, tiga langkah, Alice mendekat dengan gerak kaki semulus aliran yang mengalir.
Bahkan jari-jari di tangan kiri terulurnya itu menunjuk keluar. Tubuhnya merentang lebar, pedang emasnya terangkat lurus di belakang. Itu adalah gaya tradisional yang tidak bisa dikatakan cocok untuk pertarungan yang sebenarnya tidak seperti gaya Aincrad, tapi penampilannya ketika digabungkan dengan rambut emasnya yang mengalir dan roknya yang berkibar terlihat anggun seperti sebuah lukisan berbingkai.
"Eeeh!"
Pedang menarik setengah lingkaran saat itu melancarkan serangan bersama dengan teriakan yang melengking dan jelas. Kecepatannya menakutkan. Tapi gerakan itu terlalu berlebihan.
Setelah memulihkan sikapnya, Kirito punya cukup waktu untuk menempatkan pedangnya di kirinya.
Gakaan! Dua pedang bertabrakan dengan suara keras.
Yang berputar seperti gasing selagi terlempar kali ini adalah Kirito lagi. Menekan tangannya ke rumput, ia nyaris jatuh saat meluncur ke dasar bukit.
Pada tahap ini, Eugeo juga akhirnya memahami apa yang terjadi di depan matanya.
Berat di balik serangan mereka berada di tingkat yang sama sekali berbeda.
Kirito yang memegang pedang hitam, memiliki prioritas yang bisa dibilang tinggi di antara instrumen yang paling suci dan skill serangan berturut-turut Aincrad-style yang mengalahkan banyak integrity knight, tapi Fragrant Olive Sword yang Alice pegang mungkin menyembunyikan berat yang beberapa kali lebih besar dari pedang hitam. Tugas yang cukup sulit untuk menghentikan serangannya, apalagi mengalahkannya, ketika berayun pada kecepatan seperti itu.
Tidak, itu bukanlah akhirnya. Seperti yang diperlihatkan oleh pertarungan awal, Kirito adalah orang yang terpukul mundur meski ia yang menyerang. Hal ini tidak akan bisa disebut dengan pertarungan.
Kirito sepertinya telah menyadari fakta itu dan dengan cepat berdiri, meski ia mengambil beberapa langkah mundur dengan ekspresi ketakutan. Alice mengejar seolah dia sedang meluncur.
Pertempuran berikutnya bisa dikatakan sebagai pertempuran pertama Kirito dalam dua tahun yang bertipe serangan sepihak.
Alice melancarkan tebasan demi tebasan dengan gaya seperti menari. Kirito mencoba yang terbaik untuk menahannya tapi ia terus-menerus terdorong mundur. Dia akan memiliki kesempatan untuk menyerang balik jika ia menghindar hanya dengan menggeser tubuhnya, tapi pedang Alice amat sangat cepat dengan bidikan yang luar biasa tepat meski ukurannya besar dan kuat, sehingga sangat sulit untuk menghindarinya dengan bersih.
Selesai membacakan ritual sihir bahkan ketika gemetar ketakutan, Eugeo mengejar keduanya yang terus bergerak. Dengan hal-hal yang telah berjalan sejauh ini, ia tidak punya pilihan selain mengaktifkan sihir kontrol penuh persenjataan saat Kirito mengambil serangan entah bagaimana.
Setelah hanya lima kali saling serang dan bertahan, Kirito sudah terdorong ke dinding barat. Di belakangnya adalah marmer solid dengan semua rute pelarian yang dipotong.
Mengarahkan pedangnya pada musuh, yang sekarang terjebak dalam keadaan sulit, Alice berbicara dengan ekspresi menyegarkan.
"Jadi begitu. ―Anda adalah orang kedua yang bisa menahan serangan saya selama ini. Tampaknya Anda telah naik menara ini dengan tingkat tekad dan kepercayaan yang kuat. Namun ... itu sama sekali tidak cukup untuk mempengaruhi gereja. Seperti yang saya pikir, saya tidak bisa membiarkan kalian berdua untuk membuat marah pengatur Dunia Manusia."
Postur berdiri knight emas itu tidak menunjukkan pembukaan. Dia mungkin bisa langsung menahan ritual sihir Eugeo, walau ia berada di belakangnya.
Kirito―katakan sesuatu. Momen sesaat juga tidak apa-apa, buatlah penjagaannya menurun.
Eugeo berdoa dengan segala yang dia miliki saat ia berlari, tetapi partnernya hanya menyandarkan punggungnya ke dinding marmer, kedua matanya berkilauan, dan tidak berusaha untuk mengeluarkan satu katapun.
"Baiklah―persiapkan diri anda."
Fragrant Olive Sword menelusuri sudut saat itu menunjuk langit, dipegang secara vertikal.
Keheningan sesaat.
Robek melalui udara, cahaya keemasan meluncur turun.
Kedua matanya terbuka hingga batas, Kirito menggerakkan tangan kanannya begitu cepat hingga terlihat kabur.
Sebuah suara logam yang melengking. Sebuah bunga api yang beruntun.
Dia tidak menerimanya, tapi membiarkannya mengalir lewat. Pedang melakukan kontak pada sudut yang serendah mungkin dan serangan luar biasa berat Alice dihindari dengan jarak yang sangat kecil.
Apa yang Fragrant Olive Sword tembus adalah benda yang berada satu cen di kiri kepala Kirito, dinding marmer halus. Rambut hitam yang terpotong tersebar ke udara dan menghilang.
Kirito segera melompat ke Alice. Dia mengunci tangan kanan knight dengan tangan kirinya dan tangan kirinya dengan tangan kanannya. Dia tidak bergetar sedikit pun sampai sekarang, tapi pipi Alice tetap berkedut seperti sebelumnya.
―Sekarang.
"Tingkatkan persenjataan!!"
Eugeo menusuk Pedang Blue Rose ke rumput di kakinya dengan teriakan itu.
Lingkungannya membeku putih hanya dalam sekejap. Gelombang beku mengalir dengan kekuatan cepat, menelan Kirito dan Alice sekitar sepuluh mel.
Tak terhitung es sulur segera melilit kaki keduanya. Semuanya menjadi belenggu biru cerah saat mereka melingkar dan memintal tubuh keduanya yang menyatu.
Pakaian hitam Kirito dan armor putih Alice tertutupi oleh lapisan es tebal.
Kirito―Alice, maafkan aku!
Berteriak di dalam hatinya, Eugeo terus menciptakan sulur es. Itu meragukan apakah jumlah belenggu itu akan cukup untuk menahan Integrity Knight Alice sebagai target.
Sulur yang terus memintal satu demi satu dengan suara kaku segera berubah menjadi es tebal tunggal.
Pilar transparan dengan beberapa lapisan, yang menyerupai bijih kristal, diam-diam berkilauan dengan kedua pendekar pedang yang terjebak di dalamnya. Yang berada di luar adalah tangan kanan Alice dan Fragrant Olive Sword yang ia pegang, menusuk ke dinding. Ekspresi Alice, yang menunjukkan sedikit terkejut, dan ekspresi Kirito, yang siap untuk kematian, tetap ada di dalam es biru.
Semuanya akan berakhir dengan menusukkan belati ke lengan itu.
Eugeo memisahkan tangannya dari Pedang Blue Rose dan berdiri. Melepaskan pedang akan melepaskan sihir kontrol penuh, tapi es tebal pasti membutuhkan waktu puluhan menit untuk mencair secara alami. Dengan kuat mencengkeram belati di saku dengan tangan kanannya, ia mengambil satu, dua langkah ke depan―
Dia mengambil langkah ketiga saat cahaya keemasan meledak.
"Ah ......"
Pedang Alice, yang menusuk ke dinding, terbagi menjadi kelopak bunga yang tak terhitung jumlahnya dalam pandangan ketakutan Eugeo.
Zaa ... Kord mengerikan itu bergaung saat badai bunga emas menelan es tersebut.
Eugeo hanya bisa melihat dalam keadaan linglung saat pedang salib kecil berputar seperti tornado, dengan cepat menghancurkan es. Nyawa Eugeo mungkin akan habis jika ia terjun langsung ke pusaran itu, bahkan sebelum mengambil satu langkah maju.
Menghancurkan es, badai bunga melambung di udara setelah hanya menyisakan lapisan tipis.
Es tersebut segera hancur dengan suara singkat.
Melempar Kirito, yang masih memegangnya, pada Eugeo dengan tangan kirinya, Alice berbicara dengan nada yang tetap acuh tak acuh sambil mengibas serpihan es yang menempel pada rambutnya.
"―Bukannya kalian berdua meminta kontes skill dengan pedang? Tadi memang sedikit menghibur, tapi ... itu jelas bahwa es biasa tadi tidak memiliki kesempatan untuk menahan bunga saya. Giliran anda akan terjadi nanti, jadi persipkan diri anda dan tunggulah."
Ketika dia dengan ringan mengulurkan tangan kanannya, kelopak bunga yang melayang di atas langsung berkumpul dan membentuk pedang kembali―
"Tingkatkan persenjataan!!"
Kiritolah yang berteriak.
Tidak ada yang tahu kapan dia selesai membacakan sihir kontrol penuh, tapi helai kegelapan menyembur keluar dari pedang hitam yang dipegang di kedua tangannya.
Tujuannya bukan hanya Alice―
Itu adalah Fragrant Olive Sword yang tepat sebelum bergabung bersama-sama.
"Eh ...!"
Alice mengeluarkan suara terkejut untuk pertama kalinya.
Aliran kegelapan menyebarkan kelopak bunga yang tak terhitung jumlahnya dan melemparkannya keluar dari kontrol.
Guaaah! Sebuah suara gemuruh membelah telinganya seiring prahara campuran antara hitam pekat dan emas, meledak dengan keras. Mereka saling menyatu, berputar bersama-sama, dan menabrak dinding marmer di belakang Alice.
"Eugeo――!!"
Kirito berteriak.
Benar. Ini, jelas, kesempatan terakhir.
Eugeo menarik belati dari dadanya dan menendang tanah.


Hanya delapan mel menuju Alice.
Tujuh mel.
Enam mel.
Kemudian. Sesuatu di luar harapan semua orang terjadi.
Aliran kuat yang abnormal muncul oleh gabungan sihir kontrol penuh dari kedua instrumen suci, memukul dinding Katedral Pusat dan retakkan yang tak terhitung jumlahnya menyebar di atasnya.
Seiring dengan raungan yang tampaknya bahkan mengguncang Dunia Surgawi, marmer besar―dinding putih itu, yang dianggap tidak bisa dipecahkan seperti «dinding abadi», runtuh.
Blok batu terlempar keluar dan lubang yang muncul dengan cepat melebar di depan matanya.
Eugeo menatap langit biru dan lautan awan putih yang mengintip dari luar, dengan terperangah.
Sebuah embusan keras tiba-tiba menyerang Eugeo dari belakang dan dia dipaksa terjatuh ke rumput. Udara di dalam menara sedang tersedot keluar melalui lubang di dinding. Alice dan Kirito yang berdiri tepat di sebelah lubang tidak bisa berbuat apa-apa selain menahan banjir udara itu.
Pemandangan dari pendekar pedang berpakaian hitam dan knight emas yang bertabrakan satu sama lain dan terlempar dari menara terpaku dalam mata Eugeo.
"Uwaaaaah!"
Sambil berteriak, Eugeo merayap menuju lubang di dinding.
Apa yang bisa kulakukan―membuat tali dengan sihir suci―tidak, aku akan menggunakan es dari Pedang Blue Rose untuk menyelamatkan mereka―
Dia tidak diberi waktu untuk menempatkan pikiran itu ke dalam tindakan.
Batu-batu yang membentuk dinding marmer yang seharusnya jatuh di luar berkumpul seolah waktu telah berputar ulang dan mulai bergabung bersama di seluruh dinding.
Clung, clung, suara mereka terdengar membosankan setiap kali lubang menutup―
"Aaaaaah!"
Dan dengan pas tertutup di depan mata Eugeo, jeritan keluar darinya saat dia bergegas lari secepat yang dia bisa, seolah tidak ada yang benar-benar terjadi.
Dia tergesa-gesa memukul tinjunya. Dua kali; tiga kali.
Bahkan setelah kulitnya pecah dan darahnya menyembur keluar, dinding yang memulih tetap tak bisa dihancurkan, tidak menunjukkan satu tanda kerusakan.
"Kirito――!! Alice―――!!!"
Marmer putih dan kaca itu dengan kejam menghentikan jeritan Eugeo.


(Bersambung)

Credits
Translation – Tap

Penerjemah Bahasa Indonesia
Arifin21
Always be sure to click Like Joker Kahn Facebook Fan Page to find out latest update about Live Action Movies, Tokusatsu, Anime and Light Novel fans of genre Action that we found